Lika-Liku Hidup Lipu

Oleh Ainun Dyan Suttie, S.Pd.

Cerita ini terjadi di Pulau Buton, sebagai bekas kerajaan dan kesultanan. Hampir di setiap distrik dan pulau terdapat peninggalan sejarah yang masih asri. Salah satunya sebuah benteng Keraton Watio yang berada di atas bukit sebelah barat. Benteng ini yang menjadi bukti Kesultanan Buton di masa lalu.

Di bagian tengah benteng Watio terdapat sebuah masjid keraton yang sudah berumur 550 tahun. Terletak di ketinggian, dihiasi tiang kayu yang menjulang bagaikan penjaga religius abadi yang senantiasa menyerukan perdamaian.

Bangunan masjid ini seolah tidak tega membiarkan konflik Bau- Bau awal Maret yang lalu berlarut- larut tanpa penyelesaian. Walau hanya berlangsung 3 hari konflik ini sudah sangat besar imbasnya bagi masyarakat di tanah Buton.

Dulu masyarakat Buton hidup damai meskipun terdapat beberapa etnis di dalamnya. Tidak ada saling merendahkan, tidak ada yang merasa penduduk asli atau pun pendatang. Semua hidup rukun berdampingan.

Sampai terjadinya konflik Bau- Bau yang banyak menelan korban harta benda dan nyawa. Sebuah peristiwa itulah yang membuat Kupu dan ibunya menjadi trauma karena rumah mereka terbakar dan tidak ada yang bisa mereka selamatkan. Sehingga mereka harus hidup di pengungsian.

Ketika menyantap singkong bakar dari arah barat datanglah sebuah mobil sedan putih dan menyerukan namaku. “Lipu!“ teriak seorang wanita yang suaranya aku kenal yaitu Wa Ode Leja Samata. Dengan sedikit malu karena tangan menghitam bekas arang dari membakar singkong. Leja menanyakan kabarku karena ketidakhadiranku di sekolah.

Kejadian konflik Buton aku ceritakan kepada Leja sambil memakan singkong dengan tanpa malu mengupas menggunakan tangannya sepertiku. Orang tua Leja yang ikut mengantar memberanikan diri untuk mengajak Lipu dan ibunya tinggal bersama di rumah mereka.

Lipu adalah seorang anak yatim yang sejak kelas 1 SMP sudah ditinggal ayahnya. Keadaan yang sangat memprihatinkan membuat Kupu dan Ibunya menerima ajakan keluarga Leja. Mereka pergi bersama saat senja datang.

Keluarga Leja memberikan sebuah kamar yang sangat pantas mereka tempati, Leja pun segera mengajak Lipu untuk membeli keperluan sekolah karena buku tabungan Lipu yang secara tidak sengaja sebelum kejadian naas itu sudah dititipkan kepada Leja sehingga Leja dengan sukarela membelanjakan dulu.

Pertemanan kami terjadi ketika perkenalan OSIS dengan murid baru. Ode menjadikan aku pelarian ketika ada tugas dari guru yang tidak ia mengerti. Dan pertemanan ini berlanjut sampai sekarang.

Lipu kembali ke sekolah dengan wajah gembira, semua teman di kelasnya merasa kehilangan ketika Lipu tidak masuk sekolah. Lipu berada di kelas 3 IPA yang hampir semua muridnya berasal dari golongan mampu, hanya Lipu saja yang kurang mampu. Tapi mereka sangat menghargai dan tidak mempermasalahkan semua itu.

Meskipun orang tua Leja menyuruhnya mengerjakan semua pekerjaan rumah, mulai dari menyapu, mengepel, mencuci piring, mobil dan membersihkan kandang itik Leja tetap menerima dengan ikhlas karena pekerjaan itu sebagai imbalan mereka diperbolehkan tinggal di rumahnya.

Setiap pagi sebelum ke sekolah Leja melakukan semua pekerjaan dengan baik. Suatu ketika aku lupa membersihkan kandang itik dan Bapak majikanku yaitu ayah Leja membentak dan memarahiku habis- habisan dan menyuruhku untuk tidak dekat dengan Leja yang dianggap tidak sepadan denganku yang anak seorang piatu.

Ibuku sudah tidak tahan hidup di rumah orang terpandang yang setiap harinya membentak kasar sehingga memilih untuk hidup di gubuk reyot di kebun tapi menyuruhku untuk tetap berada di sana demi menyelesaikan pendidikan. Menyuruhku untuk bersabar demi masa depanku.

Semenjak berpisah dengan ibu semua pekerjaan aku kerjakan sendiri. Suatu malam ada undangan dari temanku yaitu Vimeo Anwar. Dengan tidak sengaja Leja menemukan undangan itu dan memutuskan untuk ikut pergi bersamaku. Memintaku menunggu di tempat biasa agar ayahnya tidak mengetahuinya.

Dengan gaun kuning Leja terlihat sangat cantik duduk di sebelahku di dalam mobilnya. Sesampainya di tempat acara, Cimei memberikan sambutan panjang lebar dan aku tersentak tatkala namaku disebut bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku. Sebuah kejutan yang sangat indah dari Leja dan teman- temanku.

Acara demi acara sudah selesai aku dan Leja memutuskan untuk pulang, baru tiba di pintu gerbang sudah ada seorang lelaki bertubuh besar yang tidak kami kenal, Leja dibekap mulutnya. Dengan bekal ilmu bela diri yang tak seberapa aku menyerang 3 orang itu. Leja berteriak sampai teman-temanku lainnya mendengar. Mereka kalah dan menyerah namun tak ingin dilaporkan sehingga mereka mengaku adalah orang suruhan dari ayah Leja.

Leja ingin kasus ini diselesaikan secara hukum tapi aku tidak menyetujuinya. Karena semua permasalahan ini dalangnya adalah ayah Leja yaitu majikannya sendiri yang sudah memberikan tempat berteduh dan membiayai sekolahnya. Meskipun kecewa namun Lipu tetap menerimanya. Karena memang ayah Leja tidak menyukaiku yang terlalu akrab dengan anaknya yang dianggap tidak sepadan dengan keadaanku saat ini.

Saat aku ngobrol dengan Leja ternyata ayahnya datang dengan cepat Leja sembunyi di kandang itik, namun ternyata itik di dekatnya baru bertelur dan sangat galak sehingga mengejar Leja. Dengan sigap aku pegang lehernya namun seketika itu itik mencret dan menyemburkan cairan kuning hangat tepat di celana ayah Leja. Ayah Leja marah dan mengusirku. Meskipun ibu Leja sedih dan Leja menangis melihatku terusir namun tidak dapat mengubah keadaan.

Sejak kejadian itu kuputuskan untuk tinggal bersama ibu di kebun, saat sampai di sana tak kutemui ibu di depan rumah. Ternyata ibu tergeletak tak berdaya di dalam rumah. Penyakit sesak nafasnya kambuh lagi, sehingga aku memutuskan untuk membeli obat di apotik sesampainya di kebun ternyata ibu yang melahirkan dan membesarkan ku telah meninggalkanku selamanya.

Sebulan lagi ujian akhir akan digelar. Duka yang sedang kurasakan membuat prestasiku menurun dan tidak punya semangat belajar lagi. Akhirnya pak Rusdi guru kimia mengajakku tinggal bersamanya. Permintaan pak Rusdi kusambut dengan gembira. Aku tinggal bersamanya dan mendapatkan dukungan moril. Arahan demi arahan Pak Rusdi aku lakukan sehingga aku ikut penjaringan siswa berprestasi untuk bisa kuliah di Universitas Gadja Mada di Jogjakarta.

Keluarga pak Rusdi juga memiliki seorang putri yang sama juga dengan Leja kelas 1 namun berbeda sekolahnya. Wa unga Sinta adalah nama anak dari pak Rusdi, teman- temanku tak dapat memberikan komentar mana yang lebih cantik dari kedua gadis itu. Semua memilik kelebihan masing- masing yang tidak bisa disandingkan.

Aku, Made, Lukas, Cimei dan Hartono diterima di kampus yang sama mesti jurusan kami berbeda. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu sehingga kami merasa rindu dengan kota kelahiran kami. Memutuskan liburan semester 4 kami akan berkunjung ke Bau- Bau. Malam itu kami merencanakan apa yang akan kami lakukan di sana, yaitu menyelidiki kegiatan sebuah sindikat.

Aku dan Lukas menyamar menggunakan kumis dan rambut palsu menuju sebuah tempat yang sudah kami selidiki. Kami datang di sambut dengan orang yang menanyakan ingin bertemu siapa sehingga kami menjawab ingin bertemu dengan bos.

Bos yang dimaksud adalah bos La Ode Mane. Kami menemui bos tersebut dan menawarkan komputer, dengan segera bos tersebut melakukan panggilan telepon dan menyuruh ahli komputer untuk mengecek komputer yang kami tawarkan. Dengan sigap aku meminta izin kebelakang padahal ternyata aku menyelinap ke ruang komputer yang ditinggalkan penjaganya. Aku membuka komputer dan mencetak bukti dokumen yang menjadi sumber pertikaian di daerah kami.

Gerakan sindikat inilah yang membuat desa kami mengalami konflik besar padahal sebelumnya kami selalu hidup rukun damai berdampingan meskipun terdapat beberapa perbedaan agama, suku dan ras. 7 lembar bukti cetak. Ternyata aksi kita diketahui karena mereka memiliki CCTV di setiap tempatnya.

Aku dan Lukas dimasukkan ke dalam sel yang gelap dan hanya diberi air minum dan roti. Lukas dengan wajah babak belur mengeluh dan takut akan apa yang terjadi selanjutnya bisa saja nyawa kita melayang, Lipu. Dengan sisa tenaga yang kupunya Lukas kuminta ia berdoa menurut kepercayaannya semoag ada keajaiban datang dan menyelamatkan kita.

Dengan menundukkan kepala Lukas khusyuk berdoa tak lama terdengar beberapa orang berteriak dan membuka pintu sehingga mengagetkan algojo yang menunggu kita.

Banyak warga yang datang menyelamatkan kami, dengan pertolongan sebuah telepon genggam yang ku sembunyikan bisa menyelamatkan nyawaku dan Lukas. Warga menyerang mereka dan memborgol bos yang menjadi otak terjadinya konflik di daerah ini adalah ayah Leja.

Sebelum kembali ke kota Yogyakarta, aku berniat menemui Leja, namun tak bertemu dengannya hanya sebuah surat yang dititipkan oleh ibu tua yang menjaga rumahnya dan mengatakan bahwa Leja dan Ibunya sudah pergi ke pulau yang sangat jauh.

Dengan berat hati aku kembali ke Kota Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikanku. Aku bekerja keras dan belajar agar indeks nilaiku tetap stabil dan menjadi lulusan terbaik. Setelah lulus pak Rusdi menyarankanku untuk berkemas ke desa terpencil di Tomia yang sedang membutuhkan seorang dokter sepertiku.

Sesampainya di sana aku disambut baik dengan petugas medis yang sudah mengabdi sebelumku. Saat akan pergi aku melihat kerumunan warga yang ternyata adalah tabrakan. Dengan sigap aku mendekati korban yang ternyata sudah kukenal. Leja salah satu korbannya. Leja memiliki luka yang cukup parah dan membutuhkan donor darah. Sang ayah mengumpulkan orang yang siap mendonorkan darah namun dari semua orang itu tidak ada yang cocok golongan darahnya dengan Leja hanya akulah yang cocok darahnya yaitu AB.

Akhirnya aku mendonorkan darah demi kesembuhan Leja. Meskipun begitu ayah Leja tetap tidak bisa menerimaku. Dia beranggapan bahwa ini sudah menjadi tugasku membantu pasien yang membutuhkan. Meski keadaan Lena belum membaik kuputiskan untuk berpamitan pada ibunya dan memberitahukan bahwa aku akan menikah dengan Sinta anak pak Rusdi. Mendengar perkataanku ayah Leja sedih dan tidak menyangka Dokter Leja meninggalkan anaknya karena kesombongannya. Penyesalan tinggal penyesalan karena orang yang dicintai anaknya akan menaikah dengan gadis lain. (*/ykib).  

Pengarang : Drs. La Ode Boa

Tebal buku : 100 halaman

Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *