*Oleh Septiani Ika Wulandari, S.Pd.
Novel ini ditulis oleh Jombang Santani Khairen atau biasa lebih dikenal sebagai J.S. Khairen adalah seorang novelis muda Indonesia. Karyanya mencakup berbagai genre seperti petualangan, drama, kesetiaan, politik, horor, dan fantasi. Ia mulai menulis pada tahun 2013 dan dikenal publik dengan novel “Kami (Bukan) Sarjana Kertas”
Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu mengangkat kisah tentang keluarga, perjuangan hidup, pendidikan, serta pengorbanan orang tua. Cerita dalam novel ini dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami pesan yang disampaikan. Mengajak pembaca untuk bersyukur atas apa yang kita dapatkan selama ini.
Novel ini menceritakan dua individu yang sedang mengalami kesulitan dalam hidup mereka. Pada cerita ini memfokuskan kepada dua karakter utama yaitu Zenna dan Asrul. Zenna anak ke-6 dari 11 bersaudara. Ia dan keluarganya tinggal di punggung Gunung Singgalang. Harus berjalan ke sekolah dengan sepatu rombeng dan menjual jagung rebus. Ayahnya meninggal sebelum sempat menepati janji membelikannya sepatu baru. Sejak usia muda, Zenna memikul tanggung jawab besar dalam keluarganya. Saat Abahnya jatuh sakit, Zenna terpaksa mengambil peran tulang punggung keluarga. Ia harus membantu ibunya agar adik-adiknya tetap melanjutkam pendidikan meskipun dia sendiri masih menempuh pendidikan. Dari sini terlihat betapa kokohnya prinsip dan besarnya rasa tanggung jawab yang ia pikul demi keluarga.
Asrul merupakan anak sulung dari tiga bersaudara yang tumbuh dengan dalam kondisi keluarga yang tidak utuh. Ayah dan ibu Asrul bercerai. Sehingga ayah Asrul menikah lagi dan hidup bersama istri barunya. Sedangkan Asrul, dia membantu ibunya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Asrul juga tumbuh dari latar belakang dari keluarga kurang mampu. Setiap kali Asrul diberi uang oleh Bapak, Asrul selalu mengintip dompetnya, ada kayu manis yang diselipkan Bapak di sana. Asrul tak punya dompet karena ia tak pernah memegang uang. Bila pun dia punya, akan ia berikan pada Umi. Asrul ingin membuatkan rumah untuk Umi suatu saat kelak.
Sehingga takdir menemukan Zenna dan Asrul di kampus. Mereka berdua bertekad mengangkat derajat dirinya dan keluarganya ke kehidupan yang lebih baik. Koran Harian Semangat turut merekatkan hubungan mereka. Hingga kelak mereka menikah dan memiliki rumah. Umi dan Umak mereka bawa tinggal bersama.
Kehidupan mereka walau sudah lebih baik, tidak juga mudah. Musibah datang berkali-kali. “Kita pernah melewati yang lebih buruk dari ini,” kata mereka saling menguatkan.
Perjalanan hidup keduanya akhirnya menunjukkan bahwa perjuangan yang dilakukan dengan kerja keras, kesabaran, doa, dan dukungan keluarga dapat membawa seseorang menuju kehidupan yang lebih baik.
Cerita membawa pembaca untuk melihat kehidupan tokoh-tokohnya yang tidak selalu mudah. Mereka harus menghadapi berbagai masalah dan keterbatasan. Meskipun demikian, keluarga tetap menjadi tempat untuk saling menguatkan. Ayah dan ibu terus berusaha memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, meskipun terkadang harus mengorbankan kepentingan mereka sendiri.
Dompet ayah menjadi gambaran tentang bagaimana seorang ayah berusaha mencari nafkah dan mengatur kebutuhan keluarganya. Sementara sepatu ibu menjadi simbol perjalanan dan perjuangan seorang ibu dalam mendampingi keluarga. Kedua benda sederhana tersebut mempunyai makna yang dalam karena menjadi pengingat akan pengorbanan orang tua.
Kelebihan novel ini adalah ceritanya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tema keluarga, pendidikan, perjuangan, dan cita-cita membuat pembaca mudah memahami pesan yang disampaikan. Bahasa yang digunakan juga cukup mengalir sehingga cerita terasa dekat dan tidak sulit untuk diikuti. Kekurangan beberapa bagian cerita membutuhkan perhatian lebih dari pembaca karena alurnya cukup panjang. Pembaca perlu mengikuti perkembangan tokoh dan peristiwa dengan teliti agar dapat memahami keseluruhan cerita.
Pesan moral yang disampaikan pembaca diajak untuk menghargai orang tua dan tidak melupakan perjuangan mereka. Selain itu, cerita memberikan motivasi agar kita tidak mudah menyerah dalam mengejar pendidikan dan cita-cita. Novel ini membuat pembaca menyadari bahwa benda-benda sederhana seperti dompet ayah dan sepatu ibu dapat menyimpan cerita perjuangan yang sangat besar. Setiap langkah anak dalam meraih cita-cita tidak terlepas dari dukungan dan pengorbanan orang tua. (ykib/septi).
Identitas Buku
Judul : Dompet Ayah Sepatu Ibu
Penulis : J.S. Khairen
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
Tahun Terbit : 2023
Jumlah Halaman : 208 halaman
Genre : Fiksi Inspiratif/Keluarga
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

