*Oleh Rita Anggraeni, S.S.,M.A.
Novel Hati Suhita merupakan karya dari Khilma Anis. Ia merupakan Ning (putri dari Kiai) Ponpes An Nur di Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ning Khilma memulai karir sebagai penulis pada tahun 2018 dengan karya pertamanya yang berlatar belakang pondok pesantren, berjudul “Hati Suhita”.
Alina Suhita, seorang perempuan cantik, cerdas, dan solehah dari trah darah biru pesantren di Jawa yang sejak kecil sudah terikat perjodohan. Ia telah diminta oleh Kiai dan Bu Nyai Hannan untuk menjadi menantunya. Masa depannya telah ditentukan oleh calon mertuanya, termasuk dalam urusan pendidikannya. Ia telah dipersiapkan untuk menjadi pengurus dari pondok pesantren mertuanya. Sejak kecil, Alina memang sudah didoktrin oleh kedua orang tuanya bahwa cita-cita dan tujuan hidupnya untuk mengabdi di Pesantren Al-Anwar, pesantren milik mertuanya.
Adapun putra tunggal mereka yang menjadi suami Alina lebih menyukai dunia aktivisnya daripada mengurus pondok pesantren abahnya. Gus Al-Birruni, atau dikenal dengan Gus Birru lebih suka berada di luar rumah dan pesantren. Gus Birru lebih memilih berkecimpung di dunia literasi dan jurnalistik sampai mendirikan sebuah kafe yang diisi oleh komunitas jurnalis. Pilihannya tersebut mendapat pertentangan dari Abahnya yang mengharapkan Gus Birru bisa mengurus ponpes milik keluarganya. Hal inilah yang membuat kedua orang tua Gus Birru sangat mengandalkan Alina dalam mengurus pesantren mereka karena anak mereka sendiri dianggap tidak bisa mengelola pesantren.
Alina Suhita adalah nama pemberian kakek, ia berharap bahwa ia akan seperti Dewi Suhita, perempuan tangguh yang pernah memimpin Kerajaan Majapahit. Adapun kata Alina dari kata Alaina. Mereka berharap bahwa ia akan bisa tegar di masa depannya nanti. Ia tersadar bahwa arti namanya tersebut akan benar-benar ia jalani selama menjalani pernikahan dengan suaminya. Sejak hari pertama pernikahannya, Ning Alina sudah diabaikan oleh suaminya. Meskipun ia tidak pernah dianggap ada oleh suaminya, ia berusaha menyiapkan apapun yang diperlukan oleh suaminya. Sikapnya sangat dingin terhadap Alina.
Ning Alina selalu merasa kesepian dan ingin keluar dari semua penderitaan ini. Alasan ia bertahan hanya karena Ummi yang sangat menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Di sisi lain, ternyata tanpa sadar Alina sudah mencintai suami dinginnya tersebut. Alina mengalami perang batin yang begitu menyakitkan dan menyiksanya. Mereka tinggal di kamar yang sama, tetapi tidak pernah menyapa dan saling bicara. Hal ini berbeda ketika mereka berada di luar, mereka harus bersandiwara layaknya suami istri yang mesra.
Sebagai pengantin baru, Alina membayangkan bahwa awal bulan pernikahan menjadi hari paling indah dan membahagiakan, hal ini berbanding terbalik dengan yang dialami oleh Alina. Hari-harinya dipenuhi kesedihan dan deraian air mata karena sikap dingin dan abai suaminya. Di malam pertama, Alina menerima perkataan yang sangat menyakitkan hatinya. Gus Birru mengatakan bahwa ia terpaksa menikahinya, ia tidak mencintainya, dan perkataan menyakitkan yang lain.
Pertanyaan tentang kehamilan pun selalu membayangi keseharian Alina. Hal ini semakin membuat batinnya bergejolak. Usia pernikahan yang sudah berjalan tujuh bulan, tetapi Ning Alina dan Gus Birru belum pernah melakukan hubungan layaknya suami istri. Selama usia tujuh bulan pernikahannya, tidak pernah sekalipun Alina “disentuh” oleh Gus Birru. Justru Ning Alina seperti orang asing, tidak ada pembicaraan, dan kemesraan layaknya pengantin baru. Gus Birru memang terpaksa menikahi Alina karena permintaan Umminya. Umminya memang sudah menentukan jodohnya semenjak ia masih di bangku sekolah menengah pertama. Hal ini bertentangan dengan prinsipnya sebagai seorang aktivis kampus yang seharusnya bisa berjuang dalam menentukan masa depan dirinya sendiri, termasuk urusan jodoh.
Kehidupan rumah tangga Ning Alina dan Gus Birru semakin memanas sejak Alina mengetahui bahwa suaminya telah mencintai perempuan lain yang bernama Ratna Rengganis. Rengganis sebenarnya adalah orang yang ingin dinikahi oleh Gus Birru. Akan tetapi, karena perjodohannya dengan Ning Alina, Gus Birru tidak bisa berbuat apa-apa. Rengganis adalah seorang gadia cantik, cerdas dan juga aktivis yang telah mengisi relung hati Gus Birru selama ini.
Kehadiran Rengganis mampu membuat Alina cemburu. Pada saat keduanya berada di kamar yang sama, Gus Birru selalu mengabaikan Alina dan memilih sibuk dengan ponselnya untuk berkirim pesan dan bertelepon dengan Rengganis. Hal ini sudah berjalan selama tujuh bulan pernikahannya. Gus Birru memang menganggap Ning Alina hanya seorang perempuan penghafal Alquran yang disayangi oleh Umminya. Ia tidak tahu bahwa kenyataannya Alina yang mengurus kedua orang tua dan pondok pesantrennya.
Perasaan sakit hati dan tekanan batin Alina semakin memuncak saat kedatangan Rengganis ke pesantren. Rengganis disambut dengan baik oleh Gus Birru dan Abah dan Ummi. Hal itulah yang membuat Ning Alina menyerah dan memutuskan meninggalkan Gus Birru dan pesantren. Kesabaran, ketabahan, dan ketangguhan yang telah ia bangun dengan susah payah akhirnya sirna karena kedatangan Rengganis. Ia pergi mencari ketenangan di rumah Mbah Puteri dan Mbah Kung. Ia sudah tidak kuat menahan sikap dingin dan perlakuan suaminya.
Setelah kepergian Alina, Abah, Ummi, bahkan pondok pesantren menjadi kacau. Hal ini menyadarkan Gus Birru bahwa ia telah kehilangan pengabsah wangsa yang selama ini ia idamkan. Gus Birru mencari keberadaan Alina, hingga ia tahu keberadaannya. Kemudian, ia segera menyusul Alina. Gus Birru menjelaskan bahwa ia sudah mulai mencintai istrinya. Ia merindukan istrinya. Ia, Abah, Ummi, dan pesantren sangat membutuhkan Alina. Gus Birru menjelaskan bahwa ia sudah selesai dengan Rengganis.
Novel ini diakhiri dengan kebahagiaan Ning Alina yang mendapatkan cinta dan kasih sayang dari suaminya, Gus Birru. Hal ini adalah hasil dari kesabaran Alina yang mampu menaklukan keangkuhan hati Gus Birru. Gus Birru akhirnya sadar bahwa Alina adalah perempuan yang seharusnya ia cintai. Alina sangat sabar menyiapkan keperluannya setiap hari meskipun ia sudah bersikap dingin dan tidak pernah menganggap Alina sebagai istrinya. Selain itu, Ummi dan pondok pesantren juga sangat bergantung pada Alina.
Novel ini sangat kental dengan budaya dan falsafah Jawa yang kuat. Pemilihan nama tokoh, pemilihan diksi, nilai-nilai yang terkandung dalam cerita, dan didukung dengan kisah tokoh pewayangan Jawa yang menambah kekentalan unsur Jawanya. Selain itu, alur penceritaanya diselingi dengan kisah para tokoh pewayangan Jawa yang berhubungan dengan kisah yang dialami tokoh dalam novel. Oleh karena itu, tanpa sadar kita bisa mendapatkan pengetahuan tentang tokoh pewayangan dengan segala wataknya dengan hanya membaca novel ini.
Di dalam cerita tersebut mengandung nilai, falsafah kehidupan dan nasihat baik dan bermanfaat yang bisa dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Novel ini banyak menggunakan istilah bahasa Jawa, jadi bagi pembaca yang tidak bisa bahasa Jawa akan merasa kesulitan dalam memahaminya. (*ykib/rita).
Identitas buku:
Judul Buku : Hati Suhita
Penulis Buku : Khilma Anis
ISBN : 978-602-51017-4-8
Penerbit Buku : Telaga Aksara ft Mazaya Media
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2018
Tebal Buku : 405 halaman
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Cepu

