Climate Reporter Karya Terpilih Lomba Meliput Perubahan Iklim 2015

*Oleh Anggara Putra Yudha, S.Hut.

            Buku ini memuat karya-karya hasil liputan wartawan peserta lomba lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS (Lembaga Pers Dr. Soetomo). Buku Climate Reporter merupakan koleksi pilihan 28 karya dari 41 karya peserta dalam lomba meliput perubahan  iklim LPDS Tahun 2015.

            Banyak kisah-kisah  inspiratif serta mambangun, terutama dalam bidang lingkungan. Seringkali kita tidak mengetahui  aktivitas keseharian  apa saja yang menjadi atau dapat berdampak pada perubahan iklim itu sendiri. Buku ini menjelaskan bagaimana isu lokal perubahan iklim di berbagai wilayah, LPDS menerima 42 karya namun satu karya tidak memenuhi tolok ukur karena tidak menyangkut isu lokal. Tolok ukur yang digunakan dalam penilaian karya para wartawan terdiri dari pemilihan isu lokal perubahan iklim hasil liputan lapangan dengan narasumber utama, uraian masalah, dampak dan pilihan jalan keluar, tulisan berdampak pada pembaca serta lead efektif, bertata bahasa baku dan bergaya tulis cair/mudah  dipahami juga mencerdaaskan.

            Karya-karya yang diseleksi dalam buku ini diuji oleh orang-orang yang berkompeten pada bidangnya sehingga ditunjuk sebagai Dewan Penguji/Juri pada lomba lokakarya Meliput Perubahan Iklim LPDS. Dewan Penguji/Juri yaitu IGG Maha Adi (Direktur, Society Of Indonesia Environmental Journalists, SIEJ), Priyambodo RH (Direktur Eksekutif LPDS), dan Wrief Djajanto Basorie (Staf Khusus Bidang Eksternal LPDS, Manager Proyek Meliput Perubahan Iklim). Hasil penilaian pemenang para dewan juri jatuh kepada Helti Marini Sipayung wartawan ANTARA  Biro Bengkulu dengan karya berjudul Memanen Kebaikan Mangrove sementara pemenang kedua dengan karya berjudul Kampung Penuh Kotoran Sapi yang kini Jadi Sentra Biogas karangan Firmansyah dari Kompas.com.

            Kelebihan karya dua pemenang tersebut terletak dalam dua hal. Pertama, Memanen Kebaikan Mangrove karya Marini merupakan success story dan dapat dicontoh daerah lain dengan ekosistem bakau serupa. Marini melaporkan hutan bakau di muara air (sungai) Manjunto, Kabupaten Mukomuko, dipelihara masyarakat setempat untuk kelestarian alam. Lebih jauh hutan mangrove itu memberikan nafkah menjanjikan bagi penduduk. Kepiting yang menyangkut di jaring bakau dapat menghasilkan pendapatan sampai Rp400.000 per hari bagi seorang petani.

Kedua, Marini menjelaskan kaitan pemeliharaan mangrove dengan upaya mengurangi emisi karbon, sehingga mengendalikan pemanasan global dan perubahan iklim. Wawancara dengan ilmuwan memberi kejelasan tentang hal ini. Marini juga mewawancarai juga petani kepiting, kepala kelompok tani, kepala desa, dan ketua komunitas mangrove. Dengan demikian hasil peliputannya menyeluruh, sehingga tidak menimbulkan pertanyaan dalam benak pembaca. Dalam hal penyajian, Marini menulis lead efektif berbentuk kombinasi deskripsi dan narasi berunsur manusia kuat.

Kampung Penuh Kotoran Sapi yang Kini Jadi Sentra Biogas karangan Firmansyah juga cerita sukses. Firmansyah melaporkan usaha satu komunitas mengolah kotoran hewan pengganggu kesehatan manusia menjadi barang bermanfaat. Kotoran sapi menjadi bahan bakar gas untuk tenaga listrik rumah tangga dan penerangan jalan bagi warga Kelurahan Lingkar Barat, Kota Bengkulu. Di sini pun hubungan pengolahan kotoran sapi dengan perubahan iklim dijelaskan. Unsur manusia dengan kutipan hidup membuat kuat tulisan Firmansyah.

Karya dengan perolehan nilai tertinggi ketiga sejatinya layak masuk kelompok pemenang. Terjepit di Antara Lahan Sawit, karya Zaki Setiawan koresponden Koran Sindo di Batam, menekankan perjuangan pada hak asasi. Warga desa di Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, menolak menjual sawah mereka penghasil padi bermutu kepada perusahaan swasta yang mau mengubah lahan subur itu menjadi perkebunan kelapa sawit. Ada Sawit Ramah Lingkungan di Sintang karya Reinardo Sinaga, RRI, Pontianak, merupakan karya lomba terpanjang. Liputan lapangan dua hari di Desa Merarai Satu, Kabupaten Sintang, melaporkan kelapa sawit bertumpang sari dengan semangka dan terong, padahal sawit dikenal tanaman monokultur dan rakus air. Saya sendiri sangat menyukai karya dari Timoteus Marten tabloid Jubi, Jayapura yang berjudul Hutan Hilang Bencana Datang yang berlatar di Kalimantan Selatan pada tahun 2014 dimana iklim mulai berubah, cuaca tak menentu, ditambah maraknya perusakan hutan dan penambangan liar yang semakin memperkeruh lingkungan.

Karya di atas merupakan sebagian dari karya-karya bagus lainnya yang ada di buku ini, sehingga buku ini sangat cocok dibaca oleh penggiat lingkungan, masyarakat pada umumnya, atau pelajar sebagai bahan referensi dan juga dapat menjadi terobosan baru dalam ilmu mengelola lingkungan yang dapat menguntungkan masyarakat dan mengurangi dampak perubahan iklim. (*/ykib).

Judul Buku : Climate Reporter Karya Terpilih Lomba Meliput Perubahan Iklim 2015

Penyusun Buku : Warief Djajanto Basorie

Tahun Terbit : 2015

Penerbit : Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS)

Halaman : xvi+198 halaman

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *