Oleh Min Qurin Amaliya Qoria, S.Pd.
Park Jinwoo adalah seorang murid pindahan dari Seoul, Ibukota Korea Selatan. Di kelas ada kerja kelompok yang mana dibagi menjadi dua kelompok, kelompok Joon Gyu membuat peta hasil panen desa sementara kelompok Danbi membuat peta pepohonan desa. Karena kelompok Danbi kurang satu orang, Bu Guru menyuruh Park Jinwoo untuk bergabung di kelompok Danbi.
Park Jinwoo tidak menyukai olah raga, terlihat ketika anak laki-laki yang duduk semeja dengannya ingin bermain dodgeball pada saat jam olahraga. Tapi hari ini ada peringatan ozon, jadi mereka tidak bisa beraktivitas di luar ruangan.
Peringatan ozon adalah peringatan tentang meningkatnya ozon di udara dan berbahaya bagi manusia sehingga kita harus berhati-hati. Akhir-akhir ini cuaca sering berubah dan udara tidak bersih, ujar Bu Guru menjelaskan dengan proyektor. Kemudian Suho bertanya, apakah ozon itu sesuatu yang buruk Bu?
Ozon menjadi berbahaya apabila terhisap dan masuk ke paru-paru. Ozon terbuat dari polutan udara yang terkena sinar matahari. Sebaliknya, lapisan ozon di atsmosfer melindungi kehidupan dari radiasi sinar ultraviolet. Anak-anak terkejut mendengar penjelasan Bu Guru, seketika mereka menutupi hidung dengan tangannya.
Polutan udara disebabkan oleh asap kendaraan, asap pabrik, dan batu bara dari pembangkit listrik. Karbondioksida adalah gas yang dibutuhkan tumbuhan untuk melakukan fotosintesis. Tapi apakah Karbondioksida juga disebut polutan udara? tanya Danbi, Ibu Guru menjawab pertanyaan Danbi. “Karbondioksida memang dibutuhkan tumbuhan untuk melakukan fotosintesis, tapi akan berbahaya jika terlalu banyak, sehingga bisa menyebabkan efek rumah kaca. Efek rumah kaca adalah proses naiknya suhu bumi yang disebabkan oleh perubahan komposisi atmosfer sehingga sinar matahari tertahan di permukaan bumi, dan tidak bisa dipantulkan keluar atmosfer”.
Pulang sekolah Danbi memanggil teman-teman sekelompoknya, karena besok hari Sabtu ayo kita pergi ke gunung Jangsu. Jinwoo merasa takut kalau harus naik gunung karena Jinwoo punya penyakit asma, sehingga Jinwoo beralasan akan mencari data lewat internet. Akan tetapi Suho merasa jengkel dan berkata “Tapi ini tugas kelompok harus dilakukan bersama, selain itu kita juga bisa saling akrab”. Jinwoo tidak bisa mengelak dan akan ikut pergi setelah mendapat izin dari ibunya terlebih dahulu.
Saat Jinwoo sampai di rumah, dia tahu bahwa ibunya pasti di kebun, kemudian dia pergi ke kebun, Jinwoo melihat Joon Gyu sedang bertanya kepada ibunya. Sepertinya Joon Gyu sudah mulai membuat peta hasil panen desa. Setelah Joon Gyu pergi, lalu ibu Jinwoo mendekati Jinwoo dan bertanya, “Kamu juga akan presentasikan? ” iya, jawab Jinwoo lemas, dia tidak punya pilihan selain ikut naik gunung.
Keesokan harinya, anak-anak berkumpul di lapangan olahraga sekolah. Bu Guru sudah membagikan peta desa, coba lakukan pengamatan tentang tempat tinggal kita secara cermat. Ikuti peta itu dan hati-hati di jalan. “Baik Bu Guru, jangan khawatir,” ucap Suho. Gunung Jangsu bukan gunung yang tinggi, hanya dibutuhkan 3 jam untuk menaiki dan menuruni gunung tersebut. Singkat perjalanan, akhirnya mereka sampai di dekat area Batu Jendral dan ada sebuah gubuk kecil. Saat duduk di gubuk itu pemandangan desa di bawah mereka terlihat sangat indah. “Kalian lihat di sana? Itu adalah pabrik tempat ayahku bekerja,” kata Suho sambil menunjuk pabrik tersebut. Dari cerobong asap pabrik, terlihat asap membumbung tinggi.
Tiba-tiba Suho melompat turun ke jalan di depan gubuk. Dia teriak sambil menunjuk. “Danbi! Jinwoo! Coba kesini. Suho menunjuk daun pohon cemara yang terlihat menguning dan layu. Sepertinya pohon cemara ini akan mati. Ayo, kita lihat”. Setelah mengamati sekeliling pohon cemara, Danbi dan Suho juga menemukan keanehan pada daun terlihat ada bintik-bintik putih, selain itu ada lumut yang menempel di batang pohon. Suho memasukkan beberapa daun ke dalam kantong plastik. Ini akan kita perlihatkan kepada Bu Guru. Ayo, kita turun kata Suho sambil memasukan kantong plastik ke dalam tas. “Sebelum pulang kita harus menyelesaikan penelitian kita dulu,” tambah Jinwoo.
Hari Senin tiba, anak-anak di kelas membicarakan udara di desa yang semakin kotor dan beberapa pohon di sepanjang sisi jalan juga terlihat tidak segar, setelah itu Bu Guru membawa sampel daun yang dibawa Suho untuk penelitian. Beberapa saat kemudian Bu Guru kembali ke kelas menunjukkan tabung plastik sebesar jari tangan kepada anak-anak. Ini adalah kapsul sampel berisi polutan udara. Buka penyumbat karet bagian bawah dan letakkan di atas tempat yang ingin dilakukan penelitian. Setelah 1 hari, analisis udara di dalam kapsul dengan mengukur kandungan Nitrogen Dioksida yang menyebabkan hujan asam. Jadi kalian bisa melihat seberapa tercemar udara itu.
Beberapa hari kemudian, saat Ibu guru akan memulai kelas, ponselnya berbunyi, ada kabar kalau Nitrogen Dioksida di area pabrik hasilnya 80 ppb. Bu Guru kemudian meminta detail informasinya lewat email. Setelah menutup telepon, wajah Bu Guru nampak cemas. Keesokan harinya Bu Guru pergi ke pabrik sambil membawa laporan hasil pengecekan dari labolatorium penelitian. Ibu guru pergi menemui para tetua dan menceritakan seluruh kebenarannya kalau pabrik itu menyebabkan polusi udara.
Keesokan harinya, orang-orang desa berkumpul di depan pabrik. Pemilik pabrik segera keluar dan berteriak. “Apa yang kalian lakukan di sini? Jika kalian menggangu pekerjaan pabrik, saya tidak akan tinggal diam”. Tidak lama kemudian, polisi datang pemilik pabrik ditangkap untuk penyelidikan lebih lanjut.
Di sekolah, akhirnya hari presentasi tiba dan akan segera dimulai. Warga Desa Haenuri berdatangan seolah-olah ada acara festival. Ibu Jinwoo dan ayah Suho juga datang menonton. Setelah kelompok Joon Gyu selesai presentasi. Warga desa memuji peta hasil panen yang dibawakan oleh kelompok Joon Gyu. Tepuk tangan warga sangat riuh membuat susasan jadi ramai.
Sekarang giliran kelompok Danbi yang akan mulai presentasi, Jinwoo yang akan melakukan presentasi terlihat tegang, berkeringat, dan dadanya berdenyut kencang. Jinwoo melihat bahan presentasinya sekali lagi. Saat Ibu Guru memanggil namanya. Tepuk tangan meriah menyambutnya. Jinwoo menarik nafasnya dalam-dalam dan bangun dari tempat duduknya dan mulai presentasi.
Amanah :
Kita harus selalu menjaga lingkungan, agar mengurangi polusi udara yaitu dengan cara :
- Banyak menanam pohon atau tumbuhan hijau
- Jika pergi dengan jarak dekat kita bisa jalan kaki atau bersepeda
- Apabila terdapat pabrik sebaiknya, pabrik melakukan penjernihan udara
- Mengurangi pembakaran bahan bakar fosil
- Tidak merusak hutan
Identitas buku
Judul buku : Selamatkan Bumiku: Awas, Bahaya Polisi Udara!
Pengarang : Kim, Goun Mae
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit : 2018
Tebal halaman : 60
ISBN : 978-602-455-710-2

