*Oleh Irene Fanidyas Berlianita, S.Stat.
Buku ini merupakan karya Yoga Maulana, seorang penulis yang dikenal dengan gaya tulisannya yang sederhana, jujur dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Melalui judul buku ini, penulis ingin menunjukkan bahwa kenyataannya kehidupan pada masa dewasa tidak selalu indah seperti yang dibayangkan. Setiap proses untuk menjadi dewasa tidak selalu berjalan mulus. Banyak orang yang tumbuh dengan keyakinan bahwa ketika sudah dewasa hidup terasa lebih mudah, semua masalah terselesaikan, dan kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Pada kenyataannya, tidak sesuai dengan apa yang semua orang pernah bayangkan.
Saat seseorang memasuki usia dewasa, ia akan dihadapkan dengan berbagai macam masalah, tanggung jawab, tuntutan hidup, dan tekanan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Buku ini ditulis berdasarkan pengamatan penulis terhadap beberapa orang dewasa di sekitarnya. Banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi sebenarnya menyimpan banyak luka dan kebingungan dalam hati. Penulis melihat bahwa tidak semua orang siap menghadapi masa dewasa. Oleh karena itu, melalui buku ini penulis seolah ingin berkata bahwa menjadi dewasa bukan berarti segalanya harus sempurna, melainkan tentang belajar menerima dan memahami diri sendiri. Dalam buku ini, penulis banyak membahas tentang bayangan dan kenyataan di masa dewasa, rasa lelah menjadi dewasa, bingung akan masa depan, takut dengan kegagalan, dan perasaan tertinggal dibandingkan dengan orang lain.
Pembahasan mendalam mengenai isi buku :
- Bayangan Masa Kecil dengan Kenyataan di Kehidupan dewasa
Dalam pembahasan ini, penulis menjelaskan bahwa sejak kecil banyak orang diajarkan untuk bermimpi setinggi mungkin. Di lingkungan sekolah, keluarga, dan sekitarnya menanamkan bahwa jika seseorang rajin dan berusaha dengan giat, maka hidupnya akan berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, mereka berpikir bahwa menjadi dewasa berarti hidup akan baik-baik saja. Namun, ketika dewasa pada kenyataannya kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Banyak orang yang sudah berusaha keras, tetapi menghadapi kegagalan. Kenyataan ini tentunya sering menimbulkan rasa kecewa dan meragukan diri sendiri karena tidak sesuai dengan bayangan yang pernah dibangun sejak kecil. Dari pembahasan pertama ini, penulis memberikan pemahaman kepada kita bahwa hidup bukan suatu perlombaan melainkan setiap orang akan memiliki jalan kehidupannya masing-masing.
- Rasa Lelah yang Sering Dipendam
Pembahasan berikutnya yang sangat terasa dalam buku ini adalah rasa lelah yang dialami saat dewasa. Banyak orang dewasa yang merasa lelah, baik secara fisik maupun emosional, tetapi tidak tahu harus mengeluh kepada siapa. Rasa lelah ini tidak hanya berasal dari pekerjaan tetapi juga dari lingkungan hidup. Tuntutan untuk hidup mandiri, memenuhi kebutuhan hidup, menjaga hubungan baik dengan orang lain yang tentunya sering membuat seseorang menjadi kehabisan energi. Pada pembahasan ini, penulis menggambarkan bagaimana orang dewasa sering kali harus tetap terlihat kuat meskipun hatinya sedang rapuh dan mengingatkan bahwa merasa lelah bukan suatu tanda kelemahan melainkan mengakui kelelahan adalah langkah awal untuk lebih mengenal diri sendiri untuk bisa memberi ruang dan tidak memaksakan diri untuk terlihat kuat.
- Ketakutan Akan Masa Depan yang Tidak Pasti
Pada pembahasan ini, ketakutan yang sering muncul saat seseorang memasuki usia dewasa bisa berupa takut adanya kegagalan. Banyak orang takut hidupnya tidak sukses, takut tidak menjadi apa-apa, takut salah mengambil keputusan, atau takut mengecewakan orang terdekat. Pada pembahasan ini, penulis menyampaikan bahwa ketakutan tersebut adalah hal yang wajar dan dialami oleh setiap orang. Kita harus melawan rasa takut dengan menerima keberadaan rasa takut tersebut dan tetap melangkah meskipun perlahan.
- Perasaan tertinggal dan Kebiasaan Membandingan Diri dengan Orang Lain
Salah satu masalah besar yang dibahas dalam buku ini adalah kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Banyak orang dewasa merasa hidupnya berjalan terlalu lambat ketika melihat pencapaian orang lain. Di era media sosial, seseorang dapat melihat atau mengakses kehidupan orang lain dengan mudah. Dengan demikian, banyak orang sering cepat merasa tertinggal saat melihat orang lain yang terlihat lebih bahagia dan sukses. Hal ini tentu membuat banyak orang merasa hidupnya kurang berarti. Dari pembahasan ini, penulis menegaskan bahwa setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain hanya akan membuat kita lupa cara menghargai proses hidup sendiri. Proses hidup setiap orang tidak bisa diukur dengan standar yang sama.
- Belajar Menerima Diri Sendiri
Pembahasan berikutnya adalah menekankan pentingnya menerima diri sendiri. Pada pembahasan ini, penulis mengajak pembaca untuk tidak terlalu keras terhadap diri sendiri. Menjadi dewasa bukan berarti hidup harus selalu berjalan dengan sempurna dan berhasil. Keberhasilan dan kegagalan adalah bagian dari proses belajar menerima diri sendiri.
Sebagian besar buku ini mengajarkan bahwa kehidupan dewasa tidak harus selalu sempurna. Tidak apa-apa jika hidup terasa berantakan selama kita tetap berusaha dan terus belajar. Buku ini juga mengajarkan pentingnya bersikap jujur terhadap perasaan sendiri dan tidak memaksakan diri untuk selalu terlihat baik-baik saja. Selain itu, buku ini mengingatkan bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Hidup bukan sebuah perlombaan, sehingga tidak perlu terburu-buru mengejar pencapaian orang lain.
Kelebihan buku:
Buku ini menggunakan gaya bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Buku ini cocok dibaca oleh berbagai kalangan, terutama bagi remaja yang menuju dewasa. Bagian isi buku terasa sangat sesuai dengan kehidupan nyata dan tidak dibuat-buat. Buku ini bisa menggambarkan perasaan yang sulit diungkapkan oleh pembaca. Buku ini juga mampu memberikan rasa tenang dan penguatan emosional bagi pembaca. Pembaca akan merasakan bahwa masa yang sedang mereka alami ternyata juga dialami oleh orang lain.
Kekurangan buku:
Buku ini memiliki pembahasan terkait solusi yang bersifat praktis. Buku ini lebih berfokus pada perasaan dan refleksi diri sehingga pembaca perlu merenungkan sendiri makna yang ingin diambil. Selain itu, terdapat beberapa bagian pada pembahasan yang memiliki kemiripan antar satu dengan yang lainnya.
Rekomendasi buku:
Buku ini sangat direkomendasikan bagi remaja, mahasiswa, dan orang dewasa yang sedang mencari jati diri. Cocok dibaca oleh siapa saja yang sedang merasa lelah, bingung, atau membutuhkan penguatan emosional. Buku ini tidak hanya menggunakan gaya bahasa yang ringan dan bersifat personal, tetapi juga menyentuh bagi pembaca karena sangat sesuai dengan kondisi kehidupan saat ini. Banyak orang dewasa yang merasa tertekan oleh tuntutan sosial dan standar kesuksesan. Buku ini hadir untuk mengajarkan bahwa menjadi dewasa berarti terus belajar menerima diri sendiri dan menjalani hidup dengan sabar karena hidup tidak harus selalu sesuai dengan yang dibayangkan. Buku ini layak dibaca sebagai teman perjalanan dalam proses pendewasaan, terutama bagi mereka yang merasa hidupnya belum sesuai dengan harapan. (ykib/irene).
Identitas buku
Judul Buku : Ternyata Menjadi Dewasa Itu …
Pengarang : Yoga Maulana
Penerbit : Gradien Mediatama
Tahun Terbit : 2022
Tebal buku : 192 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

