Oleh Ainun Dyan Suttie P, S.Pd.
Buku ini menceritakan tentang pengorbanan seseorang dalam usahanya memajukan pendidikan di sebuah dusun. Dalam suasana kehidupan yang bersedia berkorban untuk kepentingan umum tanpa pamrih.
Sesuai dengan firman Allah di dalam Al quran Surat An Nahl 78, yang artinya : “Dia (kemudian) menciptakan bagi kamu pendengaran, pengelihatan dan hati, agar supaya kamu bersyukur.”
Melalui bimbingan keluarga, guru akhirnya kita dapat mengetahui sesuatu dan kita menjadi manusia berilmu.
Pak Syamsu dan istrinya Bu Tinah pada suatu sore yang tidak seperti biasanya, mereka tidak saling mengobrol karena memang banyak pikiran.
Pak Syamsu teringat akan pembicaraan Pak B. A Kepala Kantor Departemen P dan K Kabupaten Kandangan tentang penugasan Pak Syamsu ke tempat yang jauh yaitu ke Daha Utara di SDN Mayung.
Letak SD Mayung cukup memberatkan dirinya dan keluarga karena cukup jauh dan di daerah rawa yang penuh sarang nyamuk.
Di daerah tersebut juga banyak anak- anak bandel yang belum mengenal aturan. Mereka terbiasa hidup bebas. Pandangan mereka bersekolah itu hanya untuk belajar saja, tak mengerti bahwa sekolah juga merupakan sebuah lembaga yang membina watak dan kepribadian siswanya. Mereka suka mencari ikan di danau daripada pergi sekolah, kerap sekali mereka bolos dan tidak pergi ke sekolah.
Gara- gara Pak Hasan yang menghukum beberapa siswanya yang pulang lebih dulu tanpa izin, sekolahan SD Manyung diprotes banyak orang tua siswa sehingga sekolahan ini ditutup karena tidak ada guru yang mengajar di sana.
Pagi- pagi di pangkalan perahu motor atau dengan istilah daerah Taksian Kelotok tempatnya di Sungai Amandit di pinggir Kota Kandangan orang- orang tampak sibuk. Ada yang membuat barang- barang hasil bumi untuk dibawa ke Kota Daha atau Negara.
Di antara perahu- perahu itu terdapat Pak Nasrul seorang pemuda cakap yang sudah menjadi guru selama 6 tahun yang ditunjuk Pak Kadir B. A menemani Pak Syamsu bertugas di SD Manyung tersebut.
Pak Kadir sangat senang karena Pak Syamsu mau menerima keputusannya untuk bertugas di SD Manyung walaupun beliau harus meninggalkan anak istrinya.
Di Daha banyak rumah didirikan di atas air, tidak ada kendaraan mobil yang ada hanya perahu kecil, speed boat yang hilir mudik di sungai.
Pak Kadir mengenalkan Pak Syamsu dan Pak Nasrul kepada Camat Daha. Pak Camat menceritakan bahwa sejak ditutupnya SD Manyung ini akhirnya masyarakat sadar betapa meruginya mereka bahwa banyak anak yang berkeliaran dan tidak mengenal pendidikan, masyarakat memohon untuk memajukan pendidikan di desa ini.
Sampainya di halaman sekolah sudah dihiasi janur kuning, serta pintu gerbang yang bertuliskan: SELAMAT DATANG BAPAK KEPALA SEKOLAH DAN KEPALA KANTOR DEP. P DAN K KABUPATEN KANDANGAN DAN BAPAK GURU SDN MAYUNG”.
Orang- orang sangat antusias dan berkumpul menanti kedatangan tokoh- tokoh masyarakat yang akan memajukan pendidikan di desanya.
Hari Selasa pagi, pukul 07.15 Pak Syamsu dan Pak Nasrul sudah siap berada di halaman sekolah. Mereka sengaja berangkat pagi ingin melihat lebih jauh segala sikap dan tingkah laku anak- anak serta aspek kehidupan mereka.
Tepat pukul 07.30 lonceng berbunyi, anak- anak di suruh Pak Syamsu berbaris di halaman sekolah menurut kelasnya masing- masing. Pak Syamsu berkenalan kepada semua murid di sana dan memanggil nama mereka satu per satu agar hapal semua muridnya.
Pak Syamsu memerhatikan si Jabir, Uda dan Aat yang nama- nama murid ini yang menurut Pak Hasan sebagai sumber permasalahan.
Pak Syamsu ingin mengetes anak- anak sebelum menjadikan dia sebagai ketua kelas 4. Pak Syamsu melemparkan beberapa pertanyaan secara klasikal mengenai lingkungan hidup di sekitar desa. Semua pertanyaan bisa dijawab dengan jelas oleh murid- murid.
Dari pertanyaan- pertanyaan tersebut Pak Syamsu sudah dapat menyimpulkan siapa saja anak yang cerdas dan anak yang suka membuat ulah. Ruslan, Asniah dan Atun adalah anak yang cerdas. Sedangkan Jabir, Uda, Icih, A’ad dan Laning adalan kelompok anak yang jago mencari keributan.
Selanjutnya strategi Pak Syamsu yaitu memerintahkan anak- anak bertukar tempat duduk. Tujuannya adalah supaya anak- anak bertambah akrab dengan teman- temannya yang lain. Karena menurut Pak Syamsu satu kelas adalah satu kelurga dengan rasa persaudaraan.
Pak Syamsu menanamkan sikap kekeluargaan antara sesama anak dan juga sesama anak- anak dan guru. Beliau lebih mendekatkan dirinya kepada murid- muridnya dan bergaul dengan mereka dengan sedikit- sedikit menertibkan pelaksanaan peraturan sekolah.
Untuk kelas 4 sudah terpilih Icih sebagai ketua kelas. Icih selain anak yang cukup besar, juga di pandang mampu mengatasi teman- temannya . Sikapnya biasa saja dibandingkan dengan Jabur dan Uda ia lebih baik.
Pak Syamsu banyak bercerita tentang dongeng yang berhubungan dengan kecintaan anak terhadap orang tuanya. Juga bercerita tentang anak yang durhaka terhadap ibu bapaknya.
Setiap hari Senin akan diadakan upacara bendera untuk menghargai jasa Pahlwan dan bendera kebanggaan negara kita.
Dalam setiap upacara Pak Syamsu selalu memberikan banyak nasihat- nasihat untuk anak- anak didiknya. Dan tak lupa juga menyemangati mereka untuk menjadi orang yang berguna bagi keluarga, orang lain dan negaranya.
Jabir murid kelas 4 yang dikenal sebagai anak istimewa yang sering mengganggu teman- temannya. Di kampungnya ia juga di kenal dengan kenakalannya. Namun Jabir merupakan anak yang pemberani karena sering naik perahu sendiri ke danau tanpa ditemani temannya. Di juga keras kepala, hanya sayangnya dia anak yang mempunya otak tak begitu cerdas.
Pada saat Pak Syamsu memberikan ulangan matematika Jabir memaksa Laning untuk memberi jawabannya tapi tak berhasil. Jabir mendapatkan nilai jelek dan dia tak terima karena Laning tak mau meberikan jawabannya. Akhirnya ketika istirahat Jabir menonjok kayu Laning yang sedang sendiri hingga roboh. Hingga Laning dan Aad terjatuh ke air. Jabir juga menonjok dada Laning, terdengarlah teriakan anak- anak. Pak Syamsu dan Pak Nasrul lari menuju tempat kejadian dan memerintahkan Jabir untuk diam di tempat.
Pak Nasrul membawa Jabir ke kantor dan Pak Syamsu mengajak Laning dan Aad ke rumah memberikan selimut agar tidak kedinginan dan menyuruh mereka beristirahat.
Di situ pak Syamsu juga menasihati Laning dan Aad bahwa mereka tidak boleh membalas perbuatan Jabir. Dengan balas membalas tak akan ada hasilnya, bahkan mendatangkankerugian yang besar kata Pak Syamsu.
Sesudah itu Pak Syamsu menemui Jabir dan mencoba menasihatinya. Jabir merasa takut kalau peristiwa ini diketahui ayahnya sudah pasti ia akan dimarahi dan dipukul ayahnya. Pak Syamsu menyuruh Jabir untuk berjanji dan meminta maaf pada Laning dan Aad. Pak Syamsu juga menyuruh Jabir mencuci baju Laning dan Aad karena dirinya baju mereka basah dan kotor.
Dengan berat hati Jabir mencuci baju Laning dan Aad karena takut dikeluarkan dari sekolah. Namun Jabir merasa segan kepada Pak Syamsu karena beliau menghukum dengan cara yang amat bijak tidak menggunakan kekerasan.
SDN Manyung sudah sangat jauh berbeda dengan dulu, sekarang pun sudah ada tambah guru 3. Minggu ini adalah minggu yang sangat sibuk di SDN Manyung karena adanya surat Dep P dan K bahwa 2 bulan lagi akan diadakan seleksi di bidang olahraga dan kesenian.
Mereka berusaha dan belajar dengan giat, Pak syamsu juga menunjuk anak- anak yang dikiranya mampu mengikuti lomba tersebut sesuai kemampuan yang dimiliki. Akhirnya dari semua perlombaan itu, dari hasil kerja keras mereka SDN Manyung mendapatkan juara di beberapa bidang, dan mendapatkan uang.
Sekolah yang dulu hampir mati itu kini sudah mulai bangkit dan murid- muridnya juga dikenal sebagai murid yang berprestasi dengan jerih payah Pak Syamsu.
Namun akhir- akhir ini Pak Syamsu kesehatanya mulai menurun, beliau sering sakit- sakitan sehingga beliau memutuskan untuk mengajukan pensiun. Saat upacara Pak Syamsu meminta maaf bahwa terpaksa meninggalkan sekolah dan mendoakan SDN Mayung lebih meningkat prestasinya. Kesan khusus yang ditinggalkan Pak Syamsu adalah Pak Syamsu merupakan kepala sekolah yang penuh dengan tanggung jawab.
Keunggulan buku : Mengispirasi bagi para guru bahwasanya banyak cara untuk mendekati anak nakal tanpa menggunakan kekerasan.
Judul : Pendekar Budi Tanpa Melati
Karya : A. Muin Dulmas
Penerbit : Balai Pustaka
Halaman : 70 halaman
Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

