Mau Menjadi Driver atau Passenger ?

Oleh Frensi Agustina, S.Pd.

Buku karya motivator hebat sekaligus dosen, guru besar dan rektor Profesor Rhenald Kasali, Phd. ini merupakan buku yang mengajak kita untuk menjadi pribadi yang baik dan dapat mengatur diri sendiri. Seseorang  yang semula adalah penumpang yang buruk atau karyawan yang buruk dalam buku ini disebut bad passenger agar menjadi penumpang yang baik atau karyawan yang baik dalam buku ini disebut good passengers. Seseorang yang semula sopir yang buruk atau pemimpin yang buruk dalam buku ini disebut bad drivers agar menjadi sopir yang baik atau pemimpin yang baik dalam buku ini disebut good drivers. Manusia sudah sepatutnya menjadi good drivers yang kemudian mampu menjadi self driving yaitu seseorang yang dengan penuh kesadaran mampu menggerakkan dirinya sendiri ke arah yang lebih baik. Seorang manusia itu wajib terus berpikir, jujur, disiplin, komitmen, inisiatif, melayani, navigasi, beradaptasi, upgrade sehingga mampu mengatur dirinya sendiri. Jika sudah mampu mengatur dan menggerakkan dirinya sendiri maka dia akan mampu mengatur dan menggerakkan lingkungan yang ada di sekitarnya. Baik di lingkungan keluarga, masyarakat atau di lingkungan kerja dan bangsa ini.

Mental manusia itu dikategorikan mental passenger dan mental driver. Berikut akan kita kupas perbedaan sederhana antara passenger/penumpang dan driver/sopir. Seorang passenger hanya menumpang tidak tahu arah jalan, boleh mengantuk dan boleh tertidur, tidak perlu merawat kendaraan dan sebuah pilihan yang bebas dari bahaya. Sedangkan seorang driver bertugas mengemudikan “kendaraan” menuju titik tertentu, mutlak harus tahu jalan, dilarang mengantuk apalagi tertidur, harus mampu merawat kendaraan dan siap akan risiko/bahaya yang terjadi.

Faktor yang mempengaruhi pola berpikir manusia:

  1. Mandat dipegang orang tua

Ketergantungan anak kepada orang tua, karena sedari kecil sudah disiapkan segala kebutuhan dan kondisi yang serba kecukupan. Rasa ketergantungan yang semakin hari semakin besar, yang kita lupa, anak-anak itu telah tumbuh menjadi manusia dewasa yang mampu berpikir sendiri karena kita sudah melatihnya. Namun kita tidak rela menjadikan mereka manusia dewasa yang mampu berpikir sendiri. Mereka bisa menjadi pengeluh yang selalu kembali ke sangkar induknya/orang tuanya. Mereka manjadi passengers dalam kendaraan besar keluarga.

  1. Melepas ketergantungan

Karena sedari kecil serba kecukupan dan selalu ada solusi dari orang tua, maka ketika dewasa sulit mencari solusi akan persoalan yang menimpa keluarga barunya. Tak sedikit di antara mereka yang kini kesulitan berselancar dalam dinamika kehidupan yang berubah-ubah dan penuh ketidakpastian. Bagi mental driver telah tumbuh menjadi keluarga yang independen dan terbiasa menghadapi ketidakpastian. Orang tua dilarang keras membelenggu kehidupan anaknya.

  1. Belajar hidup dalam dunia baru

Memasuki dunia dewasa artinya menerima beban tanggung jawab menjadi petarung dalam dunia kerja. Dari menjadi beban orang lain kini terbebani memikul tanggung jawab. Dari meminta uang, kini mulai mandiri dan perlahan memberi. Dari passenger menjadi driver. Supaya dapat hidup layak diperlukan inisiatif dan keberanian menjalankan cara-cara baru yang berlaku dalam dunia baru.

  1. Biasakan belajar keluar dari comfort zone

Orang bermental driver siap keluar dari zona nyaman. Menganggap prestasi yang sekarang ini belum cukup bahkan di era VUCA (Volitality/berubah-ubah, Uncertanty/ketidakpastian, Complexity/komplek dan Ambiguity/ambigu) prestasi itu akan berkulang dan bahkan hilang. Jadi setiap saat harus berpikir dengan inovasi baru dan terus berpikir seolah-olah semua itu akan punah. Diperlukan latihan untuk keluar dari zona nyaman.

Berubah berarti memperbaiki diri, memperbaiki kehidupan. Prinsip seorang driver adalah inisiatif, melayani, navigasi dan tanggung jawab.

  1. Inisiatif adalah bekerja tanpa ada yang menyuruh. Berani mengambil langkah berisiko, responsif, dan membaca gejala.
  2. Melayani adalah orang yang berpikir tentang orang lain, mampu mendengar, mau memahami, peduli dan berempati.
  3. Navigasi adalah memiliki keterampilan membawa gerbong ke tujuan, tahu arah, mampu mengarahkan, memberi semangat dan menyatukan tindakan, memelihara “kendaraan” untuk mencapai tujuan.
  4. Tanggung jawab adalah tidak menyalahkan orang lain, tidak berbelit-belit atau menutupi kesalahan diri sendiri.

Mentalitas penumpang (passenger mentality) ditandai dengan:

  1. Sudah puas dengan keadaan sekarang
  2. Tidak menyukai tantangan baru
  3. Menyerahkan masalah kepada atasan atau orang lain
  4. Menunggu perintah dan menjawab dengan kata “siap”
  5. Takut menghadapi masalah dan takut melakukan kesalahan
  6. Sangat mencintai jabatan atau kekuasaannya
  7. Dikendalikan oleh “autopilot
  8. Terlalu membanggakan apa yang telah dicapai
  9. Menyandera organisasi sebagai alat untuk “menumpang hidup”

Driver memiliki mentalitas yang ditandai dengan:

  1. Sangat tidak puas dengan keadaan sekarang (status quo)
  2. Menyukai tantangan-tantangan baru, mengeksplorasi peluang-peluang baru
  3. Memecahkan masalah bersama, menginspirasi orang lain
  4. Bekerja dengan hati, mencintai sesama, menjaga hubungan baik, memiliki kepedulian
  5. Memimpin dengan pertanyaan, memperbaiki cara berpikir penumpang-penumpangnya
  6. Memberikan arah jalan yang jelas, merangkul orang-orang yang berbeda paham dengannya
  7. Berani melakukan kesalahan-kesalahan kecil dan mengambil risiko terukur
  8. Sangat mencintai perubahan, namun rendah hati, dan penuh empati
  9. Dikendalikan oleh creative thinking
  10. Selalu belajar tentang hal-hal baru
  11. Membebaskan para sandera dari penumpang yang membajak organisasi

Tahapan mengubah pola pikir dari passenger menjadi driver

  1. Drive Yourself

Diri sendiri adalah orang yang pertama-tama menentukan masa depan kita sendiri. Untuk menjadi good driver adalah kita sendiri yang menentukannya. Seorang driver melakukan investasi diri seperti seorang pengusaha

  1. Disiplin diri. Forced discipline ini digerakkan dari luar oleh lembaga tempat bekerja, orangtua, guru, trainer atau coach Self discipline berasal dari diri sendiri yang dibentuk secara bertahap dan melawan ketidaknyamanan-ketidaknyamanan diri. Indisiplin, ini adalah perilaku yang tidak berdisiplin.

Jadi dibutuhkan kedisiplinan diri yang terus dilatih. Jika sudah menemukan pintunya maka akan timbul kekuatan dalam diri sendiri atau tenaga dalam (inner strength)

  1. Menghadapi risiko
  2. Bermain untuk menang
  3. Kekuatan berpikir simpel
  4. 2C (critical and creative thinking)
  5. Mindset yang tumbuh
  6. Drive Your People

Bila ingin berhasil maka bantulah orang lain agar mereka juga berhasil. Seorang driver mengembangkan orang lain dengan berbagai pendekatan:

  1. Goal setting dan mengambil keputusan
  2. Memimpin dengan hatinya
  3. Kekuatan memberi (the power of giving)
  4. Leadership bisa ke atas, ke bawah, ke samping yang solid
  5. Drive Your Organization

Seorang driver tidak membiarkan organisasinya kerdil tidak tumbuh. Anda perlu memperbarui organisasi atau tumbuh adalah sumber inspirasi, sumber inovasi, dan tentu saja tempat kita mendapatkan calon pemimpin. Seorang driver memerlukan:

  1. Berpikir strategis (strategic thinking)
  2. Berbagai teori klasik, konsep dasar dan pandangan baru
  3. Pemahaman tentang kompetitif
  4. Berpikir perubahan dan adaptif
  5. Bekerja dengan tata nilai dan etika (ethics & values)
  6. Agility (ketangkasan gerak)
  7. Drive Your Nation

Driver yang baik akan tumbuh subur dalam sebuah driving society. Kita memerlukan sistem politik dan leadership yang mendukung tumbuh dan berkembangnya kekuatan rakyat, pegawai, pengusaha, pejabat, mahasiswa sebagai driver yang memajukan bangsa.

Jika sudah berhasil mengatur diri sendiri maka diharapkan mampu menggerakkan orang lain, orang banyak mampu menggerakkan organisasi atau tempat bekerja. Jika organisasi sudah tertata dengan baik maka selanjutnya mampu menggerakkan bangsa ini. Good driver adalah inisiator tokoh perubahan dan menjadi role model bagi banyak orang. Dia adalah seorang winner/pemenang. Kebalikannya seorang passenger memiliki sifat losser/pecundang. Hal-hal yang perlu dikembangkan untuk menjadi good driver diperlukan latihan yang keras:

  1. Terapkan sasaran
  2. Pelajari aturan-aturannya
  3. Buang perilaku buruk
  4. Jadilah manusia bertanggungjawab
  5. Manajemen “deadline
  6. Jadikanlah disiplin sebagai gaya hidup
  7. Manajemen 3D: Do it (lakukan), Delegate it (delegasikan), or Dumpt it (tolak)

Kelebihan

Dalam buku ini diceritakan tentang kehidupan tokoh besar dan inspiratif seperti Soekarno, Gusdur, K.H. Ahmad Dahlan, Sam Ratulangi, musisi Mozart, miliader muda Sehat Sutardja, dan lain-lain. Tulisan penulis yang diunggah ke media massa pun turut diceritakan sehingga menambah wawasan dan cakrawala kita.

Kekurangan

Dalam menyajikan cerita utama buku dan cerita tentang tokoh inspiratif penempatan tulisan dijadikan dalam halaman yang sama dengan pembatas kotak. Jadi terkadang pembaca mengalami kebingungan dalam memilih lanjutan cerita apakah cerita utama atau cerita tokoh inspiratif. Bagi beberapa pembaca kekurangan ini mungkin juga dianggap kelebihan. Karena satu halaman ada alur berbeda, sehingga pembaca tidak bosan dengan jalannya satu cerita saja.

Rekomendasi

Buku motivasi ini layak dibaca di seluruh lapisan masyarakat kaum muda atau kaum milenial dan kaum tua yang secara usia dianggap sudah matang. Sangat dianjurkan dibaca kaum akademisi yang ingin terus berinovasi dalam dunia pendidikan, juga wajib dibaca bagi para manajemen organisasi. (*/ykib).

Identitas Buku

Judul Buku                  : Self Driving

Pengarang Buku          : Rhenald Kasali

Penerbit Buku              : Mizan Anggota IKAPI

Kota Terbit                  : Jakarta

Tahun Terbit                : 2014

Tebal Buku                  : 270 halaman

 Penulis resensi buku adalah guru penggerak Kampung Ilmu

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *