Roosevelt dan Phelp

*Oleh Muhammad Roqib

Anda pernah mendengar nama Theodore Roosevelt?. Iya, dia salah satu Presiden yang pernah memimpin Amerika Serikat selama dua periode. Ia adalah presiden ke-26 di negara adi daya itu. Theodore Roosevelt lahir di New York City pada tanggal 27 Oktober 1958.

Apa yang menarik dari Roosevelt?. Anda mungkin tak mengira kalau Roosevelt kecil sebelumnya adalah anak yang pemalu, sering sakit-sakitan dan bahkan ia pernah menderita asma. Ia anak yang rapuh. Namun, ia sebenarnya anak yang cerdas dan suka membaca sejarah alam.

Orangtua Roosevelt ingin Roosevelt menjadi anak yang cerdas dan juga kuat fisiknya. Mereka mengarahkan Roosevelt mengikuti program pelatihan fisik ketat, mengajak Roosevelt mendaki gunung, dan berbagai olahraga yang bisa memulihkan kondisi fisik Roosevelt.

Hasil didikan orangtuanya itu membuahkan hasil. Roosevelt tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan sehat. Sehingga pada tahun 1876  Roosevelt bisa belajar ke Harvard University. Ketika belajar di sana, Roosevelt mempelajari semua mata pelajaran termasuk bahasa Jerman, sejarah alam, zoologi, forensik, dan komposisi. Setelah lulus dari Harvard College, ia melanjutkan pendidikannya ke Columbia Law School.

Berkat didikan orangtuanya yang hebat, kesempatan dan pengalaman berharga yang diperolehanya, Roosevelt menjadi pribadi yang cerdas dan cemerlang. Ia di puncak karirnya menjadi presiden Amerika Serikat selama dua periode, yakni sejak 14 September 1901 sampai 4 Maret 1909. Ia menjadi presiden Amerika Serikat termuda, yakni berusia 42 tahun ketika pertama kali menjabat.

Ia juga aktif menulis buku meliputi buku sejarah, biologi, geografi, dan filsafat. Ia juga menulis buku biografi dan autobiografi. Sedikitnya ada 25 buku yang dia tulis dan diterbitkan.

Roosevelt yang pada masa kecilnya pemalu, sakit-sakitan, dan menderita asma, bisa tumbuh dan berkembang menjadi seorang pribadi yang kuat, cerdas, dan berpengaruh, berkat bimbingan dan arahan dari orangtuanya yang memiliki gaya pengasuhan yang disebut “concerted cultivation”.

Anda pernah mendengar perenang hebat bernama Michael Phelps?. Ia atlet renang asal Amerika Serikat yang menjadi salah satu bintang paling bersinar terang di Olimpiade Rio pada 2016. Ia mengoleksi sedikitnya 21 medali emas dari 4 olimpiade yang diikutinya. Luar biasa bukan?.

Tapi tahukah Anda bahwa masa kecil Phelps sebenarnya cukup berat. Semasa kecil Phelps pengidap gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif. Phelps adalah anak berkebutuhan khusus.

Oleh dokter anak yang menanganinya semasa kecil, Phelps diharuskan mengonsumsi obat Ritalin agar tidak hiperaktif saat mengikuti pelajaran di kelas. Gara-gara obat itu pula, ia mengalami bullying setiap kali perawat sekolah mengingatkan Phelps untuk minum obat di depan teman-temannya.

Phelps tidak bisa diam. Dia super aktif. Sehingga dianggap mengganggu teman-temannya di kelas. Tetapi, ibu Phelps pantang menyerah. Ibunya berusaha mengarahkan Phelps agar bisa berkembang. Kelebihan energi yang membuat Phelps hiperaktif, disalurkan ke cabang olah raga renang. Sejak saat itu, Phelps lepas dari ketergantungan obat dan membantunya bisa fokus dan mengontrol perilakunya.

Ibunya menemukan potensi dan bakat yang ada dalam diri Phelps yang hiperaktif itu dan menyalurkannya dengan baik, yakni dengan olah raga renang. Hingga akhirnya Phelps berhasil menyabet emas dalam berbagai olimpiade cabang renang dan mengangkat nama Amerika Serikat. Phelps lalu menjadi legenda.

Ibunya Phelps mendidik Phelps yang memiliki kekurangan itu dengan gaya pengasuhan atau didikan “concerted cultivation”. Apa sih concerted cultivation itu ?. 

Concerted cultivation adalah gaya pengasuhan atau didikan yang diberikan kepada anak dengan secara aktif memelihara dan menilai bakat, opini, dan keahlian seorang anak. Gaya didikan concerted cultivation memberikan berbagai kesempatan dan pengalaman kepada anak untuk menemukan dan mengembangkan potensinya, kemampuannya, kognisinya, afeksinya, sehingga anak merasa percaya diri dengan potensi dan kemampuannya. Dengan gaya didikan ini, anak juga memiliki “perasaan memiliki hak” yang akan mengantarkannya menjadi pribadi yang terbuka, percaya diri, dan bisa menghargai orang lain.

Gaya pengasuhan dan pendidikan “concerted cultivation” ini juga berusaha diterapkan di Kampung Ilmu Purwosari dan Kalitidu. Berbagai kesempatan dan pengalaman belajar diberikan kepada anak-anak yang belajar di Kampung Ilmu Purwosari dan Kalitidu. Kesempatan dan pengalaman yang diberikan kepada anak untuk berkembang dan mengasah kemampuannya di bidang akademik, non akademik, akan mengantarkan anak-anak kelak menjadi pribadi yang kuat, cerdas, cemerlang dan meraih keberhasilan seperti halnya Theodore Roosevelt dan Michaels Phelps. Semoga Alloh meridhoi. Amiin ya robbal alamin. (ykib).

*Penulis adalah Ketua Yayasan Kampung Ilmu Bojonegoro

Dan dosen FH Universitas Muhammadiyah Gresik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *