Oleh Puguh Prianggoro, S.Pd.
Kematian Sebuah Bangsa merupakan sebuah novel karya Kahlil Gibran yang merupakan seorang tokoh terkemuka yang lahir di Beshari, Lebanon 1883. Gibran merupakan orang asli Lebanon yang pada usia 10 tahun bermigrasi ke Amerika bersama ibu dan kedua adik perempuannya. Gibran telah meninggal di New York 1931. Gibran dimakamkan di tanah kelahirannya di Beshari, Lebanon.
Karya-karya Kahlil Gibran sampai sekarang masihlah menjadi sebuah bacaan-bacaan yang cukup popular karena mengandung kata-kata yang bergelora dan dapat mewakili perasaan setiap pembacanya. Karya-karya Gibran adalah gambaran sebuah pribadi yang penuh dengan gelora cinta, keinginan untuk bebas dari penindasan, dan pesan-pesan kehidupan. Dalam tulisannya Gibran memiliki ciri khas yang begitu menggelora saat tulisannya berbicara tentang cinta, berbicara tentang kerusakan setiap penguasa, dan dia juga sering dikenal sebagai pembawa pesan cinta dan kemanusiaan yang di mana di setiap karyanya tercermin sebuah karya sastra yang tak pernah membosankan untuk dibaca. Dalam novelnya ini yang berjudul Kematian Sebuah Bangsa kita akan diajak menyelami cerita-cerita khas Gibran yang dibalut dengan bahasa sastra yang khas darinya.
Novel Kematian Sebuah Bangsa karya Kahlil Gibran ini berisikan 14 buah cerita, di mana setiap ceritanya memiliki kisah uniknya masing-masing. Untuk judul dari ke-14 cerita dalam novel Kematian Sebuah Bangsa ini adalah Prahara, Perbudakan, Putri-Putri Laut, Kami dan Kalian, Debu Zaman dan Api Abadi, John Si Gila, Bidadari yang Mempesona, Di Balik Jubah, Kematian Sebuah Bangsa, Cita-Cita Violet, Penyaliban, Pesta Malam, Penggali Kubur, Dewa-Dewa Bumi. Dari ke-14 judul cerita yang ada pada novel ini kita akan menemukan perbedaan di setiap ceritanya, ada cerita tentang cinta, ada cerita tentang penindasan, ada cerita tentang pemberontakan, dan ada cerita tentang pesan-pesan kemanusiaan.
Novel Kematian Sebuah Bangsa ini dikemas dengan bahsa sastra yang membuat kita mau tidak mau harus mengartikannya sendiri, setiap kalimat bahkan harus kita baca berulang kali supaya dapat memahami makna yang ingin disampaikan Gibran kepada kita sebagai pembaca, kadang kita juga akan menemukan beberapa kata yang cukup asing tak pernah kita dengar tapi semua sudah diberikan artinya dalam catatan kaki disetiap akhir cerita. Walau terdapat beberapa kesuliatan saat membaca novel ini, namun dari sinilah letak keindahan karya-karya Gibran yang menggunakan diksi yang indah disetiap ceritanya yang membuat kita terhanyut dalam keindahan dan kedalaman cerita.
Dalam novel Kematian Sebuah Bangsa ini ada dua cerita yang cukup menarik, yaitu cerita yang berjudul Kematian Sebuah Bangsa dan Cita-Cita Violet. Untuk cerita yang pertama yang berjudul Kematian Sebuah Bangsa ini berkisah dari cerita seseorang yang telah kehilangan bangsanya. Bangsa yang sebelumnya makmur dan dipenuhi dengan sumber daya alam yang melimpah sekarang telah hilang dan berlalu, kisah seoarang yang menahan kesedihan dan kesendiriannya karena telah kehilangan segalanya, bahkan kehilangan kekasihnya. Bangsa yang dulu makmur kini telah menjadi bangsa yang hancur dan dikuasai oleh orang-orang besar yang tidak mempedulikan orang kecil. Sekarang dia telah bepergian ke bangsa-bangsa yang jauh dan makmur namun sangat disayangkan bangsanya sendiri telah tidak ada. Begitulah cerita yang dapat kuceritakan dari judul cerita Kematian Sebuah Bangsa.
Cerita kedua berjudul Cita-Cita Violet. Dalam cerita ini dikisahkan sebuah bunga violet yang yang terus mengeluh karena merasa tidak adil dia diciptakan menjadi bunga violet yang tidak seanggun dan seangkuh bunga mawar. Violet menjadi terobsesi dengan bunga mawar dan menolak takdirnya menjadi bunga violet, lalu dia berdoa dan berharap menjadi bunga mawar yang terlihat cantik, mewah, dan terlihat angkuh. Setelah doa yang dipanjatkannya dan protes terhadap takdirnya violet akhirnya mendapatkan jawaban atas semuanya dan diubahlah dia menjadi bunga mawar yang terlihat cantik, mewah dan terlihat angkuh. Beberapa saat berlalu setelah violet berubah menjadi mawar terjadi bencana karena alam mengamuk dan memporak-porandakan seluruh tempat tak terkecuali tempat hidup violet dan mawar yang tumbuh. Bunga violeh yang hidup dibalik kokohnya tembok terlindung aman sedangkan bunga mawar yang ada hanya kehancuran untuk mereka, mawar-mawar terlihat sekarat tak terkecuali violet yang baru saja berubah menjadi mawar. Penyesalah dan kepuasan telah didapatkan oleh violet setelah kejadian itu yang membawanya dalam kematian. Violet tidak merasa menyesal, namun teman-teman violet yang merasa menyesal karena dia telah memilih jalan yang salah yang mengantarkannya kepada kematian, sedangkan violet sendiri tersenyum dengan kemenangan karena dia menganggap diakhir hidupnya dia telah menjadi bunga mawar yang indah dan terlihat angkuh.
Banyak pesan yang dapat kita temukan dalam setiap cerita novel Kematian Sebuah Bangsa ini dan isi cerita yang indah dan bergelora membuat pembaca semakin penasaran untuk menyelesaikan semua cerita dalam buku ini. (*/ykib).
Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

