Rara Mendut

*Oleh Christin Nur Aisyah, S.Sos.

Buku novel berjudul Rara Mendut karya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Y.B Mangunwijaya ini merupakan satu dari tiga buku trilogi yang ditulis beliau dengan berlatar waktu sejarah. Dua karya lainnya yang masuk pada trilogi Rara Mendut, yaitu Genduk Duku dan Lusi Lindri.

Novel ini mengisahkan tentang seorang gadis yang sedari kecil hidup di pesisir pantai. Dia hidup bersama sang Siwa, pamannya. Dia digambarkan sebagai gadis yang maskulin, berani turut berlayar mencari ikan di laut. Hingga sang Siwa membayangkan siapa yang kelak akan menjadikannya istri. Apakah pasangannya akan berbahagia mendapatkan Mendut atau malah judeg, menghadapi Mendut yang gesit dan cerdas ini?

Pada akhirnya, seorang Adipati bernama Pragola menaruh hati kepada Rara Mendut. Dia terpikat oleh pesona, kecerdasan, dan sikap tekun Mendut. Dia diboyong oleh rombongan prajurit Pragola ke kadipaten untuk dijadikan selir, hingga inilah awal mula Rara Mendut bertemu dengan dayang kesayangannya, yakni Genduk Duku dan Ni Semangka yang akan selalu menemani serta melayaninya.

Rencana menjadikan Mendut sebagai selir tertunda dan berganti sebagai ‘rampasan’ oleh Tumenggung Wiraguna yang mana merupakan Panglima kepercayaan Mataram. Tidak hanya Mendut yang diboyong ke Mataram, kedua dayang serta seluruh harta Pragola turut dirampas oleh Wiraguna. Bahkan, Wiraguna berhasil memenggal kepala Pragola yang kemudian disusul oleh sang permaisuri.

Kemenangan Wiraguna menjadi awal penderitaan Rara Mendut. Bukan sekadar karena statusnya sebagai rampasan, melainkan sikap pemberani dan terang-terangan Rara Mendut menolak pinangan Wiraguna yang membuatnya merasa tindakan Rara Mendut tersebut meruntuhkan harga dirinya. Penolakan Rara Mendut bukan tanpa sebab, dalam hatinya telah terdapat satu nama pemuda, yaitu Pranacitra yang berasal dari Pekalongan.

Beberapa upaya dilakukan Wiraguna untuk membuat Rara Mendut menyerah dan bersedia dipinang oleh Wiraguna untuk mengembalikan citranya sebagai Panglima, akan tetapi Rara Mendut tidak kalah gigihnya memperjuangkan haknya agar terlepas dari Wiraguna. Tantangan yang diberikan ialah Mendut harus membayar pajak kepada Wiraguna dengan nominal yang telah ditentukan. Setiap keberhasilan Mendut membayar pajak, membuat Wiraguna merasa gelisah karena Mendut selalu berhasil membayar pajak sesuai nominal yang diminta.

Keberhasilan Mendut sendiri, sebab memanfaatkan kecerdasan yang dimilikinya. Mendut menjual rokok dengan tawaran rokok tersebut sisa dari hisapannya. Dia mempergunakan paras cantiknya untuk membuat rokok yang dia jual laris, dan dia dapat membayar pajak Wiraguna.

Di sisi lain, Nyai Ajeng garwa padmi Wiraguna yang awalnya tidak menyukai kehadiran Rara Mendut, berubah menjadi iba dengan apa yang menimpanya. Ia merasa belas kasihan terhadap Mendut yang memperjuangkan segala hal agar bisa membayar pajak dari sang suami. Sang Nyai Ajeng pun ikut memberikan nasihat atau pengingat agar Wiraguna ingat terhadap kedudukan dan sikapnya yang apabila Wiraguna terlalu gegabah bertindak hanya gara-gara perempuan, harga dirinya akan benar-benar runtuh.

Novel ini tidak hanya menggambarkan potret peradaban dan dinamika kehidupan pada era kerajaan Mataram dan Pati. Tetapi, novel ini penuh oleh sarat isu sosial yang menjadikan Rara Mendut sebagai objek utama pembahasan. Dalam alur kisahnya, banyak mengangkat tentang emansipasi perempuan, atau stigma takaran kesempurnaan perempuan dan kekuasaan. Hal-hal yang ingin disampaikan oleh penulis adalah tentang kekerasan gender, marginalisasi, beban ganda perempuan, inferioritas gender, dan subordinasi. Dari isu-isu inilah kita dibuat sadar bahwa seharusnya siapapun boleh berpendapat atau memutuskan sesuatu hal, entah laki-laki atau perempuan memiliki derajat dan kesempatan yang sama.

Dari segi tata bahasa cukup unik, sebab penulis banyak menyisipkan kosa kata bahasa Jawa yang mungkin untuk saat ini sudah tidak pernah digunakan lagi karena tergerus oleh perubahan masa. Banyak juga tembang-tembang Jawa yang diangkat sehingga dapat menambah wawasan pembaca.

Namun, perlu diperhatikan oleh pembaca. Mungkin akan dibuat agak sedikit kebingungan tentang alur, sebab alur cerita tiba-tiba mengarah pada konflik baru dan membuat kita mengulang kembali di halaman sebelumnya untuk memastikan apa yang telah terjadi pada cerita sebelumnya. Kurangnya pemahaman kosakata serta diksi tempo dulu juga membuat kita mungkin agak sedikit kurang menyambung atau tidak menangkap sepenuhnya maksud dari cerita tersebut. Serta, beberapa dialog ditulis sebaris yang akan membuat kita berpikir dialog itu masih bermaksud pada satu lawan bicara, namun ternyata sang tokoh juga bermaksud berbicara dengan lawan bicara yang lainnya. (ykib/christin).

Identitas Buku

Judul Buku                   : Rara Mendut

Penulis                         : Yusuf Bilyarta Mangunwijaya

Penerbit                      : PT Gramedia Utama Pustaka

Tahun Terbit               : 2024 (Cetakan Kesembilan)

Tebal Halaman           : 338 halaman

Genre                          : Fiksi Sejarah atau Sastra Klasik

 

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *