*Oleh Roby Atul Nazila Adawiyah, S.Sos.
Banyak rekomendasi buku self improvement yang muncul di media sosial beberapa bulan ini, salah satunya buku dari Kim Sang-Hyun berjudul “Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?”. Kim Sang-Hyun adalah salah seorang warga Korea Selatan yang bekerja sebagai pengurus kafe dan penulis lepas. Dia telah menerbitkan lima buku, namun buku ini memperoleh kesempatan untuk diterjemahkan dalam bahasa Indonesia di bulan Oktober 2022.
Bagi banyak orang yang membaca sekilas dari judulnya akan menganggap buku ini menyeramkan. Namun, nyatanya isi dalam buku ini justru memuat hal-hal relatable dan bijaksana mengenai kehidupan. Penyajian isi berbentuk penggalan cerita pendek yang beragam ditambah pemikiran penulis menambah kemenarikan buku ini. Penggunaan bahasa sehari-hari dan quotes, menjadikan buku ini lebih menarik untuk dibaca.
Perbedaan budaya, pola berpikir, bersikap, gender, dan agama antara penulis dengan pembaca terutama masyarakat Indonesia, tidak mengurangi esensi tujuan penulis untuk berbagi keresahan maupun kebahagian hidup yang telah dialaminya dapat sampai kepada pembaca. Penulis berusaha menunjukkan realitas kehidupan yang terjadi untuk memotivasi pembaca berbuat baik. Istilah “apa yang kita tanam, itulah yang akan kita tuai” sangat tepat untuk menggambarkan tujuan penulis membuat buku ini.
Pada bagian daftar isi termuat empat bab yang terdiri dari subjudul dan cerita berbeda-beda. Buku aslinya memiliki lima bab, namun buku terjemahan hanya termuat empat bab saja. Bab 1 berjudul Kesalahan, penulis membahas peran diri dalam lingkungan sosial. Terkadang kita lupa mengenai diri dan tujuan hidup kita, karena mengutamakan ekspektasi orang lain. Kita kerap melakukan kebaikan untuk orang lain, namun berujung mengecewakan.
“Hidup adalah serangkaian pilihan, yang dipilih dan yang tidak dipilih. Kalau aku sudah memilih sesuatu, aku harus bisa menangani yang tidak kupilih. Sudah menjadi tanggung jawabku jika nantinya aku menyesali pilihanku itu dan sudah tanggung jawabku pula untuk merasa senang saat mencapai prestasi besar lewat pilihanku tersebut.” (halaman 48).
Bab 2 berjudul Hati yang Hilang, penulis berusaha menyadarkan bahwa segala di dunia ini tidak bersifat kekal termasuk kesedihan dan kebahagiaan. Ketidakabadian peristiwa dalam hidup kerap memunculkan rasa kecemasan diri mengenai hari esok. Keberadaan orang sekitar dan situasi yang terjadi akan pudar serta berganti. Peranan keluarga, teman, dan orang sekitar dalam proses perjalanan kehidupan diri sangat berpengaruh.
“Saat semua proses ini sudah berlalu dan aku menoleh lagi ke belakang, ada kalanya aku menganggap keberhasilanku melewati semua ini semua adalah berkat ‘orang’. Ah mungkin lebih tepat itu berkat ‘mereka yang selalu ada di sisiku’. Mereka yang selalu ada di sisiku selalu merayakan keberhasilanku dan menghiburku saat aku tertimpa hal buruk mereka selalu bersamaku. Apapun wujudku, seperti apa pun situasiku, kehangatan mereka membuatku bertahan.” (halaman 57 ).
Pada bab 3 yaitu Sejarah, banyak membahas konsep diri. Setiap diri berusaha melakukan yang terbaik dalam hidup dengan belajar dari masa lalu untuk mempersiapkan masa depan. Perbedaan dengan orang lain tentu menjadi hal wajar. Menjadi berbeda bukan sebuah kesalahan melainkan kekuatan untuk menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.
“Ada berbagai cara dan warna untuk bersinar. Tidak ada aturan baku. Semoga kamu bisa membawa kebahagiaan ke dalam hidupmu menggunakan warnamu sendiri.” (halaman 101).
Bab terakhir berjudul Semoga itu Kebahagiaan. Penulis berusaha menunjukkan bahwa tujuan hidup adalah kebahagiaan. Diri kita yang paling mengetahui dan memahami cara mencapai kebahagiaan. Terkadang kita hanya fokus mengenai kesedihan dan kegagalan yang berujung penyesalan. Kerap membandingkan kehidupan diri dengan orang lain merupakan ciri tidak bersyukur. Bagian ini, penulis mendorong pembaca untuk love your self agar tujuan hidup berupa kebahagiaan dapat tercapai melalui beberapa potongan cerita hidupnya.
“Aku harus bertanggung jawab atas kebahagiaanku, sebanyak kebahagiaan yang aku terima.” (halaman 131).
Buku dengan judul “Siapa yang Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti? hanya berisi 168 halaman, sehingga bisa dibaca dengan cepat. Bagi kalian yang mengalami keterpurukan atau kehilangan motivasi hidup, mungkin buku ini menjadi bahan bacaan yang tepat. Setiap cerita murni pemikiran penulis tanpa pencantuman teori atau data pendukung bersifat akurat. Terdapat beberapa cerita yang kurang sesuai dengan masyarakat Indonesia. Namun, secara keseluruhan buku ini bagus untuk dibaca oleh semua orang. (*/ykib).
Identitas buku:
Judul : Siapa yang Akan Datang ke Pemakamanku Saat Aku Mati Nanti?
Penulis : Kim Sang-hyun
Bahasa Asli : Korea
Penerjemah : Dewi Ayu Ambar Rani
Penyunting : Andry Setiawan
Jumlah Halaman : 168 halaman
ISBN : 978-623-7351-54-2
Penerbit : Penerbit Haru
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

