Yang Fana Adalah Waktu

*Oleh Arum Nila Nadiya, S.Pd.

Novel ini berkisah pada hubungan antara Sarwono, seorang dosen Antropologi yang sederhana, dan Pingkan, seorang dosen muda Bahasa Jepang yang cerdas dan cantik.

Dalam novel ini, banyak konflik. Sarwono, yang sejak awal merasa inferior karena latar belakangnya yang sederhana, kini semakin sering digelayuti rasa cemas, sakit, dan ketidakberdayaan. Ia menderita penyakit yang menggerogoti tubuhnya, seakan mengingatkan bahwa “yang fana hanyalah waktu, sedangkan cinta bisa melampaui batas usia dan kematian.”

Pingkan sendiri berada di pusaran dilema. Di satu sisi, ia mencintai Sarwono dengan tulus, tetapi di sisi lain ia harus berhadapan dengan keluarganya yang menganggap hubungan mereka tidak setara, juga dengan masa depan kariernya yang menuntut banyak pengorbanan.

Novel ini tidak hanya bercerita tentang cinta dua manusia, tetapi juga menghadirkan percakapan filosofis tentang waktu, kefanaan, kematian, perbedaan budaya, agama, dan latar sosial. Sapardi menggunakan alur yang tenang, puitis, dan penuh makna, sebagaimana ciri khas beliau sebagai penyair besar Indonesia.

Tema dan Pesan Utama

Tema sentral novel ini adalah kefanaan manusia di hadapan waktu, serta bagaimana cinta bisa tetap abadi meski terhalang oleh penyakit, perbedaan, bahkan kematian.

Beberapa pesan penting dalam novel ini:

  1. Cinta sejati melampaui sekat-sekat duniawi – tidak peduli perbedaan status sosial, agama, budaya, bahkan usia.
  2.  Waktu adalah hal yang fana – manusia bisa lenyap, tubuh bisa rapuh, tetapi kenangan, kasih sayang, dan keabadian cinta tetap hidup dalam ingatan.
  3.  Penerimaan diri – melalui tokoh Sarwono, pembaca diajak memahami bahwa manusia tidak selalu bisa melawan takdir, tetapi bisa belajar menerima dengan lapang dada.
  4. Makna kebersamaan – Sapardi menegaskan bahwa kebahagiaan kecil bersama orang yang kita cintai seringkali lebih bermakna daripada pencapaian besar dalam hidup.

Kelebihan

  1. Bahasa yang indah dan puitis – ciri khas Sapardi yang membuat pembaca tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga larut dalam permenungan.
  2. Cerita yang realistis dan emosional – menghadirkan dilema kehidupan nyata, bukan sekadar kisah cinta klise.
  3. Mengandung nilai filosofis – mengajak pembaca merenungi tentang waktu, cinta, dan kematian.
  4. Penutup trilogi yang menyentuh – berhasil memberikan kesan mendalam setelah perjalanan panjang kisah Sarwono dan Pingkan.

Kekurangan

  1. Alurnya lambat – bagi pembaca yang menyukai cerita cepat, novel ini bisa terasa membosankan.
  2.  Banyak bagian filosofis – kadang terlalu melankolis, sehingga tidak semua pembaca bisa langsung memahami maksudnya.
  3. Akhir yang menyedihkan – meski sesuai tema, bagi sebagian pembaca bisa terasa berat dan menyesakkan.

Kesimpulan

Yang Fana Adalah Waktu adalah novel yang tidak sekadar menghadirkan kisah cinta, tetapi juga renungan mendalam tentang kefanaan manusia di hadapan waktu. Sapardi Djoko Damono berhasil menutup trilogi ini dengan nuansa sendu, indah, dan penuh makna.

Buku ini cocok bagi pembaca yang menyukai karya sastra bernuansa puitis, reflektif, dan penuh filosofi. Bukan sekadar hiburan, tetapi juga sebuah ajakan untuk merenungi hidup, menerima kefanaan, dan menghargai setiap momen bersama orang yang kita cintai. (ykib/arum).

Identitas Buku

Judul                     : Yang Fana Adalah Waktu

Penulis                 : Sapardi Djoko Damono

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit      : 2018

Tebal Buku          : 226 halaman

 

*Penulis Resensi adalah Wakil Kepala Kampung Ilmu Kalitidu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *