*Oleh Eka Maya Septianing, S.Pd.
Buku ini merupakan karya dari Adora Kinara, seorang penulis dan content creator yang mengabdikan dirinya dalam dunia perbukuan selama beberapa dekade. Buku The Art of Stoicism adalah sebuah karya yang mencerminkan perjalanan spiritual dan pemahaman mendalam tentang Stoikisme. Dikemas dengan bahasa yang mudah, buku ini menggambarkan bagaimana kita sebagai manusia punya kuasa terhadap diri kita sendiri. Buku yang diterbitkan Jendela ini juga mengajak pembaca untuk merenungkan filosofi kuno serta pengaplikasian prinsip-prinsip Stoikisme dalam kehidupan modern.
Sebelumnya Stoikisme sendiri dapat didefinisikan sebagai sebuah aliran filsafat kuno yang berasal dari Yunani, di mana kemampuan untuk bertahan dalam menghadapi rasa sakit atau kesulitan tanpa mengeluh. Adapun definisi lain dari Stoikisme yaitu aliran filsafat yang membantu kita untuk mengendalikan emosi negatif dan menghargai apa yang kita miliki saat ini. Konsep yang tercakup dalam aliran ini antara lain penerimaan terhadap hal-hal yang tidak bisa kita ubah, perubahan terhadap hal-hal yang dapat kita ubah, dan kebijaksanaan untuk membedakan antara keduanya. Sebagai manusia kita dilatih untuk merespon segala hal secara rasional, sehingga kita bisa menguasai diri dengan baik, memiliki ketenangan, kekuatan mental, dan keseimbangan emosi.
Filosofi Stoikisme mengajarkan tentang dikotomi kendali, yaitu bahwa tidak semua hal yang dikatakan orang lain perlu kita pikirkan dan respons. Mereka tidak memiliki kendali atas kehidupan kita. Dalam usaha mencintai diri sendiri, kita harus belajar untuk menerima diri kita dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada saat ini. Jika kita terus menerus terpengaruh dengan opini orang lain, maka usaha kita untuk mencintai diri sendiri akan sia-sia. Setiap individu memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda, hal inilah yang membuat kita unik. Jadi, klaim bahwa kelebihan berarti bahagia dan kekurangan berarti menderita adalah omong kosong. Kita dapat memanfaatkan apa yang kita miliki untuk meraih potensi terbaik kita.
Kebermanfaatan seseorang tidak selalu dinilai berdasarkan kemurahan hati yang melimpah, harta yang melimpah, atau benda-benda mewah. Sebaliknya, ungkapan selamat, senyum tulus, atau bantuan yang diberikan dengan sungguh-sungguh juga dapat menjadi wujud kebermanfaatan. Oleh karena itu kita tidak menunggu kaya untuk menjadi bermanfaat. Skala tindakan kita apakah besar atau kecil, bukanlah hal yang terpenting. Yang utama adalah bagaimana keberadaan kita dapat memberikan bantuan dan manfaat bagi orang lain.
Filosofi Stoikisme mengajarkan kita untuk melepaskan diri dari emosi negatif serta meningkatkan kekuatan batin. Dengan begitu, kita pun akan tumbuh menjadi orang yang baik. Tidak dimulai dari orang lain, setidaknya pertama-tama baik untuk diri sendiri. Di era modern orang baik tidak bisa langsung diketahui. Apalagi jika di media sosial, ada banyak aksi kebaikan yang ternyata hanya dijadikan konten saja. Foto dan video yang diunggah di media sosial tidak seperti kenyataannya. Berbuat baik itu, tidak melulu harus ditunjukkan untuk orang banyak. Kita bisa melakukan diam-diam, tanpa pengakuan orang lain atau karena kita ingin mendapatkan pujian. Berbuat baik itu bisa tentang diri sendiri, menjadi lebih baik daripada diri kita sebelumnya.
Terdapat banyak orang yang menyebalkan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Kita tidak dapat menghindari keberadaan mereka dan mungkin akan merasa kesal atau ketidaknyamanan. Namun apakah kita seharusnya melarang mereka untuk berperilaku menyebalkan? Menghentikan mereka bukanlah solusi yang tepat, karena dengan demikian kita juga akan menjadi bagian dari orang yang menyebalkan. Filosofi Stoikisme mengajarkan cara untuk hidup tenang di tengah keberadaan orang-orang yang menyebalkan ini. Penting untuk diingat bahwa kita tidak dapat mengendalikan orang lain, tetapi yang dapat kita kendalikan adalah diri kita sendiri. Cara terbaik untuk menghadapi orang-orang yag menyebalkan adalah dengan mengabaikannya. Dengan cara ini kita dapat mempertahankan kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup kita. Menghabiskan waktu dan energi untuk orang-orang yang tidak memiliki dampak positif pada kita hanya akan menggarami lautan.
Terkadang sebagai manusia, kita sering kali terjebak dalam paradoks. Ketika kita diberikan kehidupan yang biasa-biasa saja, kita merasa terjebak dalam rutinitas yang monoton. Namun saat kita dihadapkan pada tantangan dan kesulitan, kita panik dan berharap semuanya kembali normal seperti sebelumnya. Perlu kita sadari bahwa tantangan dan kesulitan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan ini. Mereka datang dalam berbagai bentuk dan bisa melibatkan pekerjaan, karier, hubungan dengan teman, keluarga, dan pasangan. Setiap kita berhasil mengatasi satu kesulitan, itu berarti kita telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam diri kita. Kita bisa menjadi pribadi yang lebih kuat dan lebih baik dengan kemampuan baru untuk menghadapi masalah, memperbarui keterampilan kerja, dan banyak lagi.
Dalam hidup ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Masa lalu biasanya menjadi suatu hal yang menakutkan, trauma, kesedihan, bisa juga penyesalan. Untuk sembuh dari hal-hal tersebut, tak jarang orang-orang pergi ke psikolog untuk menjalani pengobatan. Pergi ke psikolog bukanlah hal yang salah, karena merupakan bentuk peduli kita pada kesehatan mental. Setidaknya kurangi anggapan bahwa orang yang pergi memeriksakan kesehatan ke psikolog adalah orang gila. Jika masa lalu wujud penyesalan, masa depan bisa berwujud kecemasan. Padahal hal tersebut belum terjadi, dan mungkin saja yang kita khawatirkan memang tidak akan pernah terjadi. Akhirnya semuanya sia-sia selain lelah karena ketakutan-ketakutan yang kita bangun sendiri.
Filosofi Stoikisme mengajarkan kita untuk hidup dengan memahami keadaan. Fokus dengan apa yang terjadi hari ini, saat ini. Masa lalu dapat menimbulkan trauma, tetapi itu bisa diobati. Lalu tentang penyesalan, sekeras apapun kita menyesal, tidak akan pernah terulang kembali. Kemudian masa depan, karena terlalu memikirkan, membuat kita kehilangan momen berharga saat ini. Paham dengan keadaan, artinya membuat kita lebih bisa menikmati dan menghargai apa yang kita miliki sekarang, entah itu bersifat kebendaan atau orang-orang di sekitar kita.
Jadilah batu di tengah ombak, ombak bisa mengamuk tetapi batu tetap diam. Kita tidak bisa mengontrol cuaca, politik, komentar orang, atau masa lalu, tetapi kita bisa memilih respons yang kita berikan. Marilah kita belajar menerima dengan lapang dada hal-hal yang memang tidak dapat kita ubah, sekaligus berani dan sungguh-sungguh mengupayakan perubahan pada hal-hal yang masih berada dalam kendali kita. Membedakan mana yang perlu diterima dengan ikhlas dan mana yang harus diperjuangkan dengan usaha nyata. Sebagai manusia yang terus belajar terlebih sebagai pendidik, kita dilatih untuk merespons setiap keadaan secara rasional dan bijaksana, sehingga mampu menguasai diri, menguatkan mental, serta menyeimbangkan emosi dalam setiap proses pembelajaran dan kehidupan.
Kelebihan buku The Art of Stoicism antara lain:
- Sangat cocok dibaca untuk pemula yang ingin memahami Stoikisme
- Bahasa yang digunakan ringan dan mudah dipahami
- Relevan dengan kehidupan modern
- Memberikan panduan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
Kekurangan buku The Art of Stoicism antara lain:
- Buku terasa repetitif, dengan pembahasan beberapa poin prinsip Stoikisme yang terasa berulang di sepanjang buku
- Kurang cocok bagi pembaca yang ingin menganalisis filsafat secara mendalam, karena buku seperti pengantar konsep Stoikisme, yang hanya memberikan gambaran secara umum tentang konsep Stoikisme. (ykib/maya).
Identitas buku
Judul buku : The Art of Stoicism
Penulis : Adora Kinara
Penerbit : Jendela
Tahun terbit : 2023
Tebal halaman : 190 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

