Tidak. Jibril Tidak Pensiun !

Oleh Min Qurin Amaliya Qori’a, S.Pd

Buku ini adalah kumpulan esai si pengarang yaitu Emha Ainun Nadjib yang sering disapa Cak Nun. Esai-esai yang ditulis dalam buku ini merefleksikan betapa panjang pertanyaannya atas hidup. Cak Nun tak hanya melihat pola interaksi antara manusia dengan Tuhan yang semakin mengabur, tetapi juga semakin tersingkirnya manusia dari strata-strata sosial yang mereka bentuk sendiri.

Melalui buku ini, Emha Ainun Nadjib, menguliti dalam-dalam perkara kemusliman “birokrasi”. Ketaatan yang penuh rasa “takut kepada atasan”, bukan kecintaan dan pengabdian kepada Tuhan. Esai yang dimuat dalam buku ini berjumlah 35. Pada salah satu esai Cak Nun dalam buku ini yaitu Tidak. Jibril Tidak Pensiun!.

Berawal dari senda gurau anak-anak bahwa Jibril sejak abad VII Masehi jadi pengangguran. Pensiun abadi. Ada yang membantah dengan mengemukakan bahwa Jibril tetap being employed karena para wali atau orang-orang dengan “radar suci” setingkat mereka tetap menerima karamah. Sementara orang-orang biasa seperti kita tetap juga memperoleh ilham.

Tidak, kata yang lain. Untuk takaran di bawah wahyu tak diperlukan Jibril. Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil begitu, Allah tak memerlukan organisasi birokrasi, tukang pos, atau agen penyalur. Allah cukup bilang “Kun (fayakun)” untuk kepentingan apa saja.

Alangkah samar pembicaraan semacam ini. Tak ada kerangka metodologi penelitian model mana pun yang bisa menyentuhnya. Apalagi ilmu-ilmu sosial hanya pernah kenal Tuhan sebagai benda abstrak.

Pada saat yang sama, keterbukaan terhadap gerak penghayatan atas wahyu itu amat diperlukan, setidaknya karena manusia telah sampai pada dua gejala yang sama-sama takabur. Yang pertama, manusia telah merasa mampu menemukan sesuatu, mengadakan yang tak ada, menciptakan sesuatu, dan berkat itu iya menjadi seniman nobel, doktor akademik, atau sarjana kehidupan. Yang kedua berada di ekstrem lain : yang ada hanya Allah, kami ini tak ada. Yang mutlak itu Allah, kami sekadar rekaan. Karya-karya, kata-kata, musik, lukisan kami, tak bisa kami sebut dengan karya kami, sebab mereka adalah kasih karya Allah semata.

Jadi, kalau kita membaca karya itu, kita membaca karya Allah. Kalau kita dengarkan orang membaca puisi, itu puisi Allah. Kalau kita nonton pameran lukisan, kita nonton lukisan Allah.

Seandainya kita berhasil memiliki suatu pola pendidikan yang memungkinkan terwujudnya iman dan konsep dalam diri manusia maka usaha dan proyeksi sistematisasinya ke dalam organisasi kebersamaan manusia tinggal “sekunder”. Dengan kata lain orang makin tak kenal pada jiwa wahyu. Hanya kualitas seorang nabi yang sanggup menampung wahyu. Dan, Allah memang hanya berkenan memberikan wahyu kepada beliau-beliau yang terpilih. Sampai akhirnya Muhammad si Pamungkas.

Wahyu Allah bukan sebuah dongeng purba. Cahaya Allah tak berhenti memancar. Ilmu Tuhan terus-menerus mengalir dan sangat melimpah. Muhammad tidak mati. Sungguh tidak mati. Hanya tubuh beliau yang sudah dikuburkan dan tubuh beliau adalah bagian paling remeh dari eksistensi kepribadiannya yang menyuluhi alam semesta manusia. Wahyu yang beliau terima dari Allah pun terus bekerja. Sudah sempurna, tetapi belum selesai karena ia akan menemukan kelahirannya kembali di dalam iman dan kesadaran umatnya.

Anak-anak sering berkelakar, selepas kepergian nabi terakhir Rasulullah SAW Jibril pun ikut pensiun. Tak ada lagi nabi yang perlu ia datangi untuk menyampaikan wahyu dari Allah SWT. Padahal tidak. Jibril tidak pensiun. Ia begitu karib di sisi tidur dan jagamu.

Nabi Muhammad disebut wahyu berakhir, artinya jatah ilmu pengetahuan dasar anugerah Allah bagi manusia berpuncak di wadah Muhammad.

Allah tidak mengursus kita bagaimana membuat rantai dan pedal, tetapi kualitas fenomena kendaraan sepeda telah ditunjukkan-Nya. Apa pun yang kelak digapai oleh kecerdasan manusia, tak akan melebihi kapasitas kemungkinan yang telah di nurkan oleh wahyu yang berpuncak pada Muhammad. Segala yang kita sebut prestasi akal, ilmu, dan teknologi dahsyat yang perlu diketahui manusia telah ditanam benih-benihnya di dalam Alquran.

Kelebihan buku ini :

  1. Pembaca dapat lebih memahami ilmu agama yang mungkin belum mereka ketahui.
  2. Cerita nyata yang dituliskan dapat menumbuhkan kesadaran pembaca untuk lebih mendalami ilmu keagamaan.

Kekurangan buku ini :

Terdapat beberapa kata yang sedikit kasar dan kata yang asing yang tidak bisa dimengerti oleh kalangan anak-anak.

Judul : Tidak. Jibril Tidak Pensiun!

Penulis : Emha Ainun Nadjib

Penerbit : PT Bentang Pustaka

Cetakan : Cetakan ke-1

Halaman : 246

ISBN : 978-602-291-297-2

Tahun terbit : Januari 2017

Penulis adalah guru Bimbel Gugusan Bintang YKIB

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *