Oleh Siti Ermawati, S.H.
Buku berjudul “Setengah Jalan” ini menceritakan perjalanan hidup seorang pelawak Ernest Prakasa yang telah mencapai kesuksesan di usia 30-an dan telah meraih beberapa penghargaan bergengsi di layar lebar. Selain itu buku tersebut juga menceritakan kehidupan Ernest Prakasa dan keluarganya serta pengalamannya. Dalam buku tersebut juga membahas tentang pesan Ernest Prakasa yang berkaitan dengan kehidupan seseorang sehari-hari yang bisa menambah pengetahuan sehingga cocok untuk dibaca baik kalangan remaja maupun orang tua. Isi buku tersebut juga mengandung pesan untuk kehidupan seseorang.
Ernest Prakasa mengatakan ada dua makna dari umur 35 yaitu pertama, dari 35 ke 40 : umur 35 itu setengah jalan dari kepala tiga menuju kepala empat. Dan hal itu benar-benar sangat menegangkan. Dulu umur 20-an terdengar sangat muda, menyenangkan, ringan, ceria, energik. Sedangkan, 30-an terdengar begitu berat, penuh tanggung jawab. Dan di umur 40-an itu dikatakan tua atau sulit untuk disebut muda. Selanjutnya yang kedua, dari 35 ke 70 : selain setengah jalan dari kepala tiga ke kepala empat, umur 30 juga setengah jalan ke 70, yang merupakan usia hidup rata-rata orang Indonesia. Menurut Ernest Prakasa, yang terpenting bukanlah berapa lama kita hidup. Tetapi, apa yang kita berikan bagi orang lain selama hidup. Makna hidup itu diukur dari kontribusi, bukan durasi.
Buku tersebut juga menceritakan tentang jodoh. Ada banyak cara untuk pasangan terbaik. Di Indonesia, salah satu konsep yang paling sering dijadikan acuan adalah “jodoh”. Konsep jodoh ini menarik. Ide bahwa di luar sana ada seseorang yang sudah dipersiapkan untuk kita, bahwa dia orang paling compatible untuk menemani kita seumur hidup. Salah satu jargon paling awam berkaitan dengan urusan perjodohan adalah kalimat, “yah, kalau jodoh nggak akan kemana”. Jangan terlalu terpaku konsep jodoh. Menurut Ernest, yang terbaik adalah kita berusaha dengan segenap daya upaya. “Cocok” bukanlah sesuatu yang kaku dan default kayak anak kunci dan lubang kunci. “Cocok” membutuhkan proses. Memang di awal perlu ada kecocokan. Kalau tidak, jadinya tidak nyambung. Tapi, untuk bisa “berjodoh”, keduanya harus berusaha juga. Ingat bahwa cinta selalu butuh usaha yang melelahkan, tapi itu semata karena hasilnya akan sepadan.
Prinsip parenting Ernest dan istrinya yaitu “Anak itu butuh THR”. THR dirumus Ernest dan istrinya adalah Teladan, Hormat, Ruang. Beri teladan maksudnya adalah apapun yang ingin diajarkan ke anak harus terlebih dahulu kita praktikan supaya dia bisa melihat. Dikasih teladan saja anak masih suka bandel, apalagi tanpa teladan konkret. Kemudian menurut Ernest yang dimaksud memberi hormat itu kita memperlakukan anak dengan cara kita memperlakukan manusia seutuhnya. Menghormati anak berarti menganggap penting apa yang dia rasakan dan katakan, meskipun dia masih kecil. Menghormati anak berarti memahami bahwa orang tua pun rentan berbuat salah dan karena itu perlu meminta maaf. Menghormati anak justru akan membuatnya merasa dihargai sehingga dia akan semakin hormat kepada orang tua, bukan sebaliknya. Sedangkan memberi ruang maksudnya adalah sebelum anak dilahirkan orang tua pasti punya berbagai rencana dan keinginan. Seperti halnya sebatang pohon yang untuk tumbuh subur butuh udara dan sinar matahari, Ernest dan istrinya memberi ruang gerak untuk anaknya. Prinsip mereka adalah coba sebanyak mungkin, lalu pilih mana yang mau memberikan anaknya kesempatan untuk melakukan apa yang menurut anak menyenangkan, bukan yang menurut mereka bermanfaat, menjadi cara Ernest Prakasa dan istrinya memberikan ruang sehingga anak dapat bertumbuh dengan bahagia.
Zaman berganti, tipe profesi yang jadi idola remaja pun berubah. Salah satu ambisi paling populer di kalangan abege adalah menjadi kreator YouTube, atau istilah populernya, “YouTuber”. Di YouTube, kita bisa nonton apa pun dan kapan pun. Karena orang selalu memburu konten yang bagus, memproduksi konten di YouTube menjadi salah satu jalan menuju popularitas. YouTube adalah fenomena global, cara baru umat manusia untuk mendapatkan informasi dan hiburan. Pola konsumsi digital yang semakin hari semakin tidak terbendung membuat YouTube membuka kesempatan bagi seseorang untuk menjadi bintang. YouTubers are the new rock stars. YouTube bisa diakses siapapun,di mana pun, usia balita hingga manula.
Mendidik anak kecil adalah tugas orang tua. Memilah mana yang baik dan mana yang buruk buat anak adalah tugas orang tua. Tapi, bukan berarti kesulitan ini memberi hak kepada orang tua buat menyalahkan pihak lain atas kesalahannya sendiri. Pesan Ernest buat orang tua: mendidik anak adalah tugas kita sendiri. Pengaruh buruk akan selalu ada, dalam wujud apapun. Digital ataupun nondigital. Mari jaga anak kita baik-baik. Pesan Ernest buat para anak kecil dan remaja: kalau kalian masih mengandalkan uang saku dari orang tua, coba tolong jangan buang-buang kuota untuk hal yang sia-sia. Jadilah keren dengan karya dan keahlian masing-masing. YouTube adalah tempat belajar paling asyik. Perpustakaan era digital. Manfaatkanlah semaksimal mungkin untuk mempelajari hal-hal yang kalian minati.
Kelebihan buku ini adalah selain mencerikatan tentang perjalanan karier Ernest Prakasa juga menceritakan beberapa hal yang berkaitan tentang kehidupan seseorang yang mungkin bisa diterapkan oleh pembaca sendiri. Buku tersebut membuat pembaca tidak spaneng karena dalam bukunya itu diselingi cerita lawakan yang membuat pembaca bisa tertawa dan bahasanya pun mudah untuk dipahami. Sehingga cocok untuk dibaca kalangan remaja dan orang tua.
Kekurangan buku ini adalah cerita dari awal sampai akhir itu masih kurang runtut. Ada beberapa yang alurnya ceritanya kurang nyambung dengan cerita selanjunya. Ada lawakan yang kurang sopan tentang kehidupannya yang seharusnya tidak perlu disampaikan karena mungkin itu bisa memicu pembaca yang masih sekolah membayangkan hal tersebut dan itu kurang baik. (*/ykib).
Identitas Buku
Judul buku : Setengah Jalan
Penulis : Ernest Prakasa
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Halaman : 151
ISBN : 978-602-426-034-7
Tahun terbit : Agustus 2017

