*Oleh Tsamrotul Ulum, S.P.
Buku berjudul Start With Why karya Simon Sinek ini berisi tentang cara para pemimpin besar menginspirasi orang lain untuk melakukan suatu perubahan. Seperti judulnya Start With Why yang dapat diartikan memulai dengan mengapa, yang mana ketika kita ingin melakukan sebuah perubahan atau melakukan suatu tindakan, kita mencari tau sebab-akibat beserta solusi terbaik dari sebuah pertanyaan sederhana yaitu mengapa? Mengapa kita harus berubah? Mengapa kita harus pintar? Mengapa kita harus sukses? Dan sebagainya, karena dengan rasa ingin tahu itulah yang akan mendorong seseorang untuk melakukan tindakan agar menemukan jawabannya.
Perilaku dipengaruhi oleh asumsi terhadap sesuatu yang kita pikir tahu dan itu benar. Misalnya ada orang yang meyakini bahwa bumi itu datar, maka mereka akan berperilaku banyak cemas, takut jika mereka bepergian terlalu jauh mereka akan jatuh dari tepian bumi, nah inilah yang dapat memengaruhi tindakan seseorang. Mereka akan bertindak sesuai apa yang mereka yakini itu benar. Setelah ada asumsi dan dibuktikan dengan penelitian bahwa bumi itu bulat, perilaku manusia juga banyak berubah. Dengan meyakini bumi itu bulat, peradaban manusia mulai membuat jalur perdagangan internasional, yang mana orang-orang dapat bepergian lebih jauh dari sebelumnya dan tidak ada rasa takut jatuh dari bumi.
Setiap orang bebas berasumsi sesuai pemikiran dan data yang mereka punya. Seperti di awal bab buku ini, dengan ciri-ciri yang disebutkan sebagian akan berasumsi bahwa penulis sedang mendeskripsikan John F. Kenedy, tetapi ketika ditambahkan satu ciri-ciri lagi yaitu tanggal lahir, ternyata asumsi itu berubah bahwa yang penulis deskripsikan adalah Adolf Hitler. Untuk membuktikan apakah asumsi kita itu benar atau bukan, kita perlu melakukan tindakan pengumpulan data, bisa dengan riset atau dengan meminta bantuan nasihat orang lain sehingga kita memiliki cukup informasi. Salah dalam pengambilan keputusan juga dapat menimbulkan dampak, bisa saja dampak kecil bahkan dampak besar.
Selanjutnya, mengapa pebisnis memiliki pelanggan setia? Ada dua cara untuk memengaruhi perilaku manusia yaitu memanipulasi dan menginspirasi. Memanipulasi belum tentu berkonotasi negatif. Dalam bisnis sampai politik, manipulasi sangat sering dilakukan yaitu menurunkan harga, mengadakan promosi, bahkan membuat inovasi yang menarik dan dapat memengaruhi perilaku konsumen. Misalnya strategi menurunkan harga dengan membuat harga coret atau harga obral akhir taun. Mengadakan promosi bisa dilakukan melalui promosi buy one get one free, promosi melalui media TV atau media lainnya, agar produk lebih banyak dikenal orang dan banyak peminatnya. Melakukan inovasi, seperti menyediakan produk dengan berbagai pilihan warna, ukuran dan kelengkapan fitur. Semua strategi ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan kita.
Sebagian pemimpin memilih memotivasi orang lain dengan cara menginspirasi mereka. Cara mereka melakukannya adalah mengikuti sebuah pola yaitu lingkaran emas yang dimulai dari pertanyaan mengapa, bagaimana dan apa. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Bagaimana cara melakukannya? Apa yang harus kita lakukan?. Contoh sederhananya seperti ini: mengapa perut kita sakit? Karena belum makan. Bagaimana agar perut tidak sakit? Makan dan minum yang bergizi. Apa yang harus kita lakukan? Mengambil nasi, lauk, sayur, air minum dan menyuapkan ke mulut kita hingga merasa cukup kenyang, tetapi tidak berlebihan. Nah secara alami, tubuh kita bisa merespon apabila ada sesuatu yang salah pada tubuh, respon itu nanti yang akan diteruskan ke otak dan menggerakkan anggota tubuh yang lain untuk melakukan suatu tindakan.
Otak manusia terdiri dari dua bagian, yaitu otak limbik dan neokorteks. Otak limbik bertanggung jawab atas semua perasaan kita, seperti kepercayaan dan kesetiaan. Sedangkan otak neokorteks bertanggung jawab untuk pemikiran rasional, analisis dan bahasa. Kedua bagian ini bekerja untuk menentukan suatu keputusan dan tindakan manusia. Otak limbik yang mengendalikan perasaan tetapi tidak memiliki kemampuan bahasa, sehingga sulit untuk mengungkap perasaan melalui kata-kata. Misalnya mengapa kita menikah dengan orang yang kita nikahi saat ini? Kita sulit menjelaskan dengan kata-kata alasan kita mencintai dan menikahinya. Kemudian kita mencoba merasionalkannya dengan bahasa seperti karena dia baik, dia pintar, dia kaya, dia pekerja keras. Padahal di luar sana, juga banyak orang dengan ciri-ciri seperti yang disebutkan tadi. Secara rasional kita tahu bahwa penjelasan itu bukanlah sebab sesungguhnya. Tetapi mengapa kita mencintainya? Berarti saat itulah otak limbik kita bekerja lebih keras, ada perasaan yang tidak mampu dijelaskan melalui kata-kata. (ykib/ulum).
Kelebihan :
Buku ini bagus, membahas tentang bagaimana seorang pemimpin bekerja dan memengaruhi orang lain. Penjelasan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari.
Kekurangan :
Karena buku ini adalah buku terjemahan, maka ada beberapa bab yang rumit dipahami pembaca
Identitas buku
Judul buku : Start With Why
Penulis : Simon Sinek
Penerjemah : Susi Purwoko
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
ISBN : 978-602-06-2883-7
*Penulis resensi buku adalah Kepala Kampung Ilmu Purwosari

