*Oleh Indriyani, S.Pd.
Tuhan Ada di Hatimu merupakan buku karya dari Habib Husein Ja’far Al-Hadar, seorang dai muda yang dikenal karena gaya dakwahnya yang humoris, inklusif dan relevan dengan generasi milenial. Buku ini mengajak pembaca untuk menemukan Tuhan tidak di tempat-tempat jauh, melainkan di dalam hati dan pengalaman hidup sehari-hari.
Buku ini membahas tentang berbagai masalah yang sering menjadi topik pembicaraan pedas di masyarakat, topik itu dianggap sebagai isu-isu yang sensitif karena menyangkut tentang salah persepsi masyarakat terhadap ajaran-ajaran yang lahir dari agama Islam. Seperti halnya, masyarakat sering menganggap Islam itu identik dengan kekerasan dan perang, Islam itu kaku, monoton, tidak moderat, tertinggal dan lain-lain. Dengan demikian buku ini hadir sebagai solusi untuk menjawab keraguan atau kesalahpahaman masyarakat terhadap Islam yang ditulis dengan gaya santai, akrab, dan mudah dipahami, tetapi tetap menyentuh aspek spiritual yang dalam.
Dalam buku ini Habib Ja’far memberikan pandangan terhadap Islam sesuai dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Beliau mengutip ayat-ayat Al-Quran, hadis Nabi, serta kisah-kisah Sufi dan filsuf Islam seperti Jalaluddin Rumi dan Al-Ghazali, lalu mengaitkannya dengan realitas kekinian termasuk media sosial, krisis eksistensial, dan tantangan generasi muda dalam beragama. Selain itu buku ini mencakup 5 pokok pembahasan yaitu: 1). Hijrah, 2). Islam Bijak, Bukan Bajak, 3). Akhlak Islam, 4). Nada, Canda, dan Beda, 5). Ateis, Tapi Cuek sama Tuhan.
“Simbol dan agama adalah dua hal yang sulit dipisahkan dalam kehidupan sosial masyarakat kita. Sebagian masyarakat masih menganggap jika simbol suatu agama digunakan dan tampak kasat mata maka tingkat kesalihan orang tersebut sudah di atas rata-rata. Padahal faktanya tidak seperti itu juga, penggunaan simbol bukan ukuran mutlak ketaatan orang terhadap Tuhannya”.
Itu yang coba dijelaskan Habib Ja’far. Banyak sekali hikmah yang bisa didapat dari buku ini. Beberapa di antaranya; mengenai hijrah, fenomena yang saat ini sedang tren di kalangan kita, tentang berdakwah ala Nabi, mengapa Islam tidak perlu dibela, Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, serta tentang hal-hal yang amat dekat dan penting dalam kehidupan sehari-hari.
Pada bagian pertama, Habib Ja’far menjelaskan kritik kepada golongan yang sedang hijrah. Hijrah itu tidak sekedar berubah dari belum berkerudung menjadi berkerudung, dari tak berjenggot menjadi berjenggot, tapi lebih ke substansi sebagai seorang Muslim. Kita harus lebih murah senyum, bersikap lebih ramah kepada orang lain, lebih maju dalam ilmu pengetahuan, dan memiliki kepekaan sosial. Hijrah jangan hanya berhenti di satu titik, karena menimba ilmu harus terus menerus. Seorang yang hijrah juga seharusnya mampu menghadapi perbedaan, tidak boleh sampai mengkafirkan yang lain. Karena perbedaan adalah rahmat dari Allah SWT, juga merupakan sunatullah. Islam adalah agama yang tegas, bukan keras.
Dalam memahami Al-Quran dan Sunnah, Habib Ja’far punya pernyataan yang menarik: bukanlah kembali kepada Al-Quran dan Sunnah, akan tetapi berangkat dari Al-Quran dan Sunnah. Maksudnya adalah mempelajari Al-Quran dan Sunnah itu menggunakan akal dan hati, kemudian kita ajak Al-Quran dan Sunnah bersinergi dengan ruang dan zaman di mana kita hidup. Substansi inilah yang penting kita pegang sebagai seorang Muslim. Penting juga untuk mencari pendakwah yang mempersatukan, bukan menceraiberaikan.
Dalam bagian kedua, Habib Ja’far mengajak menyelami bagaimana Islam yang bijak itu. Salah satu contoh adalah menyampaikan kebenaran yang bernilai kebaikan dengan cara yang indah. Benar saja tak cukup, ia harus bernilai kebaikan dan disampaikan dengan cara yang indah, misalnya dengan kreatif. Di bagian ini juga menyikapi tentang fenomena membela Tuhan. Perlukah? Atau jangan-jangan kita hanya membela ego kita sendiri.
Islam bukan agama perang, karena Nabi Muhammad SAW hanya 1 % saja dalam hidupnya melakukan perang, 99% sisanya Nabi berdakwah dengan kasih sayang dan menegakkan akhlak yang agung. Perang dalam Islam hanya bersifat defensif, artinya fitrah manusia itu sebenarnya membeci peperangan. Peperangan tidak dilakukan apabila tidak dalam keadaan darurat.
Berikutnya Habib Ja’far mengajak meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Nabi diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak. Kalau ada seseorang yang membawa nama Islam akan tetapi jauh dari akhlak Nabi, maka dia itu ikut siapa? Nabi dahulu sibuk mempersatukan yang beda, mengapa sekarang banyak yang mengkafirkan, menyesatkan, membid’ahkan sesama Muslim? Hal ini tentunya menjadi bahan renungan untuk kita semua.
Perkara akhlak, kita juga harus dapat mengolah informasi yang berisi berita hoaks. Kita harus benar-benar menelusuri kabar yang datang kepada kita, entah itu melalui lisan atau smartphone. Harus haqqul yaqin, benar-benar yakin, bukan hoaks-qul yaqin atau yakin pada hoaks hanya karena malas ngecek sumber berita atau lantaran kabar itu menguntungkan kita.
Bagian terakhir menjabarkan tentang toleransi. Ada pendapat yang menjabarkan tentang hukum musik, namun yang lebih ditekankan adalah menghargai perbedaan pendapat tentang musik. Saya setuju dengan uraian Habib Ja’far, bahwa apabila musik membawa nilai-nilai luhur: kemanusiaan, perdamaian, ketulusan cinta, kesetiaan, dan lain-lain, itu termasuk musik yang baik dan hukumnya halal.
Islam diturunkan untuk menjadi solusi, bukan menambah permasalahan baru. Oleh karena itu, seharusnya kita tidak mempersulit diri sendiri apalagi orang lain. Islam itu sudah pasti moderat, yaitu berlaku adil dan pertengahan, tidak berat sebelah.
Habib Ja’far juga mengajak para pembaca, khususnya kaum anak muda untuk senantiasa mengenal dekat dengan Allah. Karena sejatinya, Allah selalu mengawasi kita dan tentunya berada di hati setiap manusia yang beriman. Habib Ja’far juga mengajak kita untuk merenung bahwa mengapa citra Islam itu jatuh, karena sering kali dikaitkan dengan hal-hal yang negatif. Dan ternyata faktor-faktor yang mempengaruhinya bukan dari luar Islam, melainkan dari umat Islam itu sendiri yang tidak mengimplementasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu pesan utama dalam buku ini adalah bahwa Tuhan tidak perlu dicari terlalu jauh, karena Dia hadir dalam hati setiap insan. Tuhan bukan hanya milik para ulama atau orang saleh, tetapi milik siapa saja yang ingin mengenal-Nya dengan ketulusan.
Kelebihan Buku
Bahasa yang ringan namun bermakna, cocok untuk pembaca muda.
Relevan dengan zaman; menghubungkan spiritualitas dengan kehidupan modern.
Penuh hikmah dan inspirasi, tapi tidak menggurui.
Dapat dibaca secara acak per bab tanpa kehilangan konteks.
Kekurangan Buku
Bagi sebagian pembaca yang lebih menyukai struktur narasi panjang atau sistematis, bentuk esai pendek bisa terasa kurang mendalam.
Beberapa bagian mungkin terasa terlalu sederhana bagi pembaca yang terbiasa dengan bacaan teologis atau filsafat yang lebih kompleks.
Kesimpulan
Tuhan Ada di Hatimu adalah buku spiritual yang membumi. Ia tidak hanya berbicara tentang keimanan, tapi juga mengajarkan kita untuk mengenali makna kehidupan melalui hati yang jernih dan terbuka. Buku ini cocok untuk siapa saja yang ingin memperdalam spiritualitas secara ringan namun menyentuh, khususnya bagi generasi muda yang mencari Tuhan dalam keraguan dan pencarian jati diri. (ykib/indri).
Judul Buku: Tuhan Ada di Hatimu
Penulis: Habib Husein Ja’far Al-Hadar
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: 2021
Jumlah Halaman: 232 halaman
ISBN: 978-623-242-353-4
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

