Mukjizat Terbesar Bukti Kenabian dan Kerasulan

Oleh Min Qurin Amaliya Qoria, S.Pd.

Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin Rabiul Awal tahun Gajah, ibunya bernama Aminah yang pada saat itu melahirkan Nabi Muhammad SAW tanpa didampingi sang suami yaitu Abdullah karena ayahnya meninggal pada saat Nabi Muhammad SAW berusia empat bulan dalam kandungan. Abdullah adalah putra bungsu dari “Abdul Muthalib” pada saat remaja Abdullah hendak dikorbankan oleh sang ayah karena Abdul Muthalib pernah bernazar jikalau memiliki 10 anak maka salah satu anak tersebut mau dikorbankan, akan tetapi batal mengorbankan Abdullah dan menggantinya dengan 100 ekor unta.

 Setelah Nabi Muhammad SAW lahir ibunya mengirim utusan kepada Abdul Muthalib  untuk memberi tahu kelahiran cucunya. Mendengar kelahiran cucunya Abdul Muthalib sangat gembira dan menggendong sang cucu masuk kedalam Kakbah dan tak henti-hentinya dia berdoa dan bersyukur kepada Allah SWT. Setelah itu Abdul Muthalib mengadakan akikah dan mengkhitankan Nabi Muhammad SAW pada hari ke-7.

Kelahiran Nabi Muhammad SAW membawa berkah yang luar biasa bagi Aminah dan Abdul Muthalib. Namun, kebahagian ini tak berlangsung lama, sebab sesuai tradisi bangsa arab, seorang bayi yang lahir dari kalangan mereka harus disusui oleh perempuan lain di pedesaan, itu dilakukan bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh selain itu juga diharapkan kelak anak tersebut fasih berbahasa Arab. Sebelum mendapat ibu susuan Nabi Muhammad SAW disusui oleh Tsuwaibah akan tetapi tidak lama karena air susunya sudah tidak keluar, kemudian datanglah Halimah As Sa’diyah, dia adalah seorang perempuan miskin dari Bani Sa’d. Dia juga memiliki bayi yang masih menyusu, namun karena kondisi yang miskin air susu Halimah tidak keluar banyak. Halimah meminta izin mau menjadi ibu susu bagi Nabi Muhammad SAW. Dan  membawa Muhammad ke kampung halamannya. Singkat cerita di tengah perjalanan dia hendak menyusui Muhammad, tiba-tiba air susu Halimah mengalir deras, dan ketika suaminya Halimah memeriksa unta yang dikendarainya. Dia mendapati puting susu untanya penuh dengan air susu. Dia kemudian memerah susu untuk diminum bersama istrinya. Keajaiban kembali terjadi, keledai dan unta yang semula lemah sekarang mampu berlari kencang. Sesampainya di desa, Halimah sangat terkejut ladang miliknya yang semula tandus menjadi subur, pohon kurma berbuah lebat, domba-dombanya dalam keadaan gemuk dengan penuh susu.

“Ini benar-benar keajaiban. Bayi ini membawa berkah yang luar biasa” kata Halimah kepada suaminya.

Dua tahun telah berlalu, banyak berkah yang dirasakan oleh Halimah dengan kehadiran Nabi Muhammad SAW selama tinggal di rumahnya. Halimah merasa berat hati pada saat mau mengembalikan Muhammad ke ibunya Aminah. Rasanya berat berpisah dengan Muhammad. Halimah begitu mencintai Muhammad melebihi putranya sendiri. Kemudian Halimah memohon kepada Aminah agar diizinkan mengasuh Muhammad beberapa tahun lagi. Karena adanya wabah penyakit di Mekkah dengan berat hati Aminah mengabulkan permintaan itu. Suatu hari, Muhammad sedang bermain dengan saudara sepersusuannya yang bernama Dhimran. Tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh kehadiran lelaki berjubah putih, dia mendatangi Muhammad dan memegang tangannya. Lelaki itu adalah Malaikat Jibril. Dia diperintahkan oleh Allah SWT untuk membersihkan hati Muhammad. Dengan cepat malaikat Jibril bekerja, dia membuka baju Muhammad dan membedah dadanya. Hati Muhammad diambil, segumpal darah dikeluarkan Jibril dari hati tersebut. Kemudian Jibril mencuci gumpalan darah tersebut ke dalam bejana emas berisi air zamzam. Setelah hati itu bersih, Jibril mengembalikan ke tempat semula.

Allah SWT menurunkan Al-Quran pertama kali saat Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun. Waktu itu, beliau tengah menyendiri di Gua Hira. Beliau sedang mencari jawaban atas kegelisahan hatinya selama ini. Suatu malam pada bulan Ramadan, Allah SWT mengutus malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu. Jibril datang menyerupai seorang lelaki. Nabi Muhammad SAW sangat terkejut ketika itu.

“Bacalah!” kata Jibril.

“Aku tidak bisa membaca,” sahut Muhammad ketakutan.

“Bacalah!” perintah Jibril lagi.

“Apa yang harus aku baca?” tubuh Muhammad gemetaran.

“Bacalah! Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptkan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Mengajarkan kepada manusia apa yang belum diketahuinya”.

Nabi Muhammad SAW terus mengikuti apa yang dikatakan Jibril. Setelah kata-kata itu terpatri di hati beliau, Jibril pun menghilang. Sebelum Al-Quran diturunkan, ada kitab-kitab lainnya yaitu Zabur, Taurat dan Injil. Al-Quran diturunkan untuk menyempurkan kitab-kitab terdahulu. Al-Quran berbeda dengan kitab sebelumnya yang hanya untuk kaum tertentu. Al-Quran diturunkan untuk seluruh alam. Al-Quran terjaga kemurniannya. Al-Quran sebagai mukjizat yang abadi. Al-Quran diturunkan kepada Rasulullah SAW secara berangsur-angsur, selama 23 tahun, 13 tahun diturunkan di Mekkah dan 10 tahun diturunkan di Madinah.

 Dalam proses kenabian Rasulullah SAW, beliau banyak sekali  menghadapi rintangan. Tak henti-hentinya orang musyrik di Mekkah mengganggu Rasulullah SAW. Mereka melakukan penganiayaan dan penindasan kepada kaum Muslim. Mereka bahkan menghina Rasulullah SAW. Pada suatu malam, tokoh-tokoh orang kafir Quraisy berkumpul di Mina. Mereka adalah Abu Jahal, Wahid bin Mughirah dan Al-Ash bin Qail. Mereka menemui Rasulullah SAW. Seperti biasa mereka datang untuk menghina Rasulullah SAW.

“Wahai Muhammad, jikalau engkau benar Nabi dan Rasul, coba tunjukkan kepada kami satu kehebatan yang bisa membuktikan kenabian dan kerasulanmu?” kata mereka sambil mengejek.

Rasulullah SAW kemudian bertanya, “Apa yang kalian inginkan?”.

“Coba belah bulan itu menjadi 2 ?” kata mereka sambil tersenyum sinis penuh penghinaan.

Apakah kalian akan masuk Islam jika aku sanggup melakukannya?” tanya Rasulullah SAW. Kemudian mereka tertawa sinis dan menjawab “ya’.

Kemudian Rasulullah, berdiam sesaat dan memohon kepada Allah SWT untuk menolongnnya. Kemudian, terbelahlah bulan itu dengan sendirinya. Sambil menunjukkan bulan yang sudah terbelah, Rasulullah bersabda, “Wahai Abu Jahal bersaksilah kamu! Wahai Walid bin Mughirah, bersaksilah kamu! Dan kamu Al-‘Ash bin Qail, bersaksilah!” kata Rasulullah SAW kepada kaum Musyrikin yang hadir. Mereka semua tercengang dengan apa yang mereka saksikan. Bulan benar-benar terbelah menjadi 2.

Malam menyelimuti Kota Mekkah, pada saat itulah Rasulullah kedatangan tamu yaitu Malaikat Jibril. Beliau sangat terkejut oleh kedatangan Malaikat Jibril. Malaikat Jibril berkata “Engkau akan diperjalankan menuju langit oleh Allah SWT dari Masjidil Aqsha. Setelah itu Malaikat Jibril membedah perut Rasulullah lalu mengeluarkan hati Rasulullah dan dicuci dibersihkan dengan air zamzam. Setelah hatinya bersih dan dipenuhi iman dan hikmah. Singkatnya, Rasulullah dan Malaikat Jibril naik Buraq mulai melakukan perjalanan menuju Masjidil Aqsha. Perjalanan tersebut disebut dengan Isra. Dalam sekejap mereka terbang melintasi Kota Mekkah. Perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha diungkapkan dalam firman Allah SWT. “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hambanya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagai tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya, dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”. (QS Al Isra, 17:1). Isra adalah perjalan penuh mukjizat karena Rasulullah menempuhnya hanya dalam waktu sekejap, padahal jarak antara Masjidil Haram ke Masjidil  Aqsha sangat jauh.

Setelah perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan Mikraj ke langit ke tujuh hingga Sidratul Muntaha. Di langit pertama beliau bertemu dengan Nabi Adam A.S. Lalu berlanjut ke langit kedua beliau bertemu dengan Nabi Isa A.S dan Nabi Yahya A.S. Di langit ketiga beliau bertemu dengan Nabi Yusuf A.S. Di langit keempat beliau bertemu dengan Nabi Idris A.S. Di langit kelima beliau bertemu dengan Nabi Harun A.S. Di Langit keenam beliau bertemu dengan Nabi Musa A.S. Dan setelah itu, beliau menuju ke langit ketujuh, di sana Rasulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim A.S. Setelah itu Rasulullah SAW bersama Malaikat Jibril kembali meneruskan perjalanannya hingga tiba di Baitul Makmur, di sana ada dua Sungai yang mengalir di dalam dan dua sungai mengalir di luar. Dua sungai yang mengalir di dalam berasal dari surga. Dan dua sungai yang mengalir di luar adalah sungai Nil dan sungai Eufrat. Kemudian Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan ke Sidratul Muntaha seorang diri. Di sana beliau bertemu dengan Allah SWT. Rasulullah SAW diperintahkan untuk mendirikan Shalat 50 kali dalam sehari. Singkatnya, beliau hendak turun ke bumi di tengah perjalanan beliau bertemu dengan Nabi Musa dan disarankan untuk meminta keringangan shalat. Kemudian Rasulullah kembali menemui Allah SWT untuk meminta keringangan. Kemudian Allah mengabulkannya menjadi 40 kali dalam sehari. Kejadian meminta keringangan terjadi berulang kali sehingga Allah SWT menetapkan dan memerintahkan shalat sebanyak 5 kali dalam sehari semalam. Selesai menerima perintah tersebut Rasulullah SAW kembali ke bumi dengan menaiki Buraq. Menjelang subuh Rasulullah sampai ke bumi.

Identitas buku 

Judul  buku : Mukjizat Terbesar Bukti Kenabian dan Kerasulan

Pengarang : Nurul Asmayani

Penerbit : Sygma Creative Media Corp

Tahun terbit : 2016

Tebal halaman : 48

ISBN : 978-979-055-507-5

Penulis adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *