Aku Sedang Benar-Benar Berproses

*Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.

Buku ini menceritakan tentang kekhawatiran dalam menjalani quarter life crisis. Quarter life crisis adalah fase krisis emosional, kecemasan, dan keraguan diri yang biasanya dialami oleh seseorang usia 20 hingga 30 tahun. Kekhawatiran yang dirasakan cukup beragam dan kompleks, di antaranya kekhawatiran tentang tingkat pendidikan, perkembangan karier atau pekerjaan, relasi, cita-cita, dan tujuan hidup. Quarter life crisis adalah masa transisi menuju kedewasaan yang penuh tekanan dan seolah merasa paling tertinggal dari yang lainnya. Padahal sebenarnya kekhawatiran yang berlebihan justru akan menjadi beban dan mengurung seseorang menjadi pasif. Fase ini adalah hal wajar dan dapat diatasi dengan refleksi diri, berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain, mensyukuri apa yang telah dimiliki, mencari dukungan sosial dan fokus pada tujuan awal. Buku ini terdapat delapan bab, ayo kita simak dan ulas satu per satu.

  1. Setiap Orang Pasti akan Menemuinya

Tentu dalam menjalani hidup ini kita pernah mengalami yang namanya stuck dan tidak ada minat dalam hal apapun. Merasa kosong dan hilang arah, tidak tahu harus berbuat apa dan overthinking sepanjang malam. Hehe its okay itu adalah hal yang wajar, karena kita masih merasa insecure tentang pencapaian hidup ini. Tapi perlu diingat bahwa fase ini mau tidak mau tetap harus dihadapi dan dilewati dengan baik, karena ujian tidak selalu menunggu kita siap, tetapi tak jarang ujian hiduplah yang memaksa kita siap. Kalau kita pergi dan menghindarinya, justru kita tidak akan pernah tahu, tidak akan pernah mengenal dan tidak akan pernah menemukan jati diri kita sebenarnya. Jika merasa lelah, itu hal yang manusiawi. Lelah dan berjalan perlahan itu justru tidak mengapa. Asal kita tidak menyerah sebelum berhasil melaluinya. Kita adalah manusia terpilih, jika ujian itu datang pada kita artinya kitalah yang dianggap mampu untuk menopang dan melaluinya. Meskipun tak jarang kita merasa terasing, dan tak ada pertolongan dari siapapun. Ketika kita tersesat inilah maka sebenarnya Tuhan sedang memberikan kita kesempatan untuk belajar. Terbentur, terbentur lalu terbentuk. Terpaksa, dipaksa lalu terbiasa. Begitulah kira-kira gambaran kita dalam menjalani hidup ini.

  1. Dalam Belenggu Kecemasan

Perasaan panik secara tiba-tiba tanpa alasan, mungkin sampai membuat jantung berdebar-debar, berkeringat tiada henti, tangan bergetar bahkan sesak mulai terasa inilah yang biasa disebut cemas. Cemas adalah hal normal, bahkan rasa cemas juga butuhkan ketika seseorang sedang berada di keadaan bahaya. Tetapi ketika kecemasan mulai tidak dapat dikendalikan, datang lebih intens dan membuat tidak nyaman, maka perlu adanya usaha ekstra untuk mengendalikannya. Kecemasan bisa ditaklukkan. Kuncinya ada pada mindset dan sugesti diri. Kurangi overthinking dan lakukan usaha secara perlahan. Semua yang kita pikirkan itulah yang akan terjadi. Jadi, ganti pikiran negatif dengan yang lebih positif. Tanamkan dalam diri “Aku bisa” dan “It will pass” semua akan berlalu. Ketika terlalu sedih karena dunia, ingatlah bahwa Tuhan selalu bersamamu. “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” QS. At-Taubah : 40.

  1. Gengsi yang Tak Membuat Dewasa

Beranjak tua, tapi tidak dewasa. Bergengsi tinggi, hanya untuk reputasi. Kalimat singkat yang cukup menampar para kaum Quarter life crisis. Semakin mengikuti standar yang ada justru membuat seseorang kehilangan jati dirinya. Memang setiap orang memiliki hak penuh atas hidupnya, namun kesalahan dalam melangkah ternyata dapat membawa mala petaka. Menerima ketidaksempurnaan diri dan jujur menjadi diri sendiri, nyatanya lebih melegakan daripada terus bersembunyi di balik kepura-puraan. Kalau Tuhan hanya memberimu kata “cukup” dalam materi, bisa jadi Tuhan memberimu kata “lebih” pada hal lain. Bisa tentang kesehatan, pertemanan, waktu yang produktif, dan rasa tenang. Kenyataannya, kaya tidak selalu tentang seberapa banyak materi yang dimiliki, tetapi kaya yang sesungguhnya adalah tentang seberapa besar kita mensyukuri atas segala nikmat Tuhan. Tidak perlu berlomba-lomba memposting seberapa bahagia hidupmu, karena bahagia tidak ditentukan dari apa yang terlihat di media sosialmu. Tidak haus validasi, tapi tingkatkan aktualisasi diri.

  1. Kompetisi Membanding-bandingkan

Setiap orang pernah membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Hal ini karena kita ingin mencari kepastian dan validasi dari orang lain. Padahal setiap orang memiliki value dan keistimewaan yang berbeda. Mengapa harus membandingkan-bandingkan tujuan kita dengan tujuan orang lain? Belum tentu tujuan kita sama. Tidak mengapa jika orang lain mencapai tujuannya terlebih dulu, itu bukan berarti kita gagal. Karena setiap orang punya waktunya masing-masing. Jangan menunda keberhasilan karena fokus pada pencapaian orang lain. Tapi fokuslah pada kemampuan dan tujuan kita sendiri.

  1. Merasa Tidak Bahagia

Menjadi bahagia adalah tujuan semua orang, meskipun setiap orang memiliki standar bahagianya masing-masing. Jika ada yang merasa tidak bahagia, mungkin saja itu karena hanya fokus pada hal-hal yang belum dimiliki, sehingga kita kurang mensyukuri apa yang sudah tercapai dan yang sudah dimiliki saat ini. Bukankah hari ini adalah jawaban doa-doamu di hari yang lalu? Lantas mengapa masih khawatir dan tidak bahagia? Ketika kamu merasakan tidak bahagia dengan hidupmu, ketahuilah ada seseorang yang merasa bahagia karena kamu ada. Sudah pasti ibu ayahmu, keluargamu, bahkan siswa-siswimu.

  1. Tidak Seberuntung Itu.

Pernah merasa tidak beruntung dalam hal apapun. Bidang pendidikan yang memiliki tekad kuat dalam belajar tapi harus terhenti karena biaya atau faktor keluarga. Pernah merasa tidak beruntung dalam pertemanan, karena paling effort jika ada event tapi justru menjadi paling terlupakan saat hari jadi kita. Hehee. Lagi-lagi masalahnya adalah sudut pandang kita. Jika kita melihat dari sudut pandang syukur, kita adalah orang yang beruntung karena masih dibutuhkan keluarga dan teman terdekat, karena kitalah orang yang “tidak beruntung itu” tapi justru menjadi orang yang paling berpengaruh. Karena dengan adanya kita, moment dan event berharga itu akhirnya bisa terwujud. Dan ingatlah kembali, bahwa sebelum terlahir ke dunia ini, kita sudah menyetujui kehidupan ini dengan Tuhan.

  1. Kamu Tidak Sendiri

Tenang saja, kamu tidak sendiri. Setiap orang saat ini sedang berjuang dengan ujian dan masalahnya masing-masing. Jangan merasa kamu sendirian, kamu tertinggal dan paling menderita. Masih ada Tuhan yang tidak pernah meninggalkanmu, hanya saja kamu mau mendatangi-Nya atau tidak. Ingatlah bahwa dua kali Allah telah berjanji, bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.

  1. Aku Sedang Benar-benar Berproses

Mulai saat ini akan kita pastikan, kita adalah orang yang benar-benar bahagia dalam menjalani proses kehidupan. Sejatinya kehidupan adalah terus belajar setiap hari, tanpa henti sampai akhirnya kembali pada Ilahi. Tuhan memang sebaik-baiknya perencana dan pengatur. Tidak ingin lagi menuntut Tuhan untuk mempercepat proses ini. Karena tidak ada niatan sedikitpun untuk Tuhan menghancurkan kita. Yang ada hanya proses berpikir, belajar, dan bertindak. Tidak apa-apa kalau belum berhasil saat ini, tidak apa-apa kalau belum tercapai saat ini. Karena semua tidak harus hari ini.

Kelebihan Buku:

  1. Temanya relevan dengan kehidupan saat ini bagi orang-orang yang sedang berusia 20-30 tahunan, usia produktif dengan segala bumbu kehidupannya.
  2. Bahasanya ringan, mudah dipahami, tidak terlalu banyak bahasa kiasan dan cocok untuk pemula yang mulai suka membaca.
  3. Buku ini sangat direkomendasikan bagi orang-orang yang sedang merasa “tersesat” di usia perak, merasa tertinggal dari orang lain, atau sedang berjuang menghadapi quarter-life crisis. (ykib/ulum).

Identitas Buku

Judul Buku                          : Aku Sedang Benar-Benar Berproses

Penulis                                 : Endra Elfaeyza

Penyunting                         : Riana Adhyta

Pendesain Sampul           : Hardiyanto

Penata Letak                      : Bayu

Penerbit                              : Buku Baklu

ISBN                                      : 978-623-09-1161-3

Genre                                   : Pengembangan Diri (Self-Improvement)

 

*Penulis resensi buku adalah Kepala Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *