Si Pahit Lidah

Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.

Buku seri legenda Nusantara yang ditulis oleh G. Wu (Gatot Wuryadi) dan hak cipta dari PT PGN Persero Tbk merupakan buku yang menceritakan tentang legenda Nusantara dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Buku ini diterbitkan sebagai wujud komitmen (PGN) terhadap kemajuan dunia pendidikan. Buku ini disajikan sebanyak 33 judul dalam bentuk cerita bergambar agar menarik minat baca anak-anak sehingga lebih mudah dalam mempelajari dan memahami budaya Indonesia.

Cerita Si Pahit Lidah ini berasal dari Sumatera Selatan. Diceritakan pada suatu hari di daerah Sumidang, Sumatera Selatan, ada seorang pangeran keturunan raksasa yang bernama Serunting. Pangeran Serunting sedang memandangi foto almarhum ibunya yaitu Putri Tenggang sambil meminta maaf karena belum bisa memenuhi keinginan ibunya untuk segera memiliki istri. Di tempat dan waktu yang berbeda, ada seorang gadis bernama Sitti yang baru saja ditinggal ayahnya meninggal. Sitti belum menikah karena belum menemukan pria yang sesuai dengannya. Ketika di jalan, tanpa sengaja Pangeran Serunting dan Sitti bertemu, mereka berkenalan dan janjian untuk bertemu lagi keesokan harinya. Mereka pun saling menepati janji untuk bertemu dan tidak lama hubungan mereka semakin dekat.

Pangeran Serunting dan Sitti akhirnya memutuskan untuk segera menikah. Setelah menikah Sitti mengikuti sang pangeran untuk tinggal di istananya. Pada suatu hari, Sitti teringat kepada adik samata wayangnya yaitu Aria Tebing yang hidup sendiri di rumahnya. Sitti di istana bisa selalu makan enak, tapi bagaimana dengan adiknya?. Kemudian pangeran menghampiri Sitti dan mengijinkan adiknya untuk ikut tinggal di istana bersama mereka.

Sitti bergegas pergi ke desa untuk menjemput adiknya tersebut. Sesampainya di sana ketika Sitti mengajak Aria untuk tinggal di istana bersamanya, Aria justru menolak karena ia tidak ingin hidup mewah di istana dengan banyak aturan. Aria juga beralasan bahwa ia ingin hidup di desa dan tetap berladang karena ladang tersebut merupakan warisan orang tuanya. Karena merupakan warisan, maka ladang tersebut harus dibagi 2, yaitu untuk Sitti dan Aria Tebing. Akhirnya ladang tersebut dibagi dua dengan pembatas kayu yang dipasang ditengah-tengah ladang. Pangeran, Sitti maupun Aria menyepakati hal tersebut.

Seminggu kemudian, kayu pembatas yang ditanam itu tumbuh menjadi tumbuhan cendawan atau jamur. Namun anehnya, jamur yang mengarah ke ladang Aria merupakan jamur emas, sedangkan yang mengarah ke ladang Sitti hanya jamur biasa. Aria berpikir jika jamur emas miliknya bisa dijual dengan harga yang mahal dan Aria pun merasa sangat senang. Mengetahui hal tersebut, Pangeran Serunting pun merasa iri dan curiga bahwa Aria telah menukar jamur miliknya. Kemudian Pangeran menantang Aria. Aria pun merasa bingung dan cemas karena ia tahu ia tidak akan bisa mengalahkan pangeran yang sombong dan ahli mandraguna itu. Aria pun tidak dapat tidur dengan tenang karena berpikir bagaimana cara mengalahkan pangeran, ia pun berinisiatif untuk meminta bantuan Sitti.

Keesokan harinya Aria pergi ke istana untuk menemui Sitti dan menanyakan apa kelemahan Pangeran Serunting. Tetapi Sitti tidak begitu saja memberitahunya. Aria terus meyakinkan Sitti agar ia bersedia memberitahunya. Karena jika Aria kalah dalam tantangan tersebut maka Aria akan dibunuh, sedangkan jika Aria yang menang dia tidak akan sampai untuk membunuh Pangeran. Akhirnya Sitti pun bersedia untuk memberitahunya.

Rahasia kesaktian Pangeran Serunting ada pada rumput ilalang yang selalu bergetar walaupun tidak tertiup angin, jika Aria berhasil menombak rumput ilalang itu, maka kekuatan Pangeran akan langsung lenyap seketika. Hari yang telah disepakati telah tiba, Pangeran Serunting dan Aria mulai bertarung. Ketika Aria sudah mulai lemah, ia teringat ucapan kakaknya yaitu Sitti. Aria menombak ilalang yang bergetar dan benar saja pangeran langsung jatuh tersungkur. Pangeran meyakini bahwa yang memberitahukan kelemahannya adalah Sitti. Pangeran merasa kecewa dan marah besar. Kemudian pangeran pergi ke gunung Siguntang untuk bertapa.

 Pangeran Serunting bertapa disebuah gua. Ia sangat terkejut ketika mendengar suara “Aku adalah sang hyang mahameru yang menunggu goa ini” kemudian sang hyang mahameru memberikan syarat agar pangeran bertapa di bawah pohon bambu sampai daun bambu yang berguguran itu menutupi seluruh tubuh pangeran. Pangeran pun menyanggupi syarat tersebut. Setelah bertapa beberapa tahun dan memenuhi syarat tadi, maka pangeran kini memiliki kekuatan baru. Apapun yang ia ucapkan akan menjadi sebuah kutukan. Pangeran merasa sangat senang.

Pangeran Serunting kembali ke desanya dan ingin mencoba mempraktekan ilmu barunya. Saat dijalan ia mencoba ilmu barunya dengan mengatakan hamparan tebu berubah menjadi bebatuan. Seketika, tebu tersebut berubah menjadi batu. Pangeran juga telah berhasil mengubah lahan yang gersang dan tandus menjadi hutan yang rindang. Pangeran juga memberikan seorang bayi pada nenek dan kakek renta sesuai dnegan keinginan mereka. Pangeran merasa senang karena kini dirinya telah sakti. Pangeran kini berubah menjadi pribadi yang suka menolong dan rendah hati. Meskipun kalimat yang keluar dari mulutnya manis dan baik, tetapi orang-orang masih menjulukinya dengan nama “Si Pahit Lidah”.

Kelebihan Buku :

  1. Ceritanya sangat menarik dan edukatif. Sehingga cocok untuk pendidikan karakter anak-anak.
  2. Disertai dengan gambar-gambar yang menarik, alur yang mudah dipahami dan bahasa yang ringan. Disertai tentang informasi daerah dari legenda tersebut berasal.
  3. Pesan moralnya sangat baik yaitu meskipun kita sempat menjadi orang yang kalah dan lemah kemudian kita bertekad, berusaha untuk menjadi lebih baik maka akan dipermudah jalannya, serta tidak baik bersikap sombong.
  4. Menggunakan kelebihan yang kita miliki untuk membantu orang lain dan alam sekitar.

Kelemahan Buku :

  1. Bisa ditambahkan moral value atau pesan moral pada bagian akhir cerita. Sehingga pembaca terlebih anak-anak bisa langsung mengerti apa nilai positif dari cerita tersebut.
  2. Penggambaran tokoh Sitti dan Murni hampir sama, hanya berbeda warna busana. Sehingga bisa ditambahkan ciri pembeda lainnya : tahi lalat dan bentuk rambut.

Identitas Buku

Judul                           : Seri Legenda Nusantara “Si Pahit Lidah”

Penulis                        : G. Wu

Editor                           : Kum Soe, Soebagiono, Khum, Talha, Andie.

Penerbit                       : Balai Pustaka

Tahun Dicetak            : 2016 (cetakan kedua, Desember 2016)

Hak Cipta                    : PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk

ISBN                           : 979-690-766-6

EAN                            : 978-979-690-766-3

Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *