David dan Goliat

Oleh Muhammad Roqib

Apakah Anda pernah mendengar cerita tentang David dan Goliat ?. Saya kira kita pernah mendengarnya, meskipun tidak tahu persis bagaimana ceritanya. David adalah seorang yang digambarkan kecil dan lemah, sedangkan Goliat adalah seorang raksasa.

David dan Goliath bertemu di lembah Elah, di tengah-tengah daerah Palestina kuno. Saat itu bangsa Filistin yang berasal dari Pulau Kreta di Laut Tengah (sekarang masuk wilayah Yunani) hendak menguasai wilayah Palestina. Di kawasan itu hidup bangsa Israel di bawah kepemimpinan Raja Saul.

Pasukan Filistin mendirikan perkemahan di punggung selatan Elah. Pasukan Israel berkemah di sisi seberangnya, di punggung utara sehingga kedua pasukan itu bisa saling pandang menyeberangi lembah Elah. Kedua pihak sama-sama tak berani maju lebih dulu. Menyerang lebih dulu berarti menurungi punggung bukit lalu menantang bahaya dengan mendaki bukit yang ditempati musuh.

Pada saat itulah, bangsa Filistin menyuruh salah seorang prajurit raksasanya yang bernama Goliat untuk bertempur satu lawan satu dengan prajurit bangsa Israel. Goliat seorang raksasa, tingginya dua meter, mengenakan helm perunggu dan zirah lengkap. Dia membawa lembing, tombak, dan pedang. Goliat menghadapi pasukan Israel dan berteriak menantang :

“Ayo silakan maju, kita bertarung satu lawan satu”.

Kubu Israel ketakutan; tak seorang pun bergerak maju. Siapa yang dapat menaklukkan musuh semengerikan itu?. Lalu, seorang bocah gembala yang tadinya turun dari Bethlehem untuk membawakan makanan kepada kakak-kakaknya melangkah maju dan mengajukan diri. Dialah David. Tetapi, pemimpin bangsa Israel, Saul menolak.

“Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedangkan dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit”.

Tapi si gembala, David, bersikeras. Dia percaya diri bisa mengalahkan si raksasa, Goliat. Dan dimulailah salah satu pertarungan paling terkenal sepanjang sejarah. Pertempuran satu lawan satu antara David atau Daud dengan si raksasa, Goliat.

Yang terjadi berikutnya telah melegenda. Daud atau David mengambil batu dan menaruhnya di katapel, lalu melontarkan batu itu ke dahi Goliat yang tidak terlindung. Goliat jatuh terkapar. Daud berlari mendekatinya, mengambil pedang si raksasa, dan menghabisinya.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari kisah itu. Yang dilihat pasukan Israel dari atas punggung bukit adalah raksasa yang menakutkan, yakni Goliat. Kenyataannya, ukuran si raksasa adalah sumber kelemahan terbesarnya juga. Ada hikmah yang kuat di dalam cerita ini yakni bagi segala pertempuran atau pertarungan melawan semua jenis raksasa. Yang kuat tidak selalu benar-benar kuat.

Daud atau David berlari menuju Goliat, karena tanpa dibebani zirah dia menjadi cepat dan gesit. Dia menaruh batu dalam katapel, lalu memutar-mutar katapel, makin lama makin cepat hingga enam tujuh putaran per detik, mengincar dahi Goliat – satu-satunya titik lemah si raksasa.

Goliat tak bisa melihat musuhnya mendekat, dia pun tumbang, karena terlalu besar, dan rabun untuk memahami bahwa keadaan telah berbalik. Daud atau David tidak melawan Goliat dengan cara bertempur yang biasa, yakni beradu pedang dengan jarak dekat, tetapi David bertempur dengan cara jarak jauh, berlari, bergerak lincah dan meluncurkan batu katapel.

Pelajaran yang bisa kita ambil dalam kehidupan sekarang adalah segala sesuatu yang tampaknya terlihat lemah bisa jadi adalah kekuatan. Segala sesuatu yang kelihatannya besar, kuat, dan seperti raksasa justru bisa sebaliknya merupakan kelemahan. Sehingga siapa pun yang merasa kecil, lemah, tak berdaya sebenarnya bisa menang dengan menggunakan kekuatannya dengan tepat dan mengetahui titik lemah lawan meskipun itu seperti raksasa ataupun sistem yang besar di zaman modern ini. (*/ykib)

*Penulis adalah ketua YKIB

Dan Dosen FH Universitas Muhammadiyah Gresik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *