Oleh Qoniatul Qismah, S.Pd.
Novel ini menceritakan kisah perjuangan seorang anak yang terlahir dan tinggal di Tarakan, Kalimantan Timur yang berusaha meraih mimpinya. Onggy adalah nama anak tersebut. Dia merupakan keturunan Tionghoa. Sejak kecil hidup Onggy serba kekurangan, ayahnya hanyalah seorang karyawan di sebuah toko dengan upah yang selalu tak cukup. Memiliki delapan saudara membuatnnya tak dapat mengenyam bangku sekolah. Sekolah menjadi hal istimewa baginya. Hanya satu saudaranya yang dapat mengenyam bangku sekolah yakni A lie. A lie adalah gadis yang pandai dan cerdas . Untuk itu hanya dia yang mampu disekolahkan oleh ayahnya. Suatu ketika Onggy memberanikan diri mengutarakan keinginannya bersekolah kepada ayahnya. Namun ayahnya hanya mampu diam mendengarkan Onggy. Bukannya tak mengizinkan, tapi biaya tidak ada. Saking besar semangatnya untuk bersekolah Onggy biasanya mengintip kelas di kaca saat anak-anak belajar.
Keesokan harinya A lie (kakak Onggy) berniat untuk berbicara kepada Pak Eddy, salah satu guru di sekolahnya. Dia memohon agar adiknya dapat bersekolah di sekolahnya dengan jaminan nilai-nilai bagusnya. Akhirnya Onggy dapat juga menyelesaikan pendidikannya sampai SMA. Perjuangan Onggy tak sampai di situ. Dia bertekad untuk melanjutkan bangku kuliah. Dia ingin meraih mimpinya di Kota Surabaya. Dia ingin membuktikan bahwa keturunan Tionghoa dapat memberi dampat baik bagi bangsa. Bila hidup keluarganya membaik, nama baik keluarganya akan baik. Meski baru lulus SMA, pikiran Onggy sudah terbang begitu jauh. Dari kecil, jalan pikirannya memang sudah begini adanya. Dia berharap semoga ini memang menjadi salah satu ciri orang yang sukses pada kemudian hari.
Dengan nilai-nilai kehidupan yang diberikan oleh ayahnya, Onggy menjalani perjuangan usahanya mulai dari berjualan apel, jagung bakar dan kerupuk yang tidak mulus. Tantangan demi tantangan dihadapi, namun hidup harus terus berjalan.
Kemudian datanglah Candra. Pertemuan pertama Onggy dan Candra di sebuah salon. Hingga mereka semakin mengenal jauh dan Onggy memutuskan untuk menikahi Candra. Ternyata pernikahan bukan akhir menjalani tantangan hidup. Bersama Candra dia menjalani hari demi hari, proses demi proses demi meraih cita. Perjuangan mereka bukan hanya di satu kota namun kemudian dia hijrah ke Jakarta. Tantangan dan rintangan tidak serta merta mau berhenti mengikutinya.
Kelebihan buku : novel ini mengajarkan indahnya hidup toleransi antar suku. Dengan berbagai bahasa dan budaya. Novel ini juga mengajarkan bagaimana kebersamaan dengan teman saat sedih maupun susah dan juga kebersamaan antar keluarga. Selain itu sikap pantang menyerah dan kegigihan Onggy untuk meraih kesuksesan meskipun berulang kali gagal menjadikan motivasi untuk kita agar selalu optimistis dalam meraih mimpi.
Kekurangan : akhir dalam novel terbang kurang jelas. Hal ini karena berakhir begitu saja tanpa makna yang berarti. Seharusnya novel ini menceritakan dengan detail puncak karir Onggy. (*/ykib).
Identitas buku
Judul buku : Terbang
Penulis : Silvarani
Penerbit utama : Noura Books
Tahun Terbit : 2018
Lembar Halaman : 274
Cetakan : cetakan ke 1, April 2018
ISBN; 978-602-385-456

