Sorry, My Younger Self, I Can’t Make You Happy

*Oleh Christin Nur Aisyah, S.Sos.

Sorry, My Younger Self, I Can’t Make You Happy merupakan buku yang ditulis Alvi Syahrin dalam setelah beberapa karyanya yang telah diterbitkan sebelumnya, seperti Overthinking is My Hobby and I Hate it dan Loneliness is My Best Friend. Serta masih banyak buku-buku karya Alvi Syahrin yang bergenre self-improvement yang dibungkus dengan nuansa fantasi. Setiap buku yang ditulisnya ini mengajak para pembacanya seolah berbincang secara langsung dengan gaya bahasa penulisan yang ringan.

Buku yang diterbitkan pada 2024 lalu ini, ditulis dengan konsep bak sebuah petualangan waktu atau time travel yang mengajak pembacanya untuk mencoba memasuki lorong waktu satu persatu melalui sebuah “pintu ungu” yang menjadi ikon utama setiap melewati masa menuju: masa kecil, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua. Kita diajak membayangkan sebuah kesempatan yang memungkinkan kita untuk bertemu diri kita di masa lalu ataupun di masa mendatang. Dengan gaya bahasa yang jujur, intim, mengalir, dan ringan mampu membuat para pembaca ikut turut merasakan secara emosional dan imajinasinya terhadap setiap fase-fase kehidupan yang telah dilalui.

Buku ini mencoba mengajak kita untuk merefleksikan diri, tentang apa saja yang telah kita lakukan? Apa yang sudah kita ambil atau putuskan? Serta apa yang sepatutnya menjadi pembelajaran? Hal membuat kita merasa seperti bertemu sosok lain yang terdapat pada dalam diri kita sendiri. Mencoba menelaah apa yang sempat membuat kita merasa menyesal dalam hidup kita.

Setiap pembahasan pada buku Sorry, My Younger Self, I Can’t Make You Happy, dikemas dalam bab-bab sebanyak 40 bab. Dari 40 bab ini penulis buku, membuat pembaca seperti diberikan kesempatan untuk bertemu sosok diri untuk menelusuri setiap proses hidupnya. Dimulai seperti pertama kalinya terlahir di dunia, masa bermain di masa anak-anak, kekhwatiran pada usia remaja, cinta dan patah hati pertama, penyelasan dan kekecewaan sebab gagal mencapai suatu cita-cita, hingga penerimaan diri di setiap tahap kehidupan yang dimiliki.

Fokus pembahasan buku ini adalah upaya mengajak kita untuk menerima, mempelajari, dan memaafkan diri sendiri. Pada bab pertama, kita diajak untuk menemui diri kita yang baru terlahir, yang mana diri kita dari masa depan telah mengetahui apa yang akan dihadapi oleh bayi tersebut. Ini mengingatkan bahwa, setiap bayi yang terlahir tidak tahu menahu tentang apa saja yang akan terjadi di masa depan. Tidak pernah ada bekal kesiapan untuk menjadi manusia. Sebab, seumur hidup adalah sebuah pembelajaran.

Kemudian, memasuki pintu berikutnya kita akan ditemani sosok anak yang tidak lain adalah diri kita di masa kecil. Tidak hanya sebagai teman. Sosok anak kecil ini membantu kita ikut merefleksi diri melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikannya. Inilah mengapa, rasanya seperti ada sentilan dan tamparan yang harus kita jawab dan hingga akhir menemukan jawaban untuk selalu mensyukuri serta menjalani hidup secara mengalir tanpa harus menghakimi.

Seperti contoh pertanyaan yang ringan namun penuh makna, “Apakah kita jadi nggak cengeng lagi?” ini merujuk pada saat anak-anak, kita akan dicap cengeng apabila selalu menangisi hal-hal yang mungkin ‘sepele.’ Kemudian pertanyaan seperti, “Jadi dewasa seru, nggak?” jelas ini pernah menjadi tanda tanya besar bagi kita yang tidak sabar untuk hidup bebas seperti kehidupan dewasa yang tidak perlu diatur lagi, hidup sesuai pilihan, dan mencari kesenangan diri.

Namun, pada buku ini kita kembali dibuat untuk mengingat sebuah fakta kehidupan yang tentu jauh dari kata sesuai dengan ekspetasi masa kecil kita dulu. Pada kehidupan dewasa pertemanan tidak sama seperti di masa kecil. Di mana tidak memikirkan perasaan seperti cinta dan mungkin jumlahnya banyak. Di kehidupan dewasa jumlah pertemanannya mulai sedikit, dibebani ekspetasi dan harapan orang lain, dibuat patah hati dan kecewa, banyak pertimbangan dan kekhawatiran, ketakutan, serta kesedihan.

Tapi sebuah masa depan tidak pernah sesederhana itu. Di mana akan selalu ada masa depan di depan masa depan. Apabila kita mengetahui bocoran apa yang akan terjadi selanjutnya, semisal kita akan tahu bahwa diri kita sukses mendatang. Maka, apa yang terjadi? Kita tidak akan pernah mengusahakan suatu kesuksesan tersebut. Kemudian, jika kita mengetahui bahwa di masa mendatang kita akan gagal. Maka yang terjadi pada kita adalah rasa menyerah sedari awal tanpa mencobanya. Dan yang paling utama adalah kita akan kehilangan pembelajaran penting dalam hidup kita untuk menjadi menjadi dewasa.

Kita menjadi manusia tumbuh serta bertahan dari rasa ketakutan. Sebab, perubahan yang terjadi dalam hidup kita, mungkin bisa jadi bukan disebabkan karena adanya perubahan orang-orang ataupun lingkungan sekitar kita. Melainkan cara pandang kita yang berubah. Jika pada akhirnya muncul rasa tidak dipedulikan, maka yang seharusnya kita lakukan adalah menjadi garda terdepan untuk diri kita sendiri. Sebab, dari semua manusia yang akan kamu temui di muka bumi ini, kamu akan yang paling banyak menghabiskan waktu bersama dirimu sendiri.

Selain itu, semua yang akhirnya terjadi pada diri kita adalah kepingan amunisi yang kita butuhkan untuk menghadapi masa depan. Dari kepingan-kepingan inilah yang akan menjadikan titik besar atau gambaran tujuan proses hidup yang kita jalani. Hingga suatu saat diri kita, sosok anak kecil yang ada di dalam tubuh kita kaget, merasa seperti tidak percaya. Bahwa selama ini kita mampu, yang awalnya kita apa-apa diurusi dan dibantu, ternyata kita mampu menghandle semuanya sendiri. Karena ini pertama kalinya kita hidup dan ini kali pertama kita menjadi dewasa.

Hal ini menunjukkan bahwa, hidup tak melulu perihal mengoleksi tinta emas dalam kehidupan. Kita juga butuh mengoleksi berbagai macam kegagalan, pengalaman, pelajaran, dan rasa syukur. Sebab, sering kita mengalami krisis identitas diri dikarenakan terlalu melihat kehidupan orang lain dan mematoknya sebagai standar yang harus dilalui.

Maka, dapat disimpulkan dalam buku Sorry, My Younger Self, I Can’t Make You Happy. Kita diajak untuk melek pada diri sendiri. Memahami dan merenungi satu persatu perjalanan hidup yang kita jalani. Terlalu realistis juga tidak terlalu baik, butuh kita lakukan penanganan secara dalam apa tujuan hidup dan bagaiamana mengambil langkah yang bijak, sehingga kita tidak terlalu keras terhadap diri kita sendiri. Memahami diri sendiri, menunjukan rasa cinta dan bertahan. (ykib/christin).

Identitas Buku

Judul Buku      : Sorry, My Younger Self, I Can’t Make You Happy

Penulis             : Alvi Syahrin

Penerbit           : Alvi Ardhi Publishing

Tahun Terbit    : 2024

Tebal Halaman : 309 halaman

 

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *