*Oleh Rizky Ayu Hudita, S.Hum.
Filosofi Teras adalah karya Henry Manampiring. Henry Manampiring adalah seorang profesional bisa dibilang praktisi dalam bidang periklanan. Spesialisasinya adalah dalam bidang brand strategi and communication dengan pengalaman lebih dari 20 tahun. Kliennya juga sudah mencakup perusahaan-perusahaan besar seperti Coca-Cola Indonesia, Facebook, dan lain-lain. Ia menempuh pendidikan S1 di Universitas Padjadjaran jurusan ekonomi akuntansi dan melanjutkan ke jenjang masternya di University Of Melbourne Australia dalam program Master of Business Administration. Ia juga seorang content creator dan aktif di sosial media dan akrab disapa Om Piring.
Buku Filosofi Teras ini merupakan sebuah buku yang memperkenalkan filsafat Stoik atau Stoa dalam Bahasa Indonesia. Dalam buku ini banyak berkaitan dengan masalah kehidupan sehari-hari. Sebenarnya filsafat Stoik atau Stoisesme ini merupakan aliran filsafat atau massa dari filsafat Yunani Romawi kuno yang berkembang dari 2300 SM sampai 200 M kira-kira sekitaran 500 tahun. Judulnya Filosofi Teras alasannya karena menurut penulis, Stoik itu susah diucapkan jadi Penulis mengambil kata terjemahannya. Diambil dari tempat di mana khusus filsuf dan juga murid-murid berdiskusi yaitu di sebuah teras berpilar yang dihiasi dengan sebuah lukisan. Kira-kira seperti alun-alun di Athena. Oleh karena itu Penulis mengambil judul menjadi filosofi teras.
Isi dari buku ini mengenai penerapan dari filsafat Stoa kepada kehidupan sehari-hari. Buku ini terdiri dari 12 Bab. Di bab 1 diawali dengan survei penulis mengenai kekhawatiran nasional kemudian bab selanjutnya dilanjutkan mengenai tujuan utama dari filosofi teras ini kemudian mengenai hidup selaras dengan alam dan ini yang paling menarik bab 4 mengenai dikotomi kendali, mengendalikan interpretasi dan resepsi, memperkuat mental, bagaimana hidup di antara orang-orang yang menyebalkan, menghadapi kesusahan dan musibah, ada juga mengenai penjelasan parenting atau menjadi orang tua itu seperti apa. Bahkan ada bab mengenai kematian.
Sebanyak 12 bab dijelaskan secara detail dalam buku setebal 320 halaman. Di buku ini kita diajarkan untuk mencari kedamaian dalam hidup melalui diri sendiri bukan ekspektasi di luar kendali kita. Bagaimana caranya mengatasi baper dan galau, cara mengatasi emosi dan cara mengatasi musibah dalam hidup. Prinsip utamanya yaitu manusia tidak sepantasnya untuk melawan sabda alam. Kita ini sebagai manusia harus hidup selaras dengan alam untuk bersikap ikhlas dan lapang dada. Fokus saja pada apa yang dapat dikendalikan. Karena manusia tidak bisa mengendalikan semua hal. Misalnya saat macet. Tidak perlu marah-marah, mengutuk diri karena terjebak macet. Macet itu merupakan keadaan di luar kendali kita. Fokus pada solusi dan hadapi dengan tenang. Berhenti mengutuk keadaan karena justru ketika emosi negatif yang keluar malah akan menambah masalah bukan menyelesaikan masalah.
Buku ini menjelaskan bahwa bahagia adalah manakala kita terbebas dari gangguan emosi atau segala perasaan yang mengganggu kesederhanaan itu. Kemudian pesan atau pelajaran dari buku ini yaitu mengenai mengatur emosi. Itu supaya kita bisa mengatur reaksi pada diri kita sendiri. Salah satu caranya ialah dengan dikotomi kendali. Terdapat dua hal kendali di dunia ini yaitu yang bisa kita kendalikan atau dibawa diri kita dan hal di luar kendali kita. Misalnya hal yang dapat kita kendalikan yaitu pikiran, persepsi, opini dan tindakan diri kita sendiri. Sebaliknya hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan itu misalnya cuaca, macet, atau sakit. Hal lainnya memang bisa kita kendalikan tapi tetap bisa terjadi karena faktor-faktor di luar kita.
Menurut Stoisme, baper galau kecewa sedih bad mood itu merupakan kebahagiaan yang kita gantungkan. Justru di luar hal yang bisa kita kendalikan. Nilai selanjutnya yang didapatkan adalah melatih diri dalam membayangkan hal-hal buruk yang terjadi agar kita lebih siap. Kemudian selanjutnya ialah mengenai bahwa kita semua ini adalah sama jadi jangan mendiskriminasi.
Kelebihan dari buku ini yang pertama ialah tulisannya yang ringan dan mudah dipahami. Gaya penulisan yang kekinian. Di dalam buku ini juga dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi menarik jadi tidak akan bosan saat membacanya. Selain itu juga dalam buku ini ada sentuhan personalnya yaitu dari pengalaman penulis. Menariknya buku Filosofi Teras ini membuat kita mengenali siapa kita. Buku ini mengajak kita untuk berpikir dengan contoh-contoh yang diberikan wawancara bersama tokoh-tokoh sehingga kita bisa menarik garis benang merah antara apa yang disampaikan dengan relevansinya di kehidupan kita sehari-hari.
Buku ini cocok untuk yang sering merasa khawatir, baper, cemas atau mudah tersinggung, marah-marah di sosial media atau yang lainnya. Karena resep kontrol emosi dari zaman dulu ternyata bisa dibawa ke masa ini dan ternyata memang manusia dari dulu sampai saat ini memiliki masalah yang sama mengenai pengelolan emosi. (*ykib/dita).
Identitas buku:
Judul Buku : Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno Untuk Mental Tangguh Masa Kini
Penulis : Henry Manampiring
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun terbit : 2021
Cetakan : ke-25
Tebal : 320 halaman, 14 x 21 cm
ISBN : 978-623-346-303-4
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

