Oleh Nola Armylia, S.Sos.
Apabila mau merenung dan menghayati arti kehidupan kita akan menemukan jawaban bahwa dunia hanyalah sementara, kita tidak akan selamanya berada di dunia ini, kita hanya menumpang lewat di tempat ini nasib kita selanjutnya akan dipertaruhkan.
Mungkin kehidupan ibarat seseorang yang menunggu kedatangan kereta di stasiun atau ibarat pasir yang kita genggam di tengah gurun Sahara. Intinya hidup hanya sebentar jauh sekali dengan kehidupan di akhirat.
Salah satu sifat buruk yang dipelihara banyak manusia adalah lalai dalam mensyukuri nikmat. Kita ini biasanya sedikit bersyukur tetapi banyak menuntut. Bukan melihat ke bawah kita malah melihat ke atas. Manusia diciptakan dengan potensi yang berbeda, ada yang kaya dan ada yang miskin. Semua itu ujian dari-Nya tinggal bagaimana kita menyikapinya.
Ada sebuah kisah yang menarik untuk kita simak, suatu ketika ada seorang lelaki yang mendatangi Abdullah Ibn Al Mubarak, dia bertanya tentang penyakit di lututnya yang tak bisa sembuh selama 7 tahun. Berbagai obat dia telah mencobanya tetapi tetap sampai saat itu belum menghasilkan kesembuhan.
Ibnu Al Mubarak pun berkata kepadanya, pergi dan galilah sumur karena manusia sedang membutuhkan air. Saya berharap akan ada mata air dalam sumur yang engkau gali dan dapat menyembuhkan sakit di lututmu, lalu lelaki itu pun melakukannya, kemudian dia mendapatkan kesembuhannya.
Ada kisah lain yang mengagumkan, ada seorang wanita yang telah menikah pada tahun 2012, dia dan suami menginginkan dan tidak menunda untuk memiliki keturunan. Namun setelah setahun berjalan pernikahan dia belum hamil, dia sampai khawatir mungkin ada yang salah dengan dirinya sehingga belum hamil.
Hingga menjelang Idul Adha dia dan suami sepakat untuk berkurban, mereka nekat meskipun saat itu kondisi keuangan sedang kekurangan. Sebulan setelah berkurban akhirnya Allah menurunkan rahmat, dia hamil.
Ada lagi kisah yang mengharukan sebut saja namanya Budi, seorang penjual gorengan yang tiba-tiba bisa naik haji lantaran dia mempunyai hati yang tulus memberikan sepotong buntut singkong kepada seorang yang kebetulan lalu lalang di depan gerobaknya, peristiwa itu terjadi sekitar 24 tahun yang lalu, saat itu ada anak kecil bersama bapaknya sedang berjalan, Budi pun memanggil dan menyodorkan bontot singkong dengan gembira anak kecil itu menerima dan memakannya.
Setelah 24 tahun berlalu ada seorang pemuda dengan mobil mewah yang dikendarainya berhenti persis di depan gerobaknya, pemuda itu bertanya buntut singkong, tapi Budi mengatakan tidak ada.
Pemuda itu kemudian dengan santun bilang bahwa dia adalah anak kecil yang dulu pernah diberi bontot singkong. Pemuda itu merasa bahagia waktu dikasih bontot singkong lalu pemuda itu memberangkatkan haji Budi si tukang singkong. Sebuah kisah yang sederhana tapi membawa pesan moral tinggi untuk hidup bersosial.
Sedekah merupakan salah satu sarana untuk menghapus dosa dan kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan. Keutamaan dan manfaat sedekah yaitu mendapatkan pahala yang besar, rezeki semakin bertambah, menghapuskan dosa, memperoleh kedudukan yang tinggi, menyembuhkan penyakit, mencegah dari azab neraka.
Orang meninggal pun jika hidup dia juga ingin bersedekah, sedekah tidak harus dengan uang. Kita yang tidak punya harta bisa juga melakukan sedekah yang pahalanya bisa menggungguli orang kaya, kita tidak perlu khawatir tidak bisa berbuat apa-apa dengan kondisi yang serba kekurangan karena sedekah tidak hanya bisa dilakukan dengan uang tetapi bisa dengan hal lainnya.
Pesan moral dari buku Tukang Singkong Naik Haji adalah bersedekah akan menjadikan hidup berkah jika dilakukan dengan iklas dan tulus. Kebahagiaan pasti datang menjumpai kita.
seperti dijelaskan Rasullah dalam sabdanya ‘’Bersedakahlah kalian, meski hanya dengan sebiji kurma, sebab sedekah dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan dan memadamkan kesalahan, sebagaimana air mampu memadamkan api.”
Judul : Tukang Singkong Naik Haji
Penulis : Satria Nova
Editor : Abu Mumtaza
Penerbit : Mizania
Tahun Terbit : Pertama, Februari 2017
Jumlah Halaman :196 Halaman

