Bukan Pasar Malam

Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.

Novel karya Pramoedya Ananta Toer yang berjudul “Bukan Pasar Malam” ini menceritakan tentang seorang pemuda yang memiliki ayah seorang pejuang nasionalis atau memiliki sifat nasionalisme yang tinggi, tetapi saat ini ayahnya sedang dalam kondisi sakit karena mengidap penyakit TBC. Ayah dari sang pemuda tersebut menginginkan agar ia  yang berada di Jakarta untuk bisa segera pulang kampung ke Blora (kediaman ayah dan keluarganya) untuk menjenguk dan tinggal beberapa hari di kampung agar dapat menemani sang ayah.

Pemuda tersebut akhirnya memutuskan untuk pulang kampung dengan serta merta mengajak istrinya. Sesampainya di Blora pemuda tersebut pun bertemu dengan sang ayah yang tergolek lemas akibat sakit TBC yang dideritanya. Momen pertemuan antara pemuda dan ayahnya menjadi penuh tangis haru. Pemuda tersebut merasa sedih melihat ayahnya yang dulu berdiri dengan gagahnya menjadi pemimpin perang gerilya yang cerdik, guru yang hebat, sekaligus seorang politikus kini hanya terbaring lemas menjadi manusia yang tak berdaya. Pemuda tersebut ingin membawa sang ayah untuk pergi berobat ke dokter spesialis, tetapi kondisi keuangan yang tidak memungkinkan membuatnya hanya bisa pasrah. Meskipun demikian, justru di momen itulah sang pemuda dapat menjalin keakraban kembali dengan sang ayah serta adik- adiknya setelah sekian lama berpisah.

Suatu hari istri sang pemuda ingin kembali ke Jakarta, dengan alasan kondisi keuangan yang tidak memadai, akhirnya sang pemuda mengiyakan keinginan istrinya tersebut. Sang pemuda mengutarakan keinginan istrinya untuk kembali ke Jakarta kepada ayahnya, namun sang ayah menolaknya dengan memohon kepada sang pemuda untuk tinggal seminggu lagi. Tak terasa waktu seminggu telah berakhir, namun sang pemuda tetap tidak ingin meninggalkan sang ayah karena sang pemuda merasa tak tega dengan kondisi ayahnya yang sekarang dan pemuda tersebut merasa memiliki kewajiban penuh terhadap sang ayah. Kejadian yang tak diinginkan pun terjadi juga, sang ayah meninggal dunia setelah dibawa pulang ke rumah oleh anak- anaknya. Tangis kesedihan pun membanjiri rumah yang tua itu. Setelah ditinggal pergi ayahnya, sang pemuda mendapat banyak pembelajaran bahwa kehidupan di dunia ini bukan seperti pasar malam yang berbondong-bondong datang dan berbondong-bondong kembali, melainkan hanya menanti kepergian dengan segala persiapan berupa bekal amal kebaikan yang mereka kerjakan selama masih dapat menghirup udara yang ada di bumi yang fana ini.

Kelebihan

  1. Kelebihan pada novel “Bukan Pasar Malam” karya Pramodya Ananta Toer ini adalah penulis mampu membuat rentetan alur cerita yang mengharukan, mengesankan dan penuh dengan renungan sehingga membawa pambaca terhanyut di dalamnya. Penulis juga memaparkan bagaimana kehidupan seorang ayah yang rela berkorban demi mempertahankan hak guru serta republik setelah baru merdeka, dan bagaiman politikus – politikus memperebutkan kekuasaannya dengan melakukan segala cara.
  2. Penulis juga memaparkan amanat yang bisa dipetik pembaca antara lain bahwa kehidupan itu bukan seperti pasar malam yang ramai dikerumuni orang melainkan ketika hidup dan mati kita selalu sendiri, datang sendiri, pergi sendiri dan yang belum pergi dengan cemas menunggu giliran waktunya tiba.

Kelemahan

  1. Kelemahan novel Pramoedya Ananta Toer ini telihat dari segi bahasa yang digunakan terlalu berbelit-belit dalam memaparkan isi cerita. Bagi pembaca pemula atau masih awam mungkin akan kurang menarik dan kurang mengerti dengan bahasa yang digunakan penulis.
  2. Novel ini tidak menggunakan nama sebagai identitas tokoh, sehingga pembaca akan merasa bingung. Tokoh “aku” digunakan untuk menggambarkan diri dari sang pemuda tersebut.

Pesan

  1. Makna pasar malam yang digunakan Pramoedya ini menunjukkan hiruk pikuk suasana pasar yang ramai penuh dengan kesenangan, keceriaan, dan bahagia dimana orang-orang datang bersama dan pulang pun bersama baik dengan rekan maupun keluarga. Dikatakan “bukan pasar malam” karena sesungguhnya kehidupan ini tidak seperti kondisi pasar tersebut, kita datang sendiri (hidup) dan pulang (matipun) sendiri. Kita datang dan pergi juga tidak membawa satu harta benda apapun, hanya berbekal amal perbuatan.
  2. Setiap kesulitan pasti ada hikmah dibaliknya. Hal ini ditunjukkan saat kondisi ayahnya yang semakin parah dan sang pemuda sudah tidak sanggup untuk membawanya berobat, justru momen tersebut menjadi pengikat hubungan kekeluargaan mereka yang sudah lama berpisah.

 

Identitas Buku :

Judul novel             : Bukan Pasar Malam

Penulis                    : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit                  : lintiara Dipantara, multi karya 11/26 utan kayu, jakarta timur, indonesia.

ISBN                        : 979-97312-12-6

Cetakan                  : 9 Oktober 2010

Ukuran Buku          : 13 x 20 cm

Jumlah halaman   : 104 halaman

*Penulis adalah guru Bimbel Gugusan Bintang YKIB

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *