Septictank

Oleh Yuni Eka Septiana, S.T.

Buku Septictank merupakan buku yang ditulis berdasarkan pengalaman seorang Pandji Pragiwaksono dalam dunia politik. Menurut Pandji, politik merupakan sesuatu yang rumit, penuh kejutan seperti cerita misteri yang tak berujung dan tidak pernah sesederhana seperti yang terlihat. Dalam buku ini diceritakan awal mula seorang Pandji tertarik dengan dunia politik hingga akhirnya menganggap “nyemplung ke kolam politik sama saja seperti nyemplung ke septictank”.

Dunia politik bagi Pandji sedari dulu sudah sangat dekat dengan dirinya. Dimulai dari awal mulanya dia menghasilkan uang Rp 500 dari Ardi Bakrie setelah mengerjakan tugasnya menggambarkan peta Indonesia untuk Ardi Bakrie. Bahkan ayahnya Pandji juga sangat yakin bahwa semua kejadian dalam hidupnya berkaitan dengan politik.

Pandji juga bercerita bahwa politik menyelamatkan kondisi ekonominya yang pada waktu itu memang kurang baik, berkat idenya membuat talkshow bertema politik. Talkshow tersebut diberi judul Provocative Proactive yang tayang di Metro TV. Provocative Proactive merupakan tonggak yang mengantarkannya dari yang tidak tahu politik menjadi tahu. Provocative Proactive membuat Pandji jadi suka membaca berita-berita politik yang sebelumnya selalu dilewati. Hingga akhirnya program Provocative Proactive terkena somasi akibat memberi beberapa usulan nama yang harus dirombak (reshuffle) pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hingga akhirnya program Provocative Proactive tidak bisa tayang kembali.

Pasca Provocative Proactive Pandji sadar bahwa Pemerintah itu butuh ditolong bukan hanya diserang. Akhirnya Pandji mulai aktif membantu dan ikut serta dalam dunia politik. Pandji berpikir bahwa “jika bentuk kolaborasi lebih sering terjadi, hasilnya akan sangat baik bagi Indonesia, pemerintah akan terbantu oleh masyarakat, rakyat akan terlibat langsung sehingga mengerti betapa njlimetnya sistem pemerintahan dan tentu akan begitu banyak hajat masyarakat yang terlaksana”. Mengamati dan menjalankan politik adalah dua hal yang sangat berbeda. Sebagai pengamat kita tidak perlu mengambil keputusan sedangkan sebagai pelaku politik kita wajib untuk mengambil keputusan, dan dari setiap keputusan pasti ada resikonya. Pandji tetap berpolitik dengan dituangkan ke berbagai karyanya seperti lagu dan stand up comedy.

Pandji terjun seutuhnya dalam dunia politik untuk menjadi tim kampanya Faisal Basri pada tahun 2012 yang berangkat menjadi calon gubernur jalur perseorangan tanpa adanya partai. Akan tetapi Faisal Basri harus berhenti pada putaran pertama dengan jumlah suara 4,98 persen.

Pertemuan dengan Mas Anies Baswedan bermula dari ajakan seorang teman yang meminta saran dan dukungan karena ditawari oleh Partai Demokrat untuk mengikuti konvensi pemilihan calon presiden. Mas Anies adalah orang yang membuat Pandji bergabung dalam tim pemenangan Jokowi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2014. Kemudian pada tahun 2016 Anies meminta bantuan Pandji untuk menjadi jubir (juru bicara) karena Anies dicalonkan sebagai calon gubernur. Awalnya Pandji ragu untuk membantu Mas Anies karena partai pengusungnya adalah Gerindra dan PKS. Partai tersebut merupakan lawan ketika sama-sama menjadi tim kampanye pada Pilpres 2014. Tetapi karena sosok Anies yang tidak sejalan dengan Ahok yang pada saat itu melakukan banyak penggusuran akhirnya Pandji menyeujui tawaran tersebut. Karena Pandji merasa Anies akan bisa lebih baik tanpa melakukan penggusuran.

Semakin lama Pandji berkecimpung dalam dunia politik, akhirnya Pandji merasakan patah hati yang ia alami. Pandji mengetahui secara langsung seberapa bising dan liar proses politik di Indonesia. Menurut Pandji politik itu berisi orang-orang yang tidak bisa diatur.

Pandji mengutarakan bahwa politik tidak dapat dimenangkan di sosial media, politik juga tidak bisa dimenangkan dengan hanya berada di atas udara. Untuk bisa memenangkan politik kita harus turun dan bergerak dari bawah. Hal tersebut merupakan pengamatan Pandji dari cara pendekatan antara Anies dan Ahok. Sosok yang dibutuhkan rakyat adalah pemimpin yang berpihak kepada mereka, jika mereka tahu ada pemimpin yang sedang bekerja untuk mereka maka tidak akan ada kerusuhan.

Bagi Pandji golongan putih (golput) adalah hak. “Ada kategori seseorang golput, diantaranya orang yang merasa suaranya tidak murah, si tuan laik, si gagal yakin, dan orang yang merasa hasilnya akan sama entah dirinya memilih atau tidak”. Agar demokrasi dapat berjalan dengan baik, setidaknya dibutuhkan beberapa kemampuan, yakni pendidikan yang merata, kemampuan untuk bekerja sama dalam perbedaan, kemampuan menerima perbedaan, kemampuan unuk memahami sebelum membenci, kemampuan bertutur dan berbahasa, dan kesediaan menjadi jembatan.

Para calon pemimpin setidaknya harus minimal satu dari empat hal berikut ini. Pertama penguasaan terhadap suatu isu secara mendalam. Kedua, sudah pernah terjun ke dunia politik sebelum mencalonkan diri sebagai anggota Dewan. Ketiga, disiplin ilmu yang sesuai. Keempat, caleg harus membawa visi bukan mimpi. Hal ini dapat dimanfaatkan bagi pemilih muda yang masih kebingungan dalam meletakkan aspirasinya. 

Kepedulian terhadap politik merupakan salah satu cara yang paling memungkinkan unuk memastikan negara tercinta kita ini menjadi seperti yang kita inginkan.

Kelebihan dan kekurangan buku :

Kelebihan buku ini menurut saya adalah cerita yang disajikan dibuku ini ditulis sesuai dengan pengalaman penulis, sehingga sangat dengan mudah berhubungan dengan keadaan sebenarnya. Selain itu bahasa yang digunakan di buku ini sangat ringan dan dapat mudah dipahami oleh pembacanya. Buku ini juga dilengkapi dengan quotes menarik yang mengena di pikiran pembaca.

Kekurangan buku ini menurut saya adalah kurangnya penjelasan untuk kata-kata lokal yang digunakan yang mungkin saja tidak dimengerti oleh pembaca. Tidak semua kata lokal tidak ada penjelasannya, hanya ada beberapa kata lokal yang belum ada penjelasannya seperti kata “njlimetnya”. (*/ykib).

Identitas buku :

Judul Buku                  : Septictank

Pengarang                   : Pandji Pragiwaksono

Penerbit                       : Bentang

Tahun Terbit                : 2019

Jumlah Halaman          : 194 halaman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *