*Oleh Rita Anggraeni,S.S.,M.A.
Novel Ayah dan Sirkus Pohon merupakan salah satu karya novelis bestseller Andrea Hirata. Ia merupakan seorang novelis Indonesia yang sudah berhasil mendapatkan banyak penghargaan sastra di tingkat Internasional. Andrea Hirata menjadi pemenang pertama New York Book Festival 2013 untuk The Rainbow Troops, Laskar Pelangi edisi Amerika. Selain itu, ia juga pemenang pertama Buchawards 2013, German untuk Die Regenbogen Truppe, Laskah Pelangi edisi Jerman. Penghargaan yang lain yaitu short story pertamanya Dry Season berhasil menjadi pemenang seleksi short story majalah sastra terkemuka Amerika, Washington Square Review edisi winter/spring 2011. Short Story keduanya We Don’t Like Space terpilih untuk majalah sastra 91th Meridian, dan masih banyak penghargaan yang lain.
Andrea Hirata telah menerbitkan banyak novel-novel inspiratif dan bestseller. Salah satu novel yang fenomenal yaitu Laskar Pelangi. Novel ini (hingga tahun 2019) telah berhasil menerbitkan edisi ke-50 dan dalam 30 bahasa. Selain itu telah diedarkan di lebih dari 140 negara, terjual lebih dari 5 juta copy di berbagai negara, menjadi referensi di berbagai sekolah dan lembga di luar negeri untuk studi tentang pendidikan, sastra dan budaya Indonesia. Novel ini menjadi buku pertama international bestseller dari Indonesia. Karya Andrea Hirata yang lain, di antaranya Sang Pemimpi, Buku Besar Peminum Kopi, Mozaik-Mozaik Terindah, Ayah, Padang Bulan, Guru Aini, Orang-Orang Biasa, Cinta di Dalam Gelas, Edensor, Ayah dan Sirkus Pohon, dan masih banyak lagi.
Novel Ayah dan Sirkus Pohon terdiri atas 20 bagian. Novel ini menceritakan tentang perjuangan hidup sebuah keluarga yang terdiri atas ayah, dan kelima anaknya. Hob merupakan anak ke-4 dari 5 bersaudara. Ibunya sudah meninggal secara mendadak tanpa tahu penyebabnya. Adapun ayahnya yang telah berusia 70 tahun dan berprofesi sebagai penjual minuman ringan di stadion kabupaten. Hob menjadi anak yang mempunyai nasib yang berbeda dengan saudara-saudaranya. Kakak pertamanya bekerja di eksplorasi PN Timah. Kakak keduanya juga bekerja di PN Timah sebagai juru ukur. Kakak ketiganya adalah PNS di kantor Syahbandar. Anak terakhir adalah adik bungsu perempuan yang suka menyiksa suaminya. Hob sendiri adalah seorang pengangguran yang bersekolah hanya sampai kelas 2 SMP. Hob tidak bisa lulus SMP karena pengaruh temannya, Taripol, ketua geng atau mafia yang menjadi buronan polisi. Bagi Hob yang hanya lulusan SD, mengalami kesulitan ketika mencari pekerjaan, hingga ia bertemu dengan seorang perempuan cantik pemilik sirkus keliling. Akhirnya, ia diterima sebagai seorang badut penghibur di sirkus tersebut. Ia bekerja dengan giat dan sepenuh hati. Karier sebagai badut yang dirintis Hob dari nol, hingga ia berhasil tampil di depan ayahnya yang menonton pertunjukkan dengan penuh perasaan kagum dan bangga. Di dalam novel ini, Hob tidak hanya mengalami kesulitan dalam pekerjaan, tetapi juga dalam percintaan.
Tokoh lain dalam novel ini adalah Sabari. Ia memiliki kehidupan apa adanya. Ia merasa belum mencapai apa yang ia harapkan. Meskipun demikian, Sabari adalah seorang pria yang setia. Ia selalu berusaha mendapatkan hati seorang perempuan berandalan yang bernama Marlena. Bukan hanya pada Marlena, Zorro yang merupakan anak angkat Sabari juga menjadi karakter yang menunjukkan betapa setianya sosok Sabari. Kisah Sabari yang teguh dengan kesetiaan dan kebaikan di tengah kondisi kehidupan yang menekannya, mampu menghadirkan kisah sedih yang menyayat hati meskipun dibungkus dalam percakapan-percakapan lucu antar tokoh. Sabari sangat menyayangi Zorro. Ia terpesona ketika melihat makhluk kecil yang sangat cantik dan indah tersebut. Ia membayangkan suatu saat bisa bermain dan mengajarinya berbagai hal. Meskipun Zorro hanyalah anak angkatnya, tetapi ia sangat menyayanginya sepenuh hati.
Tokoh dalam novel ini memiliki kehidupan yang menyedihkan, tetapi penulis mampu mengemasnya secara apik melalui berbagai percakapan jenaka dari setiap tokohnya. Beberapa tokoh figuran yang berkaitan dengan kehidupan para tokoh juga diceritakan secara apik dengan pengaruhnya masing-masing pada kehidupan antar tokoh. Para tokoh utama memiliki persamaan yaitu sama-sama bekerja dengan tekun dan giat. Banyak konflik dan masalah yang mereka lewati selama hidup mereka, tetapi akhirnya berhasil melewati masalah tersebut dan bisa hidup dengan bahagia.
Kelebihan: novel ini ditulis dengan cerita yang rapi, sehingga membuat penasaran para pembaca hingga akhir. Novel ini juga menyuguhkan cerita yang beragam, bisa membuat pembaca terhibur, terharu, dan sedih larut dalam setiap alur penceritaannya. Novel ini juga memberikan hikmah kepada pembaca tentang kesabaran, perjuangan mendapatkan cinta, bahkan tentang ilmu politik, sehingga bisa memotivasi pembaca ketika menjalani kerasnya hidup. Novel ini cocok dibaca oleh semua kalangan.
Kekurangan: menggunakan bahasa Melayu asli, sehingga terkadang sulit dipahami. Selain itu, alur yang digunakan adalah alur maju mundur dan banyaknya tokoh, sehingga pembaca harus benar-benar fokus untuk membaca agar bisa memahami ceritanya secara menyeluruh. (*/ykib).
Identitas buku:
Judul buku : Ayah dan Sirkus Pohon
Pengarang : Andrea Hirata
Penerbit : Penerbit Bentang (PT Bentang Pustaka), Yogyakarta
Tahun Terbit : Agustus 2021 (Cetakan Ketiga)
Jumlah Halaman: x + 198 hlm
ISBN : 978-602-291-661-1
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

