*Oleh Monica Aisyah, S.S.
Warrior of the Light adalah novel inspiratif karya Paulo Coelho seorang novelis Brasil dengan karya yang paling banyak dibaca di dunia. Paulo Coelho lahir pada 24 Agustus 1947 ( usia 78 tahun) di Rio De Janerio, Brasil. Buku “The Warior Of the Light” diterbitkan di Indonesia pada tahun 2024 oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU) dan telah diterjemahkan oleh Eddie Riyadi Laggut-Terr dengan judul yang sama “Warrior Of the Light” atau bisa diartikan “Kesatria Cahaya”.
Buku Kitab Suci Kesatria Cahaya adalah ajakan bagi kita untuk mewujudkan impian, menerima ketidakpastian dalam hidup, dan bangkit untuk menyongsong takdir pribadi kita yang unik. Ada sosok sang Kesatria Cahaya dalam diri setiap orang. Jalan Kesatria Cahaya tak selalu mudah, tetapi dia menerima kegagalan-kegagalannya dan berjuang tak kenal lelah untuk memenuhi legenda pribadinya.
Warrior of the Light saat membaca judul bukunya kita akan berfikir bahwa buku ini berisi cerita dongeng seorang pendekar cahaya, namun saat membaca isi buku kita akan mengerti buku ini bukanlah buku yang berisi tentang cara menebas musuh dengan pedang, melainkan cara menebas rasa takut dengan kekuatan yang ada pada diri sendiri untuk mencapai kemenangan. Paulo Coelho mengajak pembaca mengetahui kiat-kiat kemenangan yang dilakukan oleh seorang Kesatria Cahaya, memahami bahwa seorang Kesatria Cahaya tidak selalu tampil gagah dan penuh kemenangan. Ia justru sering ragu, jatuh, takut, dan terluka, namun tetap memilih untuk bangkit.
Buku ini tidak disajikan dalam bentuk cerita dengan alur yang runtut, tokoh, dan konflik sebagaimana novel pada umumnya, melainkan berupa kumpulan renungan singkat tentang sikap hidup, keberanian, kegagalan, dan harapan. Sosok Kesatria Cahaya dalam buku ini bukanlah pahlawan yang sempurna, melainkan gambaran manusia biasa yang menjalani hidup dengan segala keterbatasannya. Ia pernah takut, ragu, dan jatuh, tetapi tetap berusaha bangkit dan melangkah maju. Melalui gaya bahasa yang tenang dan puitis, Paulo Coelho mengajak pembaca untuk melihat kehidupan secara lebih jujur dan manusiawi, tanpa harus menuntut kesempurnaan dari diri sendiri. Sesuai dengan tulisan yang terdapat di sampul buku “Kitab Suci Kesatria Cahaya” buku ini didesain seperti sebuah kitab rahasia seorang kesatria yang telah mencapai kemenangannya.
Kutipan yang menjadi favorit dalam buku tersebut adalah
“Setiap kesatria cahaya pernah merasa takut untuk terjun ke medan tempur. Setiap kesatria cahaya pernah berada di masa lalu, membohongi atau menghianati seseorang. Setiap kesatria cahaya pernah melangkahkan kaki di jalan yang bukan jalannya. Setiap kesatria cahaya pernah berkata ya ketika dia ingin mengatakan tidak. Setiap kesatria cahaya pernah menyakiti seseorang yang dia sayangi. Itulah sebabnya dia disebut kesatria cahaya, sebab dia telah melalui semua itu namun tidak kehilangan harapan untuk menjadi lebih baik daripada dirinya yang sekarang.”
Buku ini memberikan keberanian kita dalam menghadapi kegagalan. Setiap kesuksesan tidak datang dengan sendirinya. Keberhasilan hidup yang dialami oleh seseorang juga merupakan buah dari pahitnya kegagalan dan beberapa tindakan yang salah.
“Kalau keputusannnya tepat, dia akan memenangkan pertempuran, kendatipun pertempuran itu berlangsung lebih lama daripada yang di harapkan. Namun jika keputusannya salah, dia akan kalah dan harus memulai dari awal lagi. Hanya saja dia melakukannya dengan lebih bijaksana. Namun begitu telah memulai, kesatria cahaya akan bertahan hingga akhir.”
Buku ini banyak menunjukan kesalahan-kesalahan dalam kehidupan seorang kesatria cahaya dan cara untuk menghadapinya. Diceritakan dengan bahasa yang sederhana tanpa kesan menggurui. Setiap lembarnya berisi cara seorang kesatria berjuang jatuh bangun di medan peperangan.
“Manakala sedang letih atau kesepian, dia tidak memimpikan pria atau wanita yang jauh di mata, dia mendekat pada orang–orang di sampingnya dan menumpahkan kepedihan hati atau kerinduannya akan kasih sayang dengan senang hati tanpa rasa bersalah. Sang kesatria tau bahwa bintang terjauh di semesta ini menampakan diri dalam hal-hal di sekitar dirinya sendiri.”
Bukan hanya bagaimana seorang Kesatria Cahaya melawan musuh tapi juga bagaimana caranya membangun hubungan dengan orang-orang di sekitarnya untuk memenangkan peperangan.
Kelebihan buku:
Secara keseluruhan, Warrior of the Light merupakan buku yang memberikan inspirasi dan ketenangan batin bagi pembacanya. Kelebihan utama buku ini terletak pada kesederhanaan penyampaian pesan yang justru membuat maknanya terasa lebih kuat dan membekas, tanpa memberi kesan menggurui. Gaya bahasa puitis, cocok dibaca kapan saja, bahkan satu halaman per hari, dan buku ini juga menguatkan emosional dan spiritual seseorang
Kekurangan buku:
Kekurangan dari buku ini adalah buku ini tidak cocok bagi pembaca yang menyukai cerita dengan alur jelas. Beberapa pesan terasa repetitive atau disampaikan berulang kali. Beberapa pesan juga perlu pemahaman saat dibaca karena menggunkan bahasa puitis sehingga tidak dapat langsung dipahami.
Kesimpulan:
Warrior of the Light adalah buku yang tersusun dari potongan-potongan refleksi singkat. Tidak ada alur cerita panjang, tidak juga tokoh dengan nama tertentu. Yang ada hanyalah kita, pembaca, yang perlahan sadar bahwa Kesatria Cahaya itu sedang berbicara tentang diri kita sendiri. Ia tidak menawarkan jawaban instan, tetapi memberi keberanian untuk terus melangkah. Buku ini cocok bagi siapa pun yang sedang mencari makna, kehilangan arah, atau hanya ingin diingatkan bahwa menjadi kuat tidak berarti harus selalu keras. Karena pada akhirnya, pejuang cahaya bukanlah mereka yang tak pernah jatuh melainkan mereka yang tetap memilih berjalan meski pernah terluka. (ykib/monica).
Identitas Buku
Judul buku : The Warior of the Light
Penulis : Paulo Coelho
Penerjemah : Eddie Riyadi Laggut-Terr
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Tebal : 152 halaman
Tahun terbit : 2025 ( cetakan ketujuh )
ISBN : 978-602-06-7841-2
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

