*Oleh Eka Kurnia Mareta, A.Md.
Gaya hidup modern yang serba cepat sering kali mendorong manusia untuk terus membeli dan menumpuk barang. Tanpa disadari, kebiasaan tersebut justru menimbulkan stres, kekacauan, dan ketidakpuasan hidup. Melalui buku Seni Hidup Minimalis, Francine Jay menjelaskan bahwa masalah utama dalam kehidupan modern bukanlah kekurangan, melainkan kelebihan, terlalu banyak barang, terlalu banyak keinginan, dan terlalu banyak distraksi. Penulis menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari kepemilikan materi, melainkan dari kebebasan dan kesadaran diri. Buku ini disusun secara sistematis, dimulai dari pembahasan tentang dampak negatif penumpukan barang, seperti rumah yang berantakan, sulit fokus, dan tekanan mental. Selanjutnya, penulis memperkenalkan prinsip hidup minimalis dengan mengajak pembaca untuk memilah barang berdasarkan fungsi dan nilai, bukan sekadar keinginan sesaat.
Buku ini terbagi ke dalam empat bagian utama. Bagian pertama membahas pembentukan pola pikir minimalis sebagai dasar dalam menjalani hidup yang lebih sederhana. Pada bagian kedua, penulis menguraikan berbagai langkah untuk memulai gaya hidup minimalis melalui metode STREAMLINE. Metode ini mencakup langkah start over atau memulai dari awal, trash, treasure, or transfer yang berarti memilah barang untuk dibuang, disimpan, atau diberikan kepada orang lain, reason for each item yaitu mempertanyakan alasan keberadaan setiap barang, everything in its place yang menekankan pentingnya menempatkan barang pada tempatnya, serta all surfaces clear agar permukaan ruang tetap bersih dan tidak dipenuhi barang.
Selain itu, metode STREAMLINE juga mencakup pengaturan ruang melalui konsep Modules, penetapan batas kepemilikan melalui limits, penerapan prinsip if one comes in, one goes out atau satu barang masuk harus diikuti satu barang keluar, penyederhanaan melalui narrow down, serta everyday maintenance sebagai upaya menjaga keteraturan secara berkelanjutan.
Bagian ketiga buku ini membahas cara mengatur ruangan agar tidak terasa sesak akibat terlalu banyak barang. Sementara itu, bagian keempat menjelaskan penerapan hidup minimalis beserta manfaatnya, baik bagi kehidupan pribadi maupun bagi lingkungan sekitar. Penulis menekankan pentingnya memilah dan memilih barang berdasarkan nilai guna, kebutuhan, dan maknanya. Setiap barang perlu dipertanyakan kembali keberadaannya, jika tidak memiliki nilai dari ketiga aspek tersebut, maka sebaiknya dilepaskan. Namun, sebuah barang baru dapat dikatakan berguna apabila benar-benar digunakan. Kebiasaan yang sering terjadi adalah menyimpan banyak barang yang berpotensi berguna, tetapi tidak pernah dipakai. Oleh karena itu, langkah awal hidup minimalis dapat dimulai dengan kembali mengenal dan mengevaluasi barang-barang yang dimiliki.
Membaca buku Seni Hidup Minimalis memberikan sudut pandang baru tentang cara menjalani kehidupan sehari-hari. Buku ini mengajarkan pembaca untuk menemukan kebahagiaan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan dengan cara mengurangi kepemilikan barang. Buku ini sangat relevan bagi mereka yang memiliki kebiasaan berbelanja secara impulsif tanpa mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya sekadar keinginan.
Selain itu, penulis juga menyajikan berbagai tips untuk membantu pembaca menahan diri dari godaan membeli barang baru, terutama ketika masih banyak barang lama yang belum dimanfaatkan. Buku ini dapat dibaca oleh berbagai kalangan usia dan cocok dijadikan bacaan bersama anggota keluarga. Dengan membaca buku ini secara bersama-sama, kesadaran dan kerja sama untuk menerapkan gaya hidup minimalis di lingkungan keluarga dapat terbangun.
Buku ini juga nyaman dibaca dalam berbagai situasi, baik saat bepergian maupun ketika bersantai sambil menikmati waktu luang. Oleh karena itu, Seni Hidup Minimalis sangat direkomendasikan bagi orang-orang yang gemar berbelanja dan ingin mulai menerapkan gaya hidup yang lebih sederhana dan terarah.
Berikut ini beberapa kutipan favorit saya dalam buku ini:
Hidup ini terlalu singkat untuk disibukkan dengan barang-barang. Ketika menginjak usia senja, bukan barang itu yang akan memberikan asupan kepada jiwa kita, melainkan jeda di antaranya. (halaman 34)
Menumbuhkan sikap penuh rasa syukur sangat berguna dalam cara hidup minimalis. Jika bisa melihat bahwa hidup kita tidak kekurangan dan bisa menghargai yang sudah kita punya, kita tidak akan menginginkan apa-apa lagi. (halaman 41)
Setiap barang berlebih yang Anda hapuskan dari hidup Anda sama dengan mengangkat beban dari pundak. (halaman 259)
Kelebihan buku:
Buku ini ditujukan untuk berbagai kalangan, terutama orang dewasa yang ingin mulai menata diri dan menerapkan gaya hidup minimalis. Berbagai kiat yang disampaikan, dijelaskan secara rinci dan dikaitkan dengan situasi kehidupan sehari-hari, sehingga pembaca dapat dengan mudah mempraktikkannya dalam kehidupan nyata.
Melalui buku ini, pembaca diajak memahami bahwa hidup minimalis dapat menumbuhkan rasa syukur, memberikan ketenangan batin, serta menghadirkan dampak positif, baik bagi sesama maupun bagi lingkungan. Dari segi tampilan fisik, buku ini memiliki desain yang menarik dan patut diapresiasi. Perpaduan warna kuning dengan warna netral seperti hitam dan putih menciptakan kesan sederhana namun mencolok. Minimnya ornamen pada sampul depan dan belakang juga mencerminkan konsep minimalisme yang diusung buku ini.
Selain itu, bahasa yang digunakan tergolong ringan dan mudah dipahami, sehingga pembaca dapat menyerap informasi dengan baik. Buku ini tidak hanya bersifat inspiratif, tetapi juga menawarkan berbagai gagasan praktis yang dapat langsung diterapkan, salah satunya dalam menjaga kesehatan mental.
Kekurangan buku:
Secara keseluruhan, buku ini tergolong baik dan mampu membangkitkan motivasi pembaca untuk mulai menata hidup dengan menerapkan gaya hidup minimalis. Namun demikian, buku ini tetap memiliki beberapa kekurangan. Salah satunya terdapat pada bab ketiga, di mana penggunaan bahasa dirasa kurang menarik karena pembahasannya mudah ditebak sehingga menimbulkan kesan membosankan.
Dari segi tata letak, terdapat hal yang perlu mendapat perhatian, yaitu kurangnya penyuntingan pada penggunaan tanda hubung sehingga simbol “–” sering muncul di akhir baris. Hal tersebut cukup mengganggu kenyamanan saat membaca dan seharusnya dapat diperbaiki melalui proses penyuntingan yang lebih teliti. Selain itu, terdapat beberapa ungkapan yang terlalu ditekankan, seperti kalimat “aku sangat suka dengan ide itu”, yang terkesan berlebihan.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Seni Hidup Minimalis merupakan buku pengembangan diri yang inspiratif dan relevan dengan kehidupan masa kini. Francine Jay berhasil menyampaikan bahwa hidup sederhana bukan berarti kehilangan, melainkan memperoleh kebebasan dan ketenangan. Buku ini layak dibaca dan dipublikasikan sebagai referensi bagi pembaca yang ingin menjalani hidup yang lebih sadar, teratur, dan bermakna.
Buku Seni Hidup Minimalis ini sangat cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin mulai menata kehidupannya. Pembahasannya disajikan secara lengkap dan rinci, serta didukung oleh berbagai contoh nyata yang memudahkan pembaca untuk langsung mempraktikkan anjuran yang diberikan. Gaya hidup minimalis tidak hanya mampu memberikan ketenteraman batin, tetapi juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Konsep minimalisme yang diusung dalam buku ini menyadarkan pembaca bahwa penggunaan barang secara bijak dan secukupnya turut berperan dalam menjaga kelestarian bumi, sehingga generasi mendatang dapat menikmati kualitas hidup yang lebih baik. (ykib/nia).
Identitas buku
Judul buku : Seni Hidup Minimalis (The Joy of Less)
Penulis : Francine Jay
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Penerjemah : Annisa Cinantya Putri
Perwajahan sampul : Milla Hidajat
Perwajahan isi : Fajarianto
Bahasa : Indonesia
Tahun terbit : 2018 (edisi terjemahan Indonesia)
Jumlah halaman : 278 halaman
Jenis buku : Nonfiksi / Pengembangan Diri
*Penulis resensi buku adalah Wakil Kepala Kampung Ilmu Padangan

