*Oleh Eka Maya Septianing, S.Pd.
Ada kalanya kita begitu sibuk menjalani hari sampai tidak sempat bertanya kepada diri sendiri, apakah kita benar-benar baik-baik saja? Rutinitas, tanggung jawab, dan keinginan untuk memenuhi harapan orang lain sering membuat kita terus melangkah tanpa menyadari bahwa diri sendiri juga membutuhkan perhatian.
Pertanyaan sederhana itulah yang menjadi pintu masuk untuk memahami buku Duduk Dulu, Jangan Lupa Jadi Manusia karya Syahid Muhammad. Buku ini mengajak pembaca melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih dekat dengan diri sendiri, terutama ketika berhadapan dengan perasaan yang sulit dijelaskan, pengalaman yang tidak sesuai harapan, serta tuntutan untuk selalu menjadi pribadi yang lebih baik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap menganggap bahwa segala sesuatu harus segera diselesaikan. Ketika menghadapi masalah, kita ingin cepat menemukan jawaban. Saat mengalami kegagalan, kita ingin segera bangkit. Bahkan, ketika merasa lelah, kita terkadang justru menyalahkan diri sendiri karena tidak mampu melakukan lebih banyak hal.
Melalui refleksi tentang pengalaman manusia, buku ini mengingatkan bahwa kehidupan bukan perlombaan yang mengharuskan semua orang tiba di tujuan pada waktu yang sama. Ada proses yang membutuhkan kesabaran, ada pengalaman yang perlu dipahami, dan ada perasaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan berpura-pura kuat.
Bagi saya, judul buku ini memiliki makna yang menarik. Kata duduk dapat dimaknai sebagai ajakan untuk mengambil jarak dari kesibukan sejenak, bukan untuk menyerah, melainkan untuk memahami apa yang sebenarnya sedang kita jalani. Sebab, terkadang kita terlalu sibuk memperbaiki banyak hal di luar diri sampai lupa bahwa diri sendiri juga perlu dirawat.
Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah pengingat bahwa menjadi manusia tidak selalu berarti mampu menghadapi segala sesuatu dengan sempurna. Kita boleh memiliki kekurangan, mengalami kebingungan, dan membutuhkan waktu untuk memahami keadaan. Hal tersebut merupakan bagian dari perjalanan hidup yang tidak perlu selalu disembunyikan.
Buku ini juga membuat saya memikirkan kembali kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Kita sering melihat keberhasilan seseorang tanpa mengetahui seluruh proses yang telah dilaluinya. Akibatnya, perjalanan sendiri terasa kurang berharga hanya karena tidak terlihat secepat atau sebaik perjalanan orang lain.
Padahal, setiap orang memiliki keadaan dan tantangan masing-masing. Tidak semua pencapaian harus dirayakan dalam bentuk yang besar. Bertahan menjalani tanggung jawab, belajar dari kesalahan, memperbaiki hubungan, dan berani mencoba kembali setelah mengalami kesulitan juga merupakan bagian dari pertumbuhan.
Sebagai seorang guru, pesan tentang memahami manusia memiliki hubungan erat dengan dunia pendidikan. Setiap hari, guru berhadapan dengan siswa yang memiliki kemampuan, kebiasaan, dan cara belajar yang berbeda. Tidak semua anak dapat memahami pelajaran dengan kecepatan yang sama. Ada yang mudah menyampaikan pendapat, ada yang membutuhkan waktu untuk berani berbicara, dan ada pula yang perlu didampingi lebih dekat agar mampu menemukan potensinya.
Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa hasil yang terlihat di permukaan tidak selalu menggambarkan keseluruhan proses seorang anak. Nilai yang belum memuaskan tidak serta-merta menunjukkan kurangnya kemampuan. Sikap diam belum tentu berarti tidak memahami pelajaran. Begitu pula kesalahan yang dilakukan siswa seharusnya menjadi kesempatan untuk membimbing, bukan sekadar alasan untuk memberikan penilaian.
Dari sudut pandang ini, belajar bahwa menjadi pendidik membutuhkan kesabaran untuk melihat lebih jauh daripada sekadar angka dan target. Terkadang, siswa tidak hanya membutuhkan penjelasan tambahan, tetapi juga kesempatan untuk bertanya tanpa takut dianggap tidak mampu. Mereka membutuhkan arahan yang jelas, teguran yang mendidik, dan apresiasi atas kemajuan kecil yang mungkin luput dari perhatian.
Pesan buku ini juga mengingatkan untuk tidak mengabaikan diri sendiri dalam menjalankan profesi. Keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada siswa perlu diimbangi dengan kesediaan mengevaluasi kemampuan, memperbaiki kekurangan, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk belajar. Guru yang terus bertumbuh akan memiliki kesempatan lebih besar untuk menciptakan proses belajar yang bermakna.
Pendidikan bukan pekerjaan yang hasilnya selalu dapat dilihat dalam waktu singkat. Ada nasihat yang baru dipahami siswa bertahun-tahun kemudian. Ada kebiasaan baik yang tumbuh melalui pengulangan. Ada pula perkembangan kecil yang baru terlihat setelah proses pendampingan yang panjang. Karena itu, teruslah belajar menghargai proses, baik proses yang dijalani siswa maupun proses pada diri sendiri sebagai pendidik.
Kelebihan buku:
- Bahasa sederhana dan mudah dipahami.
- Isinya dekat dengan kehidupan sehari-hari.
- Mengajak pembaca melakukan refleksi dan lebih menghargai diri sendiri.
- Pesannya kuat tentang pentingnya menjadi manusia yang lebih baik.
Kekurangan buku:
- Beberapa pembahasan terasa berulang.
- Isinya cukup subjektif karena banyak berupa pemikiran penulis.
- Tidak banyak memberikan solusi praktis terhadap masalah yang dibahas. (ykib/maya).
Identitas Buku
Judul : Duduk Dulu, Jangan Lupa Jadi Manusia
Penulis : Syahid Muhammad
Penerbit : Gradien Mediatama
Tahun Terbit : 2021
Jumlah Halaman: 236 hlm.
Genre : Pengembangan diri, refleksi kehidupan
*Penulis resensi buku adalah Kepala Kampung Ilmu Cepu

