Situ Bagendit

Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.

Buku seri legenda Nusantara yang ditulis oleh G. Wu (Gatot Wuryadi) dan memiliki hak cipta dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Persero Tbk merupakan buku yang menceritakan tentang legenda Nusantara dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Buku ini diterbitkan sebagai wujud komitmen (PGN) terhadap kemajuan dunia pendidikan karena PGN memiliki misi yaitu “Membaca Cerdaskan Bangsa”. Buku ini disajikan sebanyak 33 judul yang diambil dari 33 provinsi yang ada di Indonesia. Buku ini dibuat dalam bentuk cerita bergambar dan penuh warna agar menarik minat baca anak-anak sehingga lebih mudah dalam mempelajari dan memahami budaya dan legenda Indonesia.

Pada kesempatan kali ini, penulis akan meresensi cerita dari provinsi Jawa Barat yang berjudul “SITU BAGENDIT” tepatnya di daerah Garut. Dahulu kala di daerah Garut Utara dikenal dengan hasil pertaniannya yang melimpah, para penduduk sebagian besar bekerja sebagai petani dan buruh tani. Meskipun memiliki tanah yang subur dan hasil panen yang melimpah, mereka tetap memiliki kendala yaitu pemasaran hasil pertanian, sehingga biasanya mereka menjual hasil panen kepada salah satu orang yaitu janda kaya tetapi kikir yang bernama Nyai Endit. Tetapi Nyai Endit membeli hasil panen mereka dengan harga yang tidak layak karena terlalu murah. Pada suatu hari, warga desa berkumpul dan musyawarah berharap ada perubahan nasib, mereka sepakat untuk tidak menjual hasil panen kali ini kepada Nyai Endit. Meskipun sebagian warga masih ada yang menjual kepadanya, dan beberapa warga masih ragu-ragu dengan rencana ini, tetapi Pak Bondan mencoba meyakinkan warga.

Salah satu pekerja Nyai Endit yang bernama Barja mendengar rencana ini, kemudian dia bergegas menyampaikan informasi tersebut kepada Nyai Endit, mendengar hal itu Nyai Endit marah dan tak terima. Ia dan para pekerjanya kemudian membuat rencana untuk membakar seluruh lumbung padi warga pada malam hari nanti. Saat malam tiba, mereka mulai menjalankan aksinya, mereka membakar lumbung padi warga. Malam yang sunyi dan damai itu berubah menjadi malam petaka bagi warga, karena seluruh hasil panen mereka habis dilalap si jago merah. Warga yang menderita kini semakin menderita, demi bertahan hidup mereka kini justru harus membeli beras dari gudang Nyai Endit dengan harga yang melambung mahal. Sungguh kejam Nyai Endit, ia membeli hasil panen warga dengan harga yang sangat murah, kini dia menjual beras itu kembali kepada warga dengan harga yang mahal. Bahkan sebagian warga yang tak mampu membeli beras, hanya bisa makan singkong.

Kini para warga ketika panen tiba, langsung membawa hasil panennya ke rumah Nyai Endit, sebagai ganti hutang beras saat mereka tidak mampu membeli beras darinya. Begitu juga dengan Asep dan Ujang yang membawa hasil panen ke sana. Setelah menurunkan hasil panennya mereka bergegas pulang dengan keadaan yang sangat letih dan lapar. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan nenek berbaju putih yang ternyata ingin pergi ke rumah Nyai Endit untuk meminta sedikit sedekah beras darinya. Asep dan Ujang kemudian mengantarkan nenek tersebut, sesampainya di sana ketika mereka berpamitan kepada nenek, nenek itu tiba-tiba menghilang begitu saja. Mereka kaget dan terheran, sehingga mereka langsung lari dan pulang.

Di rumah Nyai Endit, ia bersama para centengnya (pekerja) sedang berpesta merayakan panen raya ini. Hasil setoran panen dari warga ini membuat kekayaannya kali ini bertambah hingga 10 kali lipat. Nyai Endit pun jumawa, karena ia menjadi orang terkaya di desanya, bahkan terkaya dari beberapa desa di sana. Ketika sedang asyik berpesta, nenek tua tadi datang dan meminta sedekah kepadanya. Namun, nenek itu justru dimaki-maki, didorong dan diusir dari rumah Nyai Endit. Ternyata nenek tersebut bukanlah manusia biasa, nenek tersebut akhirnya menancapkan tongkat ke tanah, dan terjadilah gempa bumi disertai keluarnya sumber air yang banyak dan menenggelamkan Nyai Endit bersama dengan para centengnya. Nyai Endit berusaha mencabut tongkat tadi, tetapi keadaan sangat tidak memungkinkan karena dalam sekejap saja air tersebut menenggelamkan Nyai Endit dengan para centengnya beserta harta dan hasil panennya. Keesokan harinya warga desa berbondong-bondong untuk melihat rumah Nyai Endit yang sekarang berubah menjadi danau. Dan saat ini danau tersebut dikenal dengan nama Situ Bagendit.

Kelebihan buku :

  1. Disertai dengan gambar-gambar yang menarik, alur yang mudah dipahami dan bahasa yang ringan. Disertai tentang informasi daerah dari legenda tersebut berasal dan keunggulan daerah cerita.
  2. Disertai pesan-pesan moral dalam cerita : untuk tidak bersikap kikir, serakah dan jumawa. Karena harta tidak akan dibawa mati. Sebaiknya bersikap tolong menolong antar sesama agar hidup damai dan bahagia.

Identitas buku

Judul                : Seri Legenda Nusantara “SITU BAGENDIT”

Penulis             : G. Wu

Editor              : Kum Soe, Soebagiono, Khum, Talha, Andie.

Penerbit          : Balai Pustaka

Tahun Dicetak : 2016 (cetakan kedua, Desember 2016)

Hak Cipta        : PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk

ISBN                 : 979-690-774-7

EAN                 : 978-979-690-774-8

*Penulis adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *