Oleh Arum Nila Nadiya, S.Pd.
Buku Lingkar Tanah Lingkar Air ini merupkan sebuah karya yang luar biasa. Menceritakan keadaan Indonesia pada tahun 1946-1965. Novel ini dihadirkan benar-benar menggambarkan keadaan pergolakan politik, beserta keadaan sosial, masyarakat ketika pertempuran melawan Sekutu hingga gerakan pemberontakan terhadap republik sendiri. Berkisah tentang Amid, Kiram, Jun dan kawan lainnya yang terpaksa bergabung dengan pasukan DI/TII di bawah pimpinan Imam Sekarmarijan Kartosuwirjo yang menentang negara Republik Indonesia dan memperjuangkan Negara Islam.
Dari karya Ahmad Tohari yang menggambarkan tokohnya cukup baik dan nyata. Penggambaran ketika beberapa tokoh masih muda, sangat mengebu-ngebu dalam mengejar idealitas serta keinginan, ia gambarkan dengan apik. Bisa dilihat ketika Kang Suyud, yang notabene masih muda, berdebat dengan Kiai Ngumar soal negara.
Kang Suyud beranggapan mereka yang bekerjasama dengan non-Muslim harus dimusnahkan, karena kafir. Alhasil ia memiliki pegangan teguh pada ideologi SM Kartosuwirjo dengan prinsip tidak bekerjasama terhadap orang yang tidak shalat. Sedang Kiai Ngumar tetap berpegang teguh pada fatwa yang telah Hadaratus Syeikh dari Jawa Timur fatwakan untuk tetap membela negeri Republik Indonesia ini.
Perdebatan antara Islam dan Republik. Perdebatan ini pada masa itu memang cukup tajam, seakan Republik dan Islam berjalan di spektrum yang berbeda. Anggapan yang menjurus jadi dikotomi ideologi yang berjalan berseberangan tumbuh subur pada masyarakat kala itu. Hasilnya memunculkan individu seperti Kang Suyud dan tentara Hizbullah lain sebagai protes terhadap bentuk republik yang menggaet orang yang tidak shalat.
Amid dan kedua kawannya lebih mengikuti saran Kiai Ngumar dan hendak bergabung dalam pasukan republik. Dalam proses bergabung ketika dikumpulkan dalam sebuah stasiun bersama para Hizbullah lainnya. Saat kereta yang hendak mengangkut mereka datang-tiba-tiba saja mereka para Hizbullah diberondong oleh serangan peluru. Hal tersebut membuat kecewa para Hizbullah tak terkecuali Amid, Jun, apalagi Kiram yang sebelumnya juga lebih setuju akan pikiran Kang Suyud. Pada akhirnya mereka semua bergabung dalam tentara DI/TII dan memperjuangkan negara Islam. mulai dari situ perjuangan Amid dan kawan-kawannya dimulai sebagi seorang gerilyawan atau orang ngalas yang senantiasa hidup di hutan. Pergolakan sendiri juga terjadi dalam diri Amid, di mana ia menyesal beserta bingung akan dirinya yang menjadi seorang tentara Darul Islam. Ia sering mengalami kebingungan ketika segala macam hal nista di atas namakan Islam, mulai dari menjarah hingga membunuh para tentara Republik. Pergulatan kepribadian Amid dibahas secara mendalam di mana ia seringkali menyesali kehidupannya dahulu. Hinga pada akhirnya pasukan DI/TII kalah. Kemudian, ada sebuah kejadian yang membaut mereka “bergabung” dalam pasukan republik untuk menumpas para gembong-gembong PKI yang masih tersisa.
Tokoh lain seperti Kiram juga sangat menggebu dan memang memiliki ciri khas anak muda pemberani. Kiram yang digambarkan sebagai seorang yang kuat dalam fisik dan pandai dalam berperang, namun lemah dalam literasi. Ia menjadi salah satu tentara Hizbullah yang ikut Kang Suyud menjadi laskar Darul Islam. Kiram ini awalnya tidak ada masalah, mau negara Republik atau Islam, yang penting ia bisa ikut berperang. Namun ketika dihadapkan dengan realitas yang kompleks, ia mulai terbawa arus. Harapan dan kepercayaannya yang ingin jadi tentara pupus karena merasa dikhianati oleh negara, sehingga berbelok membela Darul Islam.
Keunikan novel ini yaitu keunggulannya dalam menggambarkan latar tempat yang begitu apik. Suasana Indonesia, khususnya daerah sekitaran Cilacap pada masanya sangat kental sekali. Mulai dari menggambarkan perkampungan warga, suasana kebun jati Cigobang dan kehidupan budaya masyarakat pada kala itu. Tidak lupa juga Ahmad Tohari menyebutkan detail dinamika yang terjadi pada saat itu, seperti mulai naiknya komunis yang membuat kompleksitas cerita bertambah.
Judul buku : Lingkar Tanah Lingkar Air
Penulis : Ahmad Tohari
Tahun Terbit : 2015
Penerbit : Gramedia Pustaka
Jumlah halaman: 165
Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

