Oleh Muhammad Agus Miftah Farid, S.Pd
Jalinan persahabatan sejati mengalir menembus batas-batas impian dan cinta. Namun jalan tak selamanya lempang. Kerikil tajam dan jurang terjal harus mereka lakoni. Belum lagi tali persahabatan mereka sempat rapuh karena suatu sebab yang dialami leh Ari. Rasa sombong, sok, merasa menjadi “ter” diantara yang lain seringkali membuat hati manusia teracuni dan kesempatan setan untuk meluruskan tugasnya menjerumuskan manusia dalam kesesatan. Tidak hanya berlaku bagi manusia yang memiliki iman dan aqidah yang kuat saja setan selalu mencoba menjerumuskan manusia karena itu adalah tugas utama setan sampai akhir hayat. Sementara pada hiruk pikuk kehidupan, cinta mekar dan menjelma mawar amis yang terjebak dalam kubangan-kubangan nista. Sebelum berakhir dalam tragedi kehidupan Ramli. Di hadapan cinta, takdir tak lagi berarti baik itu memiliki atau memuliakan.
Novel Jiwa di Titik Nol ini memiliki tiga orang tokoh yang dominan di setiap alur cerita. Namun tentu saja tokoh utama dari cerita ini adalah Fahri dan dua orang sahabatnya Ramli dan Ari. Berawal dari latar belakang ekonomi keluarga Fahri yang kekurangan, ia memutuskan untuk putus sekolah dan menimba ilmu di pondok pesantren yang berbasis salafi di Desa Andang Bawang. Pesantren tersebut diasuh oleh Kiai Djunaidi, beliaulah guru besar para santri di Pondok Pesantren Al Asror.
Fahri, Ramli dan Ari, mereka menjalin persahabatan layaknya seperti saudara kandung. Mereka hidup sebagai santri di pesantren dengan rukun, jika salah satu dari mereka memiliki keresahan hati, maka mereka akan menghibur dan memberi sebuah solusi. Mereka memiliki konflik kehidupan yang berbeda-beda dalam menghadapi kehidupan mereka. Mereka memulai kehidupannya masing-masing. Fahri yang selalu tunduk pada Sang Kiai, dia pun mengabdi kepada pesantren tempat ia menimba ilmu. Namun keadaan berubah saat sang kiai wafat, dimana dia mendapatkan mandat dari beliau untuk menggantikannya mengurus pesantren dan menjadi suami dari istri almarhum. Di saat seperti itu ia memutuskan untuk kabur dan pergi dari pesantren tersebut.
Fahri merasa tidak sanggup melakukan mandat dari kiai. Saat ia kabur, ia mengambil jalan yang salah,. Dia hidup layaknya seorang preman jalanan, walaupun bekerja sebagai kuli bangunan ia tejerumus ke dalam pergaulan bebas karena pengaruh teman-temannya bekerja. Dan konflik yang dialami Ari adalah ia tertarik kepada sesama lelaki. Dia terjerumus ke dalam tindakan yang tidak pantas yaitu menjadi seorang waria di Jakarta. Sedangkan Ramli yang menghilang dari pesantren selepas ia mngikuti lomba kaligrafi tingkat provinsi, dia tidak kembali ke pesantren karena dia harus pulang menggantikan ayahnya yang sebagai kiai dan pengurus pondok pesantren modern di kota. Ramli menyembunyikan statusnya itu dari semua teman-temannya.
Walaupun mereka saat ini memiliki masalah yang berbeda, mereka dipertemukan lagi di rumah Allah yaitu Tanah Suci Mekkah. Tepatnya pada saat mereka melaksankan ibadah haji. Fahri kembali ke jalan yang benar berkat liburannya di sebuah villa di Pacitan bersama teman kerjanya. Pada suatu malam, Fahri keluar dari vila dan mendengar adanya sebuah pengajian oleh kiai kondang. Ia merasa tertarik dan mendatangi pengajian tersebut. Ia tidak menyangka bahwa kiai kondang tersebut adalah temannya di pesantren dulu yaitu Ramli. Pacitan lah saksi bisu taubatnya Fahri dan hujan air mata dua orang sahabat yang sudah lama tak bertemu, dipertemukan di sebuah pengajian disaksikan jutaan pasang mata di Pacitan.
Setelah itu Ramli mengajaknya untuk tinggal di tempatnya dan mengajak ia berangkat ke Tanah Suci Mekkah untuk haji. Dan di situlah mereka bertemu dengan Ari yang berhaji dengan istrinya Nia. Ari pun sudah kembali ke jalan yang benar dan menjadi seorang imam di keluarganya. Istrinya Nia adalah wanita yang dulu disukai oleh Fahri di saat masih di pesantren. Pertemuan mereka bukanlah hanya sebuah kebetulan belaka, namun karena doa yang mereka panjatkan sewaktu menimba ilmu di pesantren. Mereka pernah berjanji untuk bertemu dan berkumpul di Tanah Suci Mekkah bersama suatu saat nanti.
Tiga sahabat yang telah kembali ke jalan yang benar kini telah berkumpul kembali dengan cerita dan cinta yang berbeda dari keinginan. Karena Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dari pada apa yang kita inginkan.
Novel ini sangat baik untuk dibaca karena di dalamnya mengandung banyak ilmu agama, kehidupan dan cinta. Di mana sang tokoh utama mengalami banyak ujian di dalam kehidupannya dan sempat terjerumus ke dalam bujuk rayu setan namun kembali ke jalan yang benar berkat pertemuan dengan sahabatnya Ramli.
Penulis resensi adalah guru Bimbel Gugusan Bintang YKIB Kalitidu

