The Tipping Point

*Oleh Min Qurin Amaliya Qori’a, S.Pd.

Setelah saya membaca dan memahami buku The Tipping Point, sebenarnya inti dari buku ini membahas 3 hal, yaitu hukum tentang yang sedikit, faktor kelekatan, dan kekuatan konteks, akan tetapi gaya pembawaannya sedikit “ribet” dan “mbulet” untuk pembaca pemula (mungkin maksudnya untuk memperjelas uraiannya).

Buku The Tipping Point karya Malcolm Gladwell adalah buku yang direkomendasikan untuk dibaca. Oleh sebab itu, buku ini cocok buat kalian yang ingin menambah wawasan tentang bagaimana menyebarkan gagasan dan juga pemasaran.

Buku The Tipping Point mempelajari tentang hal kecil yang bisa memberikan suatu perubahan besar seperti epidemi flu yang menyebar. Di mana hal-hal kecil yang dimaksud dalam buku The Tipping Point adalah seperti ide, gagasan serta produk yang bisa viral jika dikembangkan dengan benar.

Ada tiga karakter agar sesuatu bisa mewabah. Pertama, sifat menular (contagiousness). Kedua, kenyataan bahwa perubahan kecil dapat bermakna besar. Ketiga, perubahannya tidak bertahap, tetapi dramatis atau mendadak. Di antara semuanya itu, yang ketiga adalah yang paling penting. Karena inilah yang membut kedua sifat pertama menjadi bermakna.

Ada banyak kisah yang membuktikan bahwa hal-hal kecil, yang sederhana, dengan modal yang minim, dapat menghasilkan perubahan yang besar dan drastis. Titik perubahan inilah yang Malcolm Gladwell istilahkan dengan tipping point. Dan agar suatu epidemi mencapai tipping point-nya  meledak, menyebar ke segala penjuru dan diterima oleh banyak orang . Ada 3 unsur penting yang menjadi penyebabnya. Ketiga unsur itu adalah:

  1. Law of the Few (Hukum tentang Yang Sedikit)

Bagaimana bisa sebuah produk tiba-tiba viral atau mewabah?. Dalam buku The Tipping Point dibahas tentang meroketnya popularitas dan penjualan sepatu Hush Puppies. Dalam kasus ini, produk sepatu Hush Puppies berubah dari hanya dipakai oleh beberapa hipster di kawasan perbelanjaan Manhattan menjadi dijual di semua toko bergengsi di seluruh Amerika.

Menurut hukum tentang yang sedikit (Law of The Few), jawabannya adalah karena ulah beberapa orang “istimewa”. Salah seorang di antara orang-orang istimewa ini memiliki visi tentang keistimewaan produk ini, kemudian melalui kontak sosial yang dipadu dengan semangat serta kepribadian mereka, informasi tentang Hush Puppies menyebar kepada begitu banyak orang.

Tiga kelompok orang istimewa ini berperan sebagai tokoh penting dalam epidemi komunikasi lisan yang bisa mempengaruhi selera, tren, dan mode. Mereka adalah:

  1. The Connectors (Para Penghubung)

Keberhasilan suatu epidemi sosial sangat bergantung pada keterlibatan orang-orang yang memiliki  keterampilan sosial yang langka. Buku The Tipping Point mencontohkan peristiwa Perang Amerika dan Inggris.

Pada suatu malam, Paul Revere dan William Dawes mengemban tugas yang sama, yaitu mengabarkan ke tempat-tempat di sekitar Kota Boston bahwa bala tentara Inggris sudah datang. Paul menuju arah kota-kota di barat daya, sedangkan William ke arah kota-kota di sebelah barat. Besoknya, tempat-tempat yang didatangi Paul melakukan perlawanan yang sengit terhadap Inggris, sementara yang didatangi William tidak.

Mengapa respon dari kedua  itu berbeda?. Ini bukan karena orang-orang di sebelah barat Boston memihak Inggris. Tetapi, karena pesan yang disampaikan William Dawes tidak menyebar. Penyebabnya, William tidak sepopuler atau seterkenal Paul.

Paul Revere adalah orang yang dikenal di Kota Boston karena terlibat dalam banyak kepanitiaan pembangunan kota. Sedangkan William hanya orang biasa. Dalam kasus ini, bakat keterampilan sosial Paul lebih berpengaruh dibandingkan William.

Apa yang membuat seseorang bisa menjadi The Connectors (penghubung)?. Kriteria pertama dan yang paling jelas adalah para penghubung kenal dengan banyak orang. Mereka jenis orang yang kenal dengan semua orang. Kita semua pasti kenal dengan orang yang mempunyai kemampuan  terkait dengan sifat khas pribadi, percaya diri, kepedulian sosial, dan semangat hidup.

Tetapi, tidak hanya para penghubung yang dapat membuat getok tular (word of mouth) dengan mudah. Selain mereka, ada juga Para Bijak Bestari.

  1. The Mavens (Para Bijak Bestari)

Para Bijak Bestari adalah orang yang tahu dan mengerti banyak hal. Satu hal penting dari para Bijak Bestari adalah mereka bukan pengumpul informasi yang pasif. Begitu tahu cara mengatasi sesuatu, mereka tergerak untuk menceritakan pengalaman atau pengetahuannya pada orang lain.

Seorang bijak bestari adalah orang yang mempunyai informasi tentang banyak produk, harga, atau tempat yang berbeda-beda. Mereka para Maven dengan senang hati menunjukkan kelebihan suatu produk karena ingin semua orang yang dikenalnya mendapatkan produk terbaik itu.

Para Bijak Bestari adalah seseorang yang ingin memecahkan masalah orang lain, umumnya lewat memecahkan masalahnya sendiri. Kenyataan bahwa para bijak bestari selalu ingin membantu, dengan alasan hanya karena ingin membantu, bisa menjadi cara yang sangat efektif untuk membuat orang lain tertarik.

  1. The Salesman (Para Penjaja)

Dalam sebuah epidemi sosial, Bijak Bestari bertindak sebagai bank data, mereka menyediakan informasi. Penghubung bertindak sebagai perekat sosial, mereka menyebarluaskan informasi. Akan tetapi, ada sekelompok orang pilihan lain yang memiliki keterampilan untuk membujuk kita apabila kita belum yakin tentang apa yang kita dengar.

Mereka sama pentingnya dalam proses tipping point atau meledaknya epidemi getok tular sebagaimana peran kedua kelompok terdahulu. Mereka adalah The Salesman (Para Penjaja).

Intinya, bagian Law of The Few ini adalah tentang orangnya atau si agen penginfeksi.

  1. Stickiness Factor (Faktor Kelekatan)

Dalam buku Tipping Point, kelekatan berarti bahwa suatu pesan dapat menghasilkan suatu dampak.

Misalnya ketika Brand Coca-Cola atau Nike yang mempunyai anggaran ratusan juta dolar untuk pemasaran dan mampu memasang iklannya di semua bentuk media agar para konsumen melihat dengan harapan produk mereka selalu diingat dan  melekat.

Dalam Faktor Kelekatan, ada sejumlah cara tertentu untuk membuat sebuah kesan mudah menular dan terus diingat: “ada sebuah perubahan yang meskipun sangat sederhana, baik dalam cara menyajikan maupun cara menyusun informasi, dapat menghasilkan perbedaan besar dari segi dampaknya”.

Untuk menyampaikan sebuah paket informasi, biasanya ada suatu cara sederhana yang dalam situasi yang tepat dapat membuatnya tak terbendung alias viral. Yang perlu kita lakukan adalah menemukannya. Kemudian menampilkannya dalam bentuk pesan yang mudah diingat sehingga melekat dalam pikiran seseorang, dan menggerakkannya untuk bertindak.

Intinya, bagian Stickiness Factor ini adalah tentang hal dan cara penyampaiannya kepada khalayak.

  1. Power of Context (Kekuatan Konteks)

Ketika mencoba membuat sebuah gagasan, sebuah sikap, atau sebuah produk agar mengalami tipping, pada hakikatnya kita mencoba mengubah banyak orang. Kita mencoba menginfeksi mereka dengan epidemi kita, mengubah mereka dari yang tadinya menolak menjadi menerima.

Kekuatan konteks juga membicarakan tentang Angka Seratus Lima Puluh yang Ajaib, yakni suatu anggapan bahwa jumlah maksimal karyawan atau anggota di suatu organisasi adalah 150. Jumlah yang lebih daripada itu akan menimbulkan kerenggangan di antara karyawan dan memecah nilai kekeluargaan dan keefektifan di dalamnya. Jika jumlah karyawan di sebuah perusahaan mencapai lebih dari 150, pecahlah atau kembangkanlah perusahaan tersebut menjadi dua bagian perusahaan baru yang terpisah.

Kekuatan konteks, menjelaskan tentang situasi dan kondisi yang mendukung proses penyampaian suatu epidemi. Segala sesuatu baik itu waktu, tempat, musim, lingkungan, jumlah orang pada suatu organisasi, dan yang lainnya yang mendukung keberhasilan penyebaran epidemi. Baiknya suatu epidemi yang akan kita sebar kepada khalayak itu dikirim di lingkungan yang seperti apa di mana, atau kapan.

Dari buku Tipping Point kita dapat menyimpulkan bahwasanya untuk menciptakan sebuah produk atau jasa yang diterima oleh masyarakat luas, kita tidak bisa melupakan peran ketiga orang di dalam teori Tipping Point ini yaitu The Connectors, The Mavens, The Salesman. Buku ini memberikan banyak contoh-contoh yang sangat bagus. Diambil dari kasus yang telah dianalisis dengan seksama. Setiap contoh yang ditulis akan menguatkan contoh sebelumnya, dan memberikan pemahaman lebih kepada kita akan teori yang telah dijabarkan.

Ringkasan Buku Tipping Point

  1. Ada tiga karakter agar sesuatu bisa mewabah atau viral yaitu “Sifat menular (contagiousness), perubahan kecil dapat bermakna besar, perubahan yang dramatis atau mendadak.”
  2. Ada tiga unsur yang menyebabkan epidemi bisa mencapai masa kritis yaitu “Law of the Few, Stickiness Factor, Power of Context.”
  3. Ada tiga tokoh yang berberperan dalam menyebarkan epidemi produk viral menurut buku Tipping Point. Mereka adalah: The Connectors, The Mavens, The Salesman. (*/ykib).

Identitas buku:  

Judul  buku : The Tipping Point

Pengarang : Malcolm Gladwell

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-602-03-8059-9

*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Purwosari

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *