Oleh Ainun Dyan Suttie P, S.Pd
Buku ini karya dari Tim kreatif Semut Merah 75 yang dipimpin oleh Wenny Artha Lugina. Buku ini berisi tentang motovasi – motivasi dari beberapa narasumber yang mana semuanya merupakan pelajar Indonesia yang sedang study di luar negeri.
Ade Irma Elvira menyakini bahwa restu Ibu adalah Ridho Allah, dan keberangkatannya ke Rusia yang tidak disetujui oleh Ibunya juga karena Allah. Dua tahun yang lalu Ade ingin melanjutkan study ke Rusia namun ditentang oleh Ibunnya. Mulai dari jarak yang jauh dari Indonesia, segi ekonomi Abahnnya yang hanya pensiunan PNS. Semua alasan itu ia tampung dengan rendah hati tapi ia juga tetap mengikuti tes masuk universitas di Rusia.
Tes demi tes ia lalui hanya dengan restu dari Ayahnya. Hingga semua yang ia impikan terkabul, Ade diterima di Master Pertanian Jurusan Agroekologi dan Agrokimia Rusia State Agriculture University, Moskow Timiryazev Academy.
Ahmad Faris pelajar dari Universitas Ankara Turki mengatakan bahwa ada tiga unsur penting yang harus kita lakukan ketika menempati tempat baru; alam, manusia, dan kulinernya. Tiga hal yang membuat perjalanannya menempuh kuliah menjadi indah, ceria, atau kadang syahdu.
Andi Liza Patminasari pelajar Indonesia yang bisa kuliah di Perancis dengan menjadi asisten domestik atau dengan bahasa Perancis disebut Au pair girl. Yang biasanya bertugas sebagai baby sister, asisten rumah tangga. Walaupun sebagian besar waktunya digunakan untuk bekerja, namun au pair girl disini diwajibkan untuk mengikuti sekolah bahasa setempat sebagai bentuk pertukaran budaya dan pengalaman bahasa.
Liza bekerja dengan keluarga Perancis di sebuah kota kecil di selatan Perancis, Narbone dekat Laut Mediterania. Ia datang ke Perancis bermodalkan bahasa yang minim namun disana ia langsung diberikan tugas untuk berbelanja kebutuhn rumah tangga yang mengharuskannya belajar dan bertanya kepada pekerja toko tentang daftar belanjannya. Hal itulah yang membuatnya semangat karena dengan begitu vocabulary yang ia dapatkan amat sangat bermanfaat untuk kemudian hari. Dia juga bekerja di toko meubel keluarga Perancis. Disini bukan pekerjaan mudah bagi Liza karena ia diharuskan bisa membaca bon pemesanan dengan kode- kode barang tertentu. Membungkus kardus barang dengan plastik film dan melapisi dengan perekat semua agar tidak sama dengan barang lainnya. Yang paling menantang adalah mengendarai mini bus untuk mencari rumah pemesan barang tersebut.
Cahrolinda, seorang lulusan cumlaude dari universitas ternama yang mempunyai cita- cita ingin melanjutkan study ke luar negeri namun bimbang karena ia harus menjadi tulang punggung keluarga menggantikan ayahnya yang sudah pensiun dan membantu sekolah adiknya. Sampai akhirnya ia menjadi CPNS di sebuah instansi pemerintahan di Depok. Namun ia tidak menyerah, belajar autodidak dari buku SMA agar mengasah kemampuan bahasa Inggrisnya karena tidak mampu mengikuti kursus bahasa. Melalui beasiswa Eramus Mundus ia mencari tahu universitas impiannya. Sambil dengan memperdalam kemampuan bahasa Inggrisnya akhirnya ia diterima sebagai PNS yang akhirnya mempertemukannya dengan banyak lulusan dari ADS. Sementara persiapan menikah berbarengan dengan tes beasiswa ADS.namun tes yang diikuti gagal. Namun itu tidak menyurutkan niatannya dan suami untuk mengikuti tes selanjutnya. Dan akhirnya mereka berdua lolos dengan bersamaan di University of Canberra.
Dewa Gede Sudeka Mangku, pelajar dari Universitas Malang yang mempunyai kesempatan untuk mengikuti tes beasiswa bertajuk Civid Education yang berlatar belakang ilmu hukum di Hawaii, Amerika Serikat. Meneurut Dewa melalui beasiswa 2012 ini, mimpi yang ia pendam sejak tahun 2003 telah terwujud melalui tangan- tangan Tuhan. Ia selalu berdoa dan dibarengi kerja keras akhirnya mimpi itu terkabul dan juga dapat bertemu dengan Maya adik tiri dari Presiden Barack Obama.
Faqih Ahmad, yang meninggalkan kekasihnya di Indonesia demi melanjutkan studinya di Universitas Ahgaff di Yaman. Ia tak pernah memberi kabar bukan karena ia punya yang lain melainkan di sela- sela kuliahnya ia dan teman- temannya mengunjungi tempat- tempat Mukalla. Yang harus melihat teman- teman seperjuangannya gugur karena nilai mereka turun drastis dan mengharuskannya giat belajar agar nasibnya tidak seperti teman- temannya yang harus pulang ke negara asalnya.
Gianluigi Grimaldi Maliyar, seorang mahasiswa di Negeri Matahari Terbit Jepang ini mendapatkan kesempatan untuk pulang kampung yang jarang didapatkan. Mahasiswa yang dulunya tidak mau menjadi profesor atau ilmuwan tetapi jalan yang ia tempuh sekarang menjurus ke situ. Merasa apa yang dilakukannya adalah sikap bodoh yang jauh berbeda dengan impiannya dulu.
Wenny Artha Lugina, seorang wanita yang berusia 23 tahun adalah merupakan sosok yang semangat, ceria, cerdas dan mempunyai kehidupan yang sangat menyenangkan. Salah satu mahasiswa yang diterima di Universitas Peking di Beijing China. Wenny yang mendapatkan masalah pembayaran kuliah dan harus dibantu KBRI untuk memintakan keringanan ke kampusnya.
Di China pelayanan untuk orang asing sangatlah minim, itu terlihat ketika handphone Wenny hilang di sebuat toko dan wajah pencuri pun sudah terekam oleh CCTV yang kemudian juga muncul data – data dari sang pencuri tersebut tapi pihak polisi tidak bisa membantu karena masalah ini kecil dan tidak penting bagi mereka.
Inilah sepenggal cerita dari beberapa anak Indonesia yang telah mewujudkan impian mereka untuk bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri dengan berbagai kisah – kisah menarik dibaliknya. Buku ini membuka mata kita bagaimana jerih payah menuntut ilmu di negeri orang dengan segala keterbatasan mereka.
Jangan takut bermimpi karena mimpi akan membuka jalan kita menuju kesuksesan yang abadi, jangan lupa berjuang dan berdoa.
Keunggulan buku : Buku ini sangat memberikan motivasi bagi para pelajar Indonesia agar berani dan percaya diri untuk melanjutkan studinya ke negara lain.
Judul : Semut Merah 75
Pengarang : Wenny Artha dan Tim
Penerbit : Galang Pustaka
Tahun terbit : 2013
Tebal halaman : 248 Halaman
Penulis adalah guru Bimbel Gugusan Bintang YKIB

