*Oleh Christin Nur Aisyah, S.Sos.
Pasti kalian pernah mendengar kalimat falsafah Jawa yang salah satunya adalah Witing tresna jalaran saka kulina. Tetapi, bagaimana jika hal itu dipelesetkan menjadi, Tresna Jalaran Saka Arta. Ya, seperti itulah salah satu isi dari buku yang berjudul sama. Kalimat tersebut memiliki arti berbanding terbalik dengan kalimat sebelumnya, yakni rasa cinta tumbuh karena uang atau harta.
Karya ini berisi sekumpulan satire ala Jawa yang dipelesetkan dari kalimat sebenarnya. Hal ini terjadi, sebab perubahan zaman dan penyesuaian dengan apa yang terjadi di lingkungan masyarakat. Munculnya pelesetan dari falsafah Jawa yang sudah baku merupakan pertanda munculnya zaman yang penuh dengan keanehan, penyimpangan, pemutarbalikan fakta, serta berbagai kenyataan yang tidak semestinya terjadi, dan kenyataan ini bisa dilihat, diamati, dan dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pengantarnya, Penulis buku Tresna Jalaran Saka Arta menjelaskan bahwa sejatinya orang Jawa mengenal berbagai prinsip atau falsafah adiluhung sebagai panduan hidup di dunia. Melalui pemikiran yang kreatif, orang-orang Jawa mengolah dengan unik ungkapan-ungkapan satire, sehingga anak-anak muda pun tertarik untuk mempelajarinya.
Orang Jawa sering menggunakan kalimat kiasan untuk menyidir seseorang yang pesannya tetap dapat tersampaikan tanpa menyakiti hati orang tersebut. Berbagai macam teguran tersebut dapat disebut pasemon, satiris atau satire, dan hantam krama.
Pertama, ada pasemon. Pasemon atau secara bahasa artinya semu; samar. Tujuan dari pasemon ini untuk menyindir perilaku yang tidak baik, hal ini dilakukan demi kebaikan agar orang yang diberi nasihat kembali baik perilakunya. Contoh dari pasemon adalah sakploke dadi RT, sajak e mlakune beda (menyindir sikap sombong atau semena-mena seseorang setelah memiliki jabatan) dan wingi enek toko emas mlaku (menyindir seseorang yang terlalu memperlihatkan harta).
Kedua, Satire merupakan gaya bahasa dalam sastra yang digunakan untuk menyatakan sindiran terhadap suatu keadaan atau seseorang. Teguran ini bersifat satiris atau mengingatkan orang lain agar tidak lupa daratan. Pembeda antara satire dan pasemon adalah dari segi penyampaian kalimatnya. Satire memparodikan atau memelesetkan karya asli, serta berbentuk ironi dan sarkasme.
Ketiga, hantam krama. Hantam krama penyampaian sindirannya lebih kasar tanpa disertai tata krama dengan tujuan untuk memperbaiki tujuan atau perilaku orang lain. Orang-orang yang menyampaikan hantam krama tidak disukai oleh banyak orang, meski apa yang disampaikan itu benar.
Adapun beberapa kalimat-kalimat pelesetan falsafah Jawa yang ada di buku Tresna Jalaran Saka Arta adalah sebagai berikut:
- Becik ketampik, Ala Ketampa
Asal mula pelesetan ini dari kalimat Becik ketitik, ala ketara. Falsafah ini menandakan penolakan atas sebuah kebenaran dan justru lebih menerima yang buruk, seperti ketidakjujuran, kebusukan, dan kecurangan lebih banyak diminati untuk memperoleh keuntungan pribadi.
- Ing Ngarsa Ngusung Bandha
Falsafah sebenarnya adalah Ing ngarsa sung tuladha dengan makna “di depan memberi contoh”. Sejatinya yang dimaksud adalah seorang pemimpin yang sepatutnya sebagai contoh yang baik, memimpin dengan adil dan bijaksana. Akan tetapi, hadirnya pelesetan ini adanya penyimpangan mengenai penyalahgunaan kekuasaan seorang pemimpin, yang beranggapan “Mumpung mimpin, membawa harta sebanyak-banyaknya”. Ing ngarsa ngusung bandha ini merupakan ungkapan sindiran untuk para pemimpin yang serakah, mementingkan kepentingan pribadi dan keluarga dibandingkan anggota atau rakyatnya.
- Mikul Keduwuren, Mendhem Kejeron
Pelesetan falsafah ini lahir dari kalimat sebenarnya, yaitu mikul dhuwur, mendhem jero artinya menjunjung kebaikan seseorang dan mengubur dalam-dalam keburukannya. Namun, faktanya dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini seseorang terlalu mengagungkan idolanya hingga melupakan keburukan atau borok sang idola, hingga seolah-olah seperti malaikat suci yang tidak mempunyai keburukan sedikitpun. Orang yang terlalu melebih-lebihkan sang idola dikatakan mikul kedhuwuren, dan mendhem kejeron ketika ada yang membeberkan keburukan sang idola, dia merasa tidak terima, serta mencari cara apapun untuk menutup serapat-rapatnya aib itu.
- Tresna Jalaran Saka Arta
Umumnya, falsafah ini berbunyi witing tresna, jalaran saka kulina atau hadirnya cinta dikarenakan terbiasa. Tanpa melihat berapa harta atau kekurangan seseorang. Faktanya, modal cinta tidak cukup meski sudah terbiasa. Angka perpisahan paling banyak terjadi adalah faktor ekonomi. Uang sangat dibutuhkan manusia dalam segala suasana. Begitu pula kehidupan rumah tangga. Maka tak heran, banyak orang zaman sekarang menunda pernikahan karena masih belum siap, terutama dari pihak laki-laki yang belum sedia menikah dengan alasan mencari kerja tetap. Dari situ terdapat prinsip lebih baik menunda pernikahan daripada nekat kawin muda.
- Malima; Madhep Mantep Mulya Melu Mara Tuwa
Malima merupakan falsafah dari Sunan Ampel yang memiliki makna sebenarnya, yaitu moh maling, moh main, moh madon, moh madhat, lan moh mendem. Atau dalam bahasa Indonesianya tidak mau untuk mencuri, berjudi, bermain wanita, narkoba, dan menenggak miras. Tetapi hal itu dipelesetkan dikarenakan fakta bahwa merasa bahagia, mantap, dan mulya menumpang di rumah mertua atau orang tua. Satire ini mengacu pada pasangan muda yang menikah hanya bermodal cinta dan nekat. Sehingga dari segi ekonomi belum mencukupi dan akhirnya meminta bantuan orang tua. (*ykib/christin).
Identitas buku:
Judul : Tresna Jalaran Saka Arta
Penulis : Gesta Bayuadhy
Penerbit : DIVA Press
Tahun terbit : 2016
Tempat Terbit : Yogyakarta
Jumlah Halaman : 273 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

