Orang Bojonegoro Berdarah Bugis dan Esai – Esai Lainnya

Oleh Eti Nurjanah, S.Pd.

Buku Orang Bojonegoro Berdarah Bugis dan Esai-Esai Lainnya ini ditulis oleh Nanang Fahrudin. Ia seorang penulis, jurnalis, penggerak literasi, dan peminat sejarah Bojonegoro. Di dalam bukunya ini, Nanang Fahrudin banyak mengulas sisi-sisi lain sejarah Bojonegoro, tokoh-tokoh Bojonegoro, dan sisi lain kehidupan masyarakat Bojonegoro pada masa lalu.

Melalui buku ini, Nanang Fahrudin membuka pertanyaan yang menggelitik, apakah orang Bojonegoro berdarah Bugis?. Sebab, kata dia, dahulu angka kejahatan di Bojonegoro cukup tinggi, banyak begal, pembunuhan dan pencurian hewan ternak.  Ia menyitir Fraenkel yang menyebutkan, sifat orang Bojonegoro yang mudah marah adalah pengaruh sifat pasukan Raja Bone yang ikut berperang melawan Trunojoyo. Dengan membawa pasukan Bugis ikut menyerang Trunojoyo yang memberontak pada Sunan Mataram. Mereka banyak tinggal di sekitar Bengawan Solo lalu berbaur dengan penduduk setempat.  Darah campuran Bugis inilah yang membentuk karakter orang Bojonegoro.

Bojonegoro dikenal sebagai  daerah dengan ciri khas tersendiri, mulai dari bahasa, desa – desa dengan aneka julukan sebagai penguat sebuah identitas. Ada desa blimbing, desa salak, desa sapi, dan desa lainnya. Yang tak kalah menarik adalah batu Semar seberat 70 ton dipindah dari Kecamatan Gondang ke depan kantor Pemkab Bojonegoro. Tarian khas Bojonegoro adalah tari Tengul. Dan saat ini Bojonegoro dikenal sebagai kota minyak.

Bojonegoro menasional?. Apa semua gara – gara punya minyak?. Sebuah pergeseran sosial budaya dan perebutan ekonomi politik. Karena kita bisa mengamati ketika proses pencarian nilai-nilai lokal Bojonegoro pada saat ini banyak budaya luar yang masuk bertubi-tubi. Masyarakat pun mempunyai gejala yang sama yakni masyarakat yang memiliki identitas “tanpa identitas “.

Nah pada konteks ini Bupati sebagai pemegang kekuasaan tertinggi harus berpikir tidak sekadar membawa Bojonegoro menasional. Namun mempersiapkan sumber daya manusia Bojonegoro untuk mampu bersaing dengan masyarakat luar.

Bojonegoro di masa lalu adalah sejarah penuh kabut. Wilayah Bojonegoro adalah bagian dari Kerajaan Majapahit. Bojonegoro merupakan wilayah yang tenteram damai di bawah raja daerah Bhre Matahun. Sejak kerajaan Majapahit runtuh, dipindahkan ke Demak di Jawa Tengah yang bercorak Islam. Dalam periode sejarah kuno Bojonegoro, sepanjang yang diketahui ada prasasti Sekar dan prasasti Pamintihan. Prasasti Sekar ditulis di atas lempengan logam.

Bojonegoro terkenal sebagai pusat penyebaran Islam yakni tempatnya di Padangan. Seorang ulama besar bernama Hasyim inilah penyebar pertama agama Islam. Sekarang namanya terkenal dengan Mbah Sinare. Tercatat pada tanggal 5 Maret 1942 Padangan dijadikan pusat pengaturan strategis oleh Jepang, yang selanjutnya Jepang menguasai kota minyak Cepu. Selain Padangan sejak dulu kawasan Bojonegoro dikenal dengan hasil alamnya berupa kayu jati. Kemasyhuran kayu jati ini sampai ke luar Pulau Jawa. Sehingga pada saat kerajaan Demak mengadakan ekspansi militer untuk merebut Malaka dari tangan Portugis.

Biografi salah satu tokoh di Bojonegoro yakni Sosodoro Djatikoesoemo. Tokoh inilah yang kini dijadikan nama rumah sakit milik Pemkab Bojonegoro di jalan Dr Wahidin. Selain itu banyak tokoh Bojonegoro yang memiliki pengaruh besar bagi Bojonegoro. Namun kebanyakan tokoh-tokoh itu hanya dikenal sebagai namanya saja, sedangkan sejarah hidupnya tak diketahui banyak orang. Seperti para pendiri pondok pesantren di Bojonegoro. Para tokoh yang memiliki kontribusi besar bagi Bojonegoro di bidangnya masing-masing itu tak banyak dikenal sejarah hidupnya.

Seharusnya tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi besar untuk Bojonegoro dikenalkan ke publik oleh lembaga pendidikan yang ada di Bojonegoro. Karena hal itu masuk wilayah sejarah yang tak seharusnya dilewatkan begitu saja. Sejarah harus dicatat dalam lembar- lembar kertas agar masyarakat yang akan datang tetap mengenal mereka, terlebih sekarang zaman sudah canggih dapat dimuat dalam dunia digital.

Sejarah bukan sekadar hal- hal yang terjadi pada masa ratusan tahun lalu. Tim tim sejarah yang dibentuk oleh Pemkab Bojonegoro sudah pernah membuat tim resmi dengan melibatkan banyak pihak. Hasilnya buku itu tak banyak dibaca publik karena keterbatasan jumlah cetak.

Sejarah Bojonegoro bukan hanya seputar perjalanan kerajaan Majapahit atau Jipang lalu berubah menjadi Rajekwesi dan berubah lagi menjadi Bojonegoro. Tapi juga bagaimana harus mengetahui sejarahnya, mengenali tokoh-tokoh lokalnya. Karena jangan sampai kita yang hidup sekarang, hanya meninggalkan bangunan-bangunan tanpa memberikan pengetahuan sejarah pada generasi yang akan datang.  (*/ykib)

Penulis resensi buku adalah guru penggerak Kampung Ilmu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *