Tuhan, Maaf Aku Kurang Bersyukur

*Oleh Min Qurin Amaliya Qoria, S.Pd.

Ada banyak penelitian oleh ahli-ahli psikologi yang membuktikan bahwa orang yang mampu mensyukuri hidupnya cenderung akan hidup lebih bahagia, mampu menjaga kepercayaan dan keyakinan diri yang tinggi, dan mampu menjalin hubungan dengan orang lain yang lebih baik.

Banyak di antara manusia yang ingkar terhadap nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Mereka sibuk mengeluh dan menangisi harapan-harapannya yang hilang, kecewa terhadap hidupnya, karena apa yang diinginkannya belum terwujud. Akibatnya, hidup mereka menjadi lebih menderita. Padahal Allah telah berjanji siapa pun yang bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepadanya, maka Allah akan menambah lagi nikmat itu.

Kenikmatan seringnya baru disadari setelah ia menghilang, kufur nikmat adalah salah satu perbuatan tercela. Kufur artinya menutupi atau mengingkari. Sedangkan kufur nikmat berarti mengingkari nikmat Allah atau menyalahgunakan kenikmatan yang telah diberikan Allah. Misalnya saat kita sedang sehat, kita terlupa mensyukuri kesehatan yang kita miliki. Baru setelah kita menderita sakit, kita menyadari betapa berharganya nikmat sehat itu.

Bukan kebahagiaan yang melahirkan rasa syukur, akan tetapi rasa syukukurlah yang melahirkan kebahagiaan. Bersyukur akan membuat seseorang menjadi lebih positif dalam menjalani hidup. Saat ia berada dalam sikap positif, kenikmatan demi kenikmatan hidup akan datang dengan sendirinya. Sebaliknya, bila ia terus menerus mengingkari kenikmatan hidup yang ia miliki, hidupnya pun akan bertambah menderita.

Selama ini, kita mungkin  mengira bahwa rasa syukur hanya milik orang-orang yang beruntung, yang terlahir dari kondisi keluarga yang bahagia. Ini sebetulnya adalah dugaan yang keliru. Karena sesungguhnya bukan kebahagiaan yang melahirkan rasa syukur, akan tetapi rasa syukurlah yang melahirkan kebahagiaan.

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada setiap manusia.

Kunci kebahagiaan sesungguhnya adalah rasa syukur. Siapa pun yang ingin hidupnya bahagia, hendaknya menjauhi sifat kufur nikmat dan mensyukuri segala nikmatnya dalam bentuk sekecil apa pun.

Ada empat hal yang harus kita waspadai dalam diri kita sendiri yaitu berupa sifat yang mungkin saja secara diam-diam masih terselip dalam hati dan pikiran kita yang menjadikannya pilar bagi kekufuran nikmat.

  1. Sifat sombong adalah sifat tinggi hati, merasa diri lebih baik dari pada orang lain dan cenderung merendahkan orang lain.
  2. Rasa dengki atau bisa disebut dengan hasad adalah sifat iri hati yang biasannya diikuti dengan harapan agar hilang kenikmatan dari hidup orang lain.
  3. Amarah adalah bergejolaknya darah dalam hati seseorang untuk menolak gangguan atau sesuatu yang tidak disukai, yang dikhawatirkan menimpa dirinya atau untuk membalaskan dendam pada apa yang telah menimpanya.
  4. Mengumbar syahwat berarti mengikuti apa-apa yang disenangi nafsu, meski melanggar aturan syariat.

Semua yang dilarang Allah itu, pada hakikatnya memiliki dampak negatif bagi manusia. Begitu juga dengan kufur nikmat. Membiarkan diri kita lalai dalam mengingat serta mensyukuri nikmat Allah, sesungguhnya berbahaya bagi diri kita sendiri.

Hati adalah tempat nurani kita berada, dengan hati kita merasakan belas kasih terhadap sesama makhluk hidup. Dengan hati, kita pun mampu membedakan mana perbuatan yang baik dan mana yang perbuatan yang buruk.

Jika kita terus menerus melakukan kekufuran nikmat, maka lama-kelamaan hati kita akan menjadi mengeras seperti batu. Dan hati kita tak bisa lagi membedakan mana perbuatan yang baik dan yang buruk.

Orang-orang yang hatinya telah tertutup, akan berisiko terjebak dalam istidraj (kesenangan tanpa keimanan dan ketaatan). Mereka bersenang-senang di dunia dan terus berbuat kerusakan dalam pandangan mereka itu semua adalah perbuatan yang baik dan mereka tidak peduli dengan nasihat-nasihat kebenaran. Jika sudah begini, maka tinggal tunggu saja azab yang sangat pedih dari Allah SWT.

Buku ini insyaAllah akan membantu kita semua untuk membuka pikiran dan hati, serta menuntun kita dalam berupaya mensyukuri kehidupan yang kita miliki saat ini. Kita akan dibuat terkejut, karena ternyata untuk bersyukur itu kita tak perlu menunggu bahagia. Baca saja buku ini dan temukan kembali kebahagiaanmu yang hilang!. (*ykib/amel).

Identitas buku:  

Judul  buku : Tuhan, Maaf Aku Kurang Bersyukur

Pengarang : Malik Al Mughis

Penerbit : Syalmahat Publishing

ISBN : 978-623-97672-7-3

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *