*Oleh Christin Nur Aisyah, S.Sos.
Novel berjudul Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye ini merupakan salah satu karya bergenre drama keluarga yang sangat menyentuh dan sarat akan nilai moral kehidupan. Novel ini menjadi bagian penting dari jajaran karya Tere Liye yang secara konsisten mengeksplorasi sisi emosional hubungan antara orang tua dan anak. Di dalamnya, kita diajak melihat bagaimana sebuah kejujuran dan kesederhanaan dipertahankan di tengah gempuran dunia modern yang semakin realistis serta materialistis.
Novel ini mengisahkan tentang seorang anak laki-laki bernama Dam yang sedari kecil hidup dalam naungan cerita-cerita luar biasa dari ayahnya. Sang Ayah selalu digambarkan sebagai sosok yang sangat bersahaja, namun memiliki masa lalu yang penuh petualangan menakjubkan. Dam tumbuh besar dengan mendengarkan kisah tentang persahabatan ayahnya dengan El Capitano, pemain sepak bola nomor satu di dunia, perjalanan mistis ke Lembah Bukhara untuk menemukan apel emas yang membawa kedamaian, hingga kisah keteguhan hati si Raja Tidur, seorang hakim agung yang menegakkan hukum dengan keadilan mutlak.
Namun, seiring berjalannya waktu dan tumbuh menjadi pemuda yang logis, Dam mulai meragukan cerita-cerita tersebut. Dia merasa terpikat sekaligus terbebani oleh ekspektasi lingkungan sosialnya, yang menganggap semua dongeng sang ayah hanyalah bualan atau kebohongan belaka. Ketidakpercayaan ini membawa Dam pada konflik batin yang berkepanjangan dengan ayahnya, dan menjadi awal mula keretakan hubungan mereka.
Puncaknya terjadi ketika sang ibu meninggal dunia, dan Dam secara terang-terangan menolak cara pandang ayahnya yang dianggap tidak lagi realistis. Rencana Dam untuk menjauhkan anak-anaknya, Zas dan Qon, dari pengaruh dongeng sang kakek justru membuat ayahnya semakin kesepian di masa tua. Hubungan yang membeku itu terus berjalan hingga sang Ayah mengembuskan napas terakhirnya.
Kebenaran yang sesungguhnya baru terungkap tepat pada hari pemakaman sang Ayah. Melalui kehadiran para tokoh legendaris yang mendadak muncul secara nyata dalam prosesi pemakaman tersebut, Dam akhirnya menyadari dengan penuh penyesalan bahwa ayahnya bukanlah seorang pembohong, melainkan seorang tokoh hebat yang memilih jalan hidup dalam kesederhanaan.
Selain menggambarkan potret drama keluarga dan dinamika hubungan ayah-anak pada era modern, novel ini juga kaya akan isu sosial yang menjadikan pembentukan karakter anak sebagai fokus pembahasan. Alurnya banyak mengangkat tema kejujuran moral, integritas seorang pendidik, serta stigma kesuksesan hidup yang sering kali hanya diukur dari materi dan kekuasaan. Melalui karya ini, penulis ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga prinsip hidup, ketulusan cinta orang tua, dan bagaimana sebuah dongeng bisa menjadi cara mendalam untuk menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak.
Dari segi tata bahasa, penyampaiannya cukup mengalir karena penulis banyak menyisipkan analogi imajinatif serta diksi yang menyentuh hati. Banyak pula pelajaran hidup dan kutipan reflektif yang diangkat, sehingga dapat menambah wawasan serta kepekaan batin pembaca.
Namun, pembaca mungkin akan merasa agak jenuh pada beberapa bab di pertengahan. Hal ini dikarenakan alur cerita tiba-tiba mengulang kembali penggambaran detail dongeng masa lalu, sehingga transisi konfliknya terasa agak lambat untuk memastikan apa yang sebenarnya menjadi titik balik kemarahan Dam. Kurangnya variasi pergerakan plot di bagian tengah ini membuat temponya terasa agak monoton sebelum akhirnya mencapai klimaks cerita. (ykib/christin).
Identitas Buku
Judul Buku : Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2011
Tebal Halaman : 304 halaman
Genre : Fiksi Drama
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

