Tuanku Imam Bonjol dan Perang Paderi

Oleh Arum Nila Nadiya, S.Pd.

Buku seri Pahlawan Indonesia yang ditulis oleh G.Wu (Gatot Wuryadi) dan hak cipta dari PT PGN Persero Tbk merupakan buku yang menceritakan tentang Pahlawan yang ada di Indonesia. Buku ini disajikan sebanyak 20 judul yang diambil dari 20 pahlawan yang ada di Indonesia. Buku ini dibuat dalam bentuk cerita bergambar dan penuh warna agar menarik minat baca anak-anak sehingga lebih mudah dalam mempelajari dan memahami tentang perjuangan-perjuangan pahlawan Indonesia.

Tuanku Imam Bonjol yaitu anak dari Buya Nudin dan Hamatun, yang lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat, tahun 1772. Yang nama kecilnya yaitu Muhammad Sahab.

Massa berganti, beberapa tahun kemudian Muhammad Sahab dididik oleh ayah dan ibunya dengan penuh kasih sayang dan tumbuh menjadi anak yang sehat dan cerdas. Muhammad Sahab juga sering dipanggil Peto Syarif. Peto Syarif yaitu gelar yang diberikan kakeknya.

Beberapa tahun berselang Peto Syarif beranjak dewasa ia kemudian diminta kedua orangtuanya untuk belajar kepada Toto Tuo yaitu Ulama besar di Kota Tuo. Setibanya di sana ia memperkenalkan diri kepada sang Guru, dan sang Guru pun sudah menduga bahwa Peto Syarif adalah ‘’bukan pemuda sembarangan’’. Dan benar.“Peto Syarif selain pandai, dia juga pemuda yang gagah, cepat menyerap ilmu agama dan bela diri” ucap sang guru. tahun berganti Peto Syarif selesai belajar dengan Ulama Toto Tuo pada tahun 1800, dia melanjutkan untuk mengamalkan ilmunya pada kaumnya. Sesampainya di kampung halaman suasanya sudah banyak berubah dan menyimpang, akan tetapi Peto Syarif beranjak ke rumah orangtuanya dulu menemui Ayah dan Ibunya yang semakin tua, dua tahun kemudian Peto Syarif diutus menikah oleh orangtuanya yang bertepatan di umur yang ke-30 tahun.

Peto Syarif menggantikan ayahnya  untuk mengajar ilmu agama dan sejak itu dia menjadi guru agama yang dihormati dan disegani, beliau bergelar Malin Basa.

Sementara itu, sesuatu terus terjadi di masyarakat kampung atau kaum adat itu kebiasaan yang tidak baik dan tidak sesui syariat Islam, berkembang dan menjadi kebiasaan penduduknya, seperti menyabung ayam, berjudi dan berminum-minuman keras, ketika para ulama melihat dan menegur masyarakat para ulama pun diabaikan dan akhirnya ulama pun melaporkan kepada gurunya yaitu Haji Abdurrahman yang bergelar Haji Piobang atau Haji Muhammad Arif yang bergelar Haji Sumanik (haji miskin). Kemudian para ulama dikumpulkan dan berunding untuk mencari jalan keluar dan menghadap ke kediaman Tuanku Nan Renceh dan akhirnya ulama mengumpulkan barisan  para pemuda untuk bangun kekuatan, setelah mereka menyiapkan untuk mendirikan syariat Islam, di salah satu ulama lain di utus Tuanku Nan Receh untuk menyampaikan kepada Peto Syarif ajakan bergabung dengan Kaum Paderi, dan Peto Syarif bersedia bergabung atas izin istrinya.

Tahun 1803. Tuanku nan Receh membentuk Gerakan Paderi yang bertujuan menggerakkan ajaran agama. Persiapan dimulai dengan pasukan yang dilatih Peto Syarif dalam menunggang kuda, menggunakan pedang, memanah, menggunakan tombak dan bela diri. Setelah persiapan sudah dirasakan cukup dan matang kemudian para Perwira Paderi dipersilahkan pulang untuk bersiap-siap dan menguatkan iman.

Pada tahun 1807 Peto Syarif kembali ke kampung halaman dan membangun benteng pertahanan siang dan malam bersama murid-muridnya di Bukit Tajadi terdapat di daerah Bonjol.

Setelah Banteng Bonjol telah selesai dan sangat tepat letaknya yang menghubungkan Lubuk Sikaping dengan Daerah Tapanuli atau Tanah Batak, mereka merundingkan pemimpin bentengnya, dan dipilihlah Peto Syarif sebagai pemimpin benteng dan bergelar Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1808.

Tuanku Imam Bonjol Bersama Tuanku Nan Receh mereka bersama menamakan dirinya golongan-golangan Paderi. Kemudian mereka semua mendatanggi kaum adat yang sedang berbuat maksiat dan mengajak untuk berjalan ke yang benar dan kaum adat pun diperingatkan dengan mengobrak-abrik tempatnya, karena kaum adat tidak mau diajak ke jalan yang benar.

Kekalahan kaum adat tidak terima dan akhirnya menyerang golongan Paderi, Daerah Luhuk 50 kota pun tunduk di bawah kekuasaan Kaum Paderi yang mengalahkan kaum adat. Pasukan paderi melesat luhuk tanah datar yang merupakan pusat kerajaan Minangkabau  dan Tuanku Nan Receh dan Tuanku Imam Bonjol berunding dengan raja Minangkabau pada tahun 1809, perundingan mengalami jalan buntu, maka pertempuran tak dapat dihindari dan hanya butuh waktu sebentar batih pun jatuh kalah dan raja Minangkabau berhasil meloloskan diri lari ke Kuantan, sejak saat itu kerajaan Minangkabau telah tumbang dan tidak pernah bangun lagi. Seluruh Minangkabau asli (darat) atau luhak yang tiga dapat dikuasai oleh Paderi di bawah Pimpinan Tuanku Nan Receh.

Setelah mereka menang Kaum Paderi masih berwanti-wanti dan sangat berjuang untuk membela di jalan Allah. Verreniding Oostindische Compagine (VOG), Belanda masuk ke Padang tahun 1819, sementara itu kaum Paderi yang bertugas mengawasi sekitar melaporkan  keadaan yang mulai gawat dan mereka bergegas meninggalkan tempat itu.

Pasukan Belanda datang dengan tujuan yang jelas yaitu menjajah wilayah itu. Maka bertemulah kedua kekuatan itu dan perang pun akhirnya tidak terhindari lagi, Pasukan Belanda memenangkan pertempuran itu dan pejuang Paderi di Air Bagis banyak yang gugur termasuk Tuanku Rao, Maka Tuanku Tambusai dan Tuanku Lelo menuju Bonjol untuk meminta bantuan Tuanku Imam Bonjol, kemudian Tuanku Imam Bonjol bersama pasukanya bersiap menyerang Belanda.

Sementara itu Kaum Adat meminta bantuan Belanda untuk merebut kembali wilayahnya dalam melawan Kaum Paderi, dan Belanda menyetujui dengan syarat kaum adat harus tunduk dengan pemerintahan Belanda.

Pertempurn terjadi di Bukit Marapalam selama tiga hari tiga malam, dan Kaum Paderi mengalami kemenangan.

Belanda tidak terima dan akan meminta bantuan ke Batavia, akan tetapi Batavia masih berkonsentrasi menghadapi perang Jawa, untuk mengulur waktu menunggu bantuan dari Batavia, Belanda mengajuakan perundingan (Perjanjian Masang) pada bulan Januari 1824 terhadap Tuanku Imam Bonjol, yang berisi Tercapai Gencatan Senjata antara Paderi dan Belanda di Alahan Panjang.

Dan akhir tahun 1824 Belanda berhasil menduduki daerah pusat di Luhuk Agam dan Tanah Datar dengan mendirikan benteng Fort De Kock. Dan melupakan perjanjianya terhadap Tuanku Bonjol dan Belanda  mendapat bantuan pasukan dan persenjataan dari Batavia.

Sepanjang tahun1832 pertahanan Paderi satu demi satu jatuh ke tangan Belanda dengan mengabaikan perjanjian, Belanda berhasil menguasai tanah Minangkabau, dan mereka merayakan dengan mabuk-mabukan  dan kekuasaan Minangkabau tidak dikembalikan kepada Kaum Adat, seperti yang dijanjikan Belanda. Akhirnya kaum adat meninggalkan Belanda dan bergabung pada Golongan Paderi dan bersatu untuk melawan Belanda.

Tanggal 11 Januari 1833 dilakukan serangan serentak di seluruh Minangkabau dan perang dipimpin Tuanku Imam Bonjol, pasukan Paderi semakin kuat karena ada bantuan dari Adat, perang pun di menangkan oleh kaum Paderi.

Belanda menyusun strategi untuk menyerang benteng utama Paderi yaitu yang berada di Bonjol, dan akhirnya tentara bantuan Belanda pun mengepung benteng Bonjol dari segala penjuru dan pasukan Paderi pun terdesak dan mulai jatuh berguguran, akan tetapi Tuanku Imam Bonjol berhasil meloloskan diri keluar benteng dan menyingkir ke Kota Marapak dan tempat persembunyian berikutnya yaitu Bukit Gadang. Benteng Bonjol Jatuh ke Belanda pada tanggal 16 Agusus 1837.

Belanda pun tetap mencari cara supaya bisa menemukan Tuanku Imam Bonjol, dan lagi-lagi dia menggunakan cara yang licik yaitu mengajak berunding Tuanku Imam Bonjol dengan menggunakan nama Presiden Francis, yang isi suratnya yaitu

“Selama 14 hari akan berkibar bendera putih dan gencatan senjata berlaku Tuanku Imam Bonjol diminta datang ke Palupuh untuk berunding tanpa membawa senjata”.

Tuanku Imam Bonjol memenuhi undangan yang beliau kira itu benar Presiden Perancis dan beliau datang sendirian, tanpa membawa senjata. Tiba-tiba Tuanku Imam Bonjol ditangkap ternyata perundingan itu tipu muslihat Belanda. Akhirnya Tuanku Imam bonjol tertangkap pada tanggal 28 Oktober 1837 dan dipenjara di Bukit Tinggi, di pindah ke Padang. Tanggal 23 Januari 1838 dipindah ke Cianjur. Tanggal 19 Januari 1939 dipindah ke Manado, menjalani pengasingan selama 27 tahun. Pada tanggal 6 November 1864 Tuanku Imam Bonjol wafat dan jasadnya dimakamkan di Desa Pineleng, Manado.

Tuanku Imam Bonjol ditetapkan sebagai pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI nomor 087/TK/tahun 1973, tanggal 6 November 1973. Dan dikenang fotonya di mata uang Indonesia yang nilainya lima ribu rupiah.

Kelebihan: Buku cerita ini sangat bagus dan menarik. Sehingga sangat cocok untuk pembentukan karakter anak-anak didik dan mengenal beberapa perjuangan pahlawan-pahlawan di Indonesia, juga bahasanya sangat mudah di fahami disertai gambar-gambar yang menarik dan berwarna tentu anaklebih suka dan mudah faham.

Kelemahan: ada beberapa bahasa asing yang harus di artikan dulu, untuk anak-anak mungkin kurang memahami dan gambar yang kurang bagus seperti peperangan dan berbuat kemaksiatanya. (*/ykib).

Identitas Buku

Judul                     : seri “ Tuanku Imam Bonjol”

Penulis                 : G.Wu

Editor                    : Kum Soe, Soebagio.

Penerbit              : Balai Pustaka

Tahun Dicetak   : Desember 2016

Hak Cipta             : PT perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk

Penulis resensi guru adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *