*Oleh Aninggar Devi Nur Yosef Susanti, S.E.
Kehidupan tak selamanya berjalan sesuai keinginan kita. Adakalanya kita merasa kecewa dan frustasi saat keinginan-keinginan kita tak kunjung diraih. Dan juga merasa sedih saat kita diberikan berbagai cobaan dan ujian dari Allah. Terpikir untuk menyerah. Kenapa ya hidup kita selalu dipenuhi masalah? Seringkali kita dibuat pusing dengan datangnya masalah. Apalagi jika masalah itu datang bersamaan. Banyak di antara kita yang merasa tidak kuat dalam menghadapi banyaknya masalah. Bahkan ada pula yang mencoba lari dari masalah itu, sampai-sampai ada yang terjerumus pada perbuatan negative seperti merokok, mimum-minuman keras, berkelahi, mengggunakan narkoba, dan bunuh diri.
Namun hal ini seharusnya tidak berlaku bagi seorang yang beriman. Sebab mereka yakin, kalau Allah menguji hambanya itu sesuai dengan kadar kemampuannya. Dia-lah Yang Maha Bijaksana, yang tak mungkin memberi beban melebihi kesanggupan hamba-Nya. Janji Allah “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al Baqarah: 286) Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, siapa yang berdoa kepada-Nya, pasti akan dikabulkan. Siapa yang minta pertolongan kepada-Nya, pasti akan diberi pertolongan. Intinya kita harus senantiasa berprasangka baik (husnuzan) kepada Allah.
- Pilihan Menghadapi Masalah: Cara Mudah vs Cara Sulit
Pada bagian awal, penulis langsung menghadapkan pembaca pada realita respons manusia saat tertimpa ujian. Menyerah dan melarikan diri adalah ‘cara mudah’ yang sering diambil karena instan, namun dampaknya merusak. Sebaliknya, ‘cara sulit’ yang diridhai Allah SWT adalah dengan bersegera lari kembali kepada-Nya (Fafirruu ilallah). Buku ini menekankan bahwa dunia beserta problematikanya adalah milik Allah, maka menyandarkan diri pada Sang Pemilik Masalah merupakan satu-satunya jalan keluar yang hakiki. - Beristirahatlah jika Lelah, Namun Jangan Pernah Menyerah
Salah satu bab paling humanis dalam buku ini membahas tentang validasi rasa lelah. Penulis menegaskan bahwa merasa lelah adalah hal yang manusiawi. Menjadi kuat bukan berarti tidak boleh menangis atau rehat. Penulis mengibaratkan kondisi ini seperti baterai gawai yang membutuhkan pengisian daya (charging), atau gergaji yang perlu diasah agar tajam kembali. Beristirahat dalam sujud, zikir, dan refleksi diri justru menjadi bahan bakar utama untuk kembali berikhtiar. - Rumus 100% Tak Pernah Kecewa
Di bagian akhir, penulis merangkum sebuah formula kehidupan agar manusia kebal dari rasa kecewa berkepanjangan. Rumus tersebut didasarkan pada pergeseran paradigma: menyadari bahwa dunia tidak tunduk pada keinginan makhluk, melainkan tunduk pada ketetapan Khalik. Ketika seorang hamba menata niatnya semata-mata untuk melaksanakan tugas pengabdian (ibadah) dan rida terhadap takdir, maka kalkulasi kecewa akan berubah menjadi nol persen.
Tentang Penulis
Malik al Mughis adalah nama pena pria kelahiran Makasar pada 1977. Bukan ustadz, hanya seorang motivator Islami. Lulus pendiikan sarjana di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Dan sempat mengecap pendidikan strata dua Magister Managemen di Universitas Islam Indonesia. Pernah bekerja di beberapa perusahaan swasta di Yogyakarta sebaai direktur. Dan kini menjalankan kelompok usahanya bersama keluarga di bidang media dan kuliner.
Kesimpulan
Buku ini adalah teman yang sangat baik untuk dibaca saat Anda merasa dunia sedang tidak berpihak kepada Anda. Buku ini sukses menjadi “rem” agar kita tidak melompat ke dalam jurang keputusasaan. Anda akan diingatkan bahwa Anda tidak pernah sendirian dan Tuhan selalu punya alasan terbaik di balik setiap ujian hidup.
Kelebihan Buku:
- Bahasa yang Menginspirasi: Gaya penyampaiannya ringan, memotivasi, dan menggunakan pendekatan agama yang menenangkan jiwa.
- Solutif: Memberikan panduan praktis bagaimana berhenti mengejar hal duniawi secara berlebihan dan membiarkan dunia mengejar kita lewat keberkahan serta ikhtiar.
- Relevan: Sangat cocok dibaca oleh kalangan muda maupun dewasa yang sedang berada di fase lelah, burnout, atau mengalami quarter-life crisis.
Kekurangan Buku:
- Karena fokus utamanya adalah renungan dan motivasi, buku ini kurang cocok bagi pembaca yang lebih mencari kisah fiksi naratif yang panjang (novel).
- Ketiadaan Teks Aksara Arab: Beberapa kutipan ayat Al-Qur’an atau hadis hanya dicantumkan dalam bentuk transliterasi latin atau langsung artinya saja. Kehadiran teks asli aksara Arab dirasa penting bagi sebagian pembaca untuk memperdalam kedalaman spiritualitas tadabbur. (ykib/devi).
Identitas Buku
Judul : Tuhan, Beri Aku Alasan untuk Tidak Menyerah
Penulis : Malik al Mughis dan Luqman al Hakim
Penerbit : Syalmahat Publishing
Tahun : Pertama, 2023
Tebal Halaman: 240 Hal
Genre : Motivasi Islami
*Penulis resensi buku adalah Guru Kampung Ilmu Purwosari

