*Oleh Irene Fanidyas Berlianita, S.Stat.
Buku Twenty Four Eyes ini merupakan karya Sakae Tsuboi yaitu salah satu sastrawan Jepang yang sangat terkenal dengan karya-karyanya yang mengangkat tema kehidupan masyarakat Jepang. Buku ini pertama kali diterbitkan di Jepang pada tahun 1952 dan menjadi salah satu buku yang sangat populer. Cerita di dalamnya menggambarkan kehidupan masyarakat, hubungan antara guru dan murid di daerah pedesaan pada masa perang di Jepang. Buku ini diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, salah satunya dalam Bahasa Indonesia yaitu Dua Belas Pasang Mata.
Dalam buku ini, penulis mengangkat kisah tentang seorang guru muda bernama Oishi yang ditugaskan untuk mengajar di sebuah sekolah dasar yang berada di desa kecil di Pulau Shodoshima, Jepang. Desa tersebut merupakan daerah yang sederhana dan jauh dari peradaban kota besar yang modern dengan sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani dan nelayan. Guru Oishi dikenal sebagai sosok yang ramah, sabar, dan penuh perhatian kepada murid-muridnya. Ia memiliki semangat yang besar untuk mengajar dan membantu anak-anak desa mendapatkan pendidikan yang baik dan layak.
Pada awal cerita, guru Oishi datang ke desa tersebut dengan menggunakan sepeda dan berpakaian modern. Penampilannya yang terlihat berbeda dibandingkan masyarakat desa, membuat sebagian warga merasa heran dan sedikit curiga. Namun, sikap hangat dan keramahannya membuat guru Oishi semakin dekat dengan mereka. Di sekolah, guru Oishi mengajar dua belas murid yang masing-masing memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda-beda. Dua belas murid ini disebut sebagai “dua belas pasang mata” yang selalu memandang guru mereka dengan penuh harapan. Mereka adalah anak-anak desa yang hidup sederhana tetapi memiliki semangat belajar yang tinggi.
Penulis menjelaskan bagaimana kehidupan di sekolah yang sederhana tersebut dipenuhi dengan berbagai pengalaman yang berharga. Guru Oishi tidak hanya mengajarkan pelajaran akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, persahabatan, serta rasa saling menghargai. Hubungan antara guru Oishi dan murid-muridnya tidak hanya terbatas pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Hubungan tersebut berkembang menjadi ikatan yang penuh kasih sayang, perhatian, dan kepedulian. Guru Oishi berusaha memahami kehidupan murid-muridnya agar dapat memberikan dukungan yang mereka butuhkan. Ia percaya bahwa setiap anak memiliki potensi dan masa depan yang dapat berkembang jika diberikan kesempatan.
Dalam cerita ini, penulis juga menggambarkan berbagai peristiwa yang dialami oleh para murid selama masa sekolah. Beberapa kisah kecil yang terjadi dalam kehidupan mereka, membuat cerita ini terasa sangat dekat dan sesuai dengan kehidupan nyata. Namun seiring berjalannya waktu, keadaan mulai berubah ketika Jepang memasuki masa perang. Situasi ini membawa dampak besar bagi kehidupan masyarakat desa, termasuk bagi murid-murid guru Oishi. Kondisi ekonomi menjadi semakin sulit, banyak keluarga harus menghadapi berbagai kesulitan dan beberapa murid terpaksa harus berhenti sekolah untuk membantu orang tua mereka bekerja. Mereka harus menjalani kehidupan masing-masing dengan berbagai tantangan yang berbeda. Ada yang berhasil mencapai kehidupan yang lebih baik, namun ada pula yang harus menghadapi berbagai kesulitan hidup.
Berdasarkan perjalanan hidup para murid tersebut, pembaca dapat melihat bagaimana waktu dapat membawa perubahan dalam kehidupan manusia. Kenangan masa sekolah yang dahulu penuh kebahagiaan, menjadi salah satu bagian penting dalam kehidupan mereka. Guru Oishi sendiri selalu mengenang murid-muridnya dengan penuh kasih sayang. Ia merasa bahwa menjadi seorang guru bukan hanya sekadar pekerjaan, tetapi juga sebuah tanggung jawab untuk membimbing generasi muda agar menjadi manusia yang lebih baik.
Dalam buku ini, penulis juga menyampaikan pesan bahwa hubungan antara guru dan murid dapat memberikan pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seseorang. Seorang guru yang penuh perhatian dan kasih sayang dapat memberikan inspirasi yang bertahan sepanjang hidup murid-muridnya. Selain itu, penulis juga menggambarkan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan seperti rasa empati, peduli, dan rasa saling membantu dalam kehidupan bermasyarakat. Melalui kisah sederhana tentang kehidupan desa dan sekolah, buku ini mampu menyampaikan pesan moral yang sangat mendalam. Melalui kisah ini, penulis ingin mengingatkan pembaca bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter manusia. Guru bukan hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk nilai-nilai kehidupan yang akan dibawa oleh murid-muridnya sepanjang hidup mereka.
Kelebihan Buku Dua Belas Pasang Mata
Buku ini menggunakan gaya bahasa yang ringan, mudah dipahami, dan mampu menyampaikan berbagai nilai kehidupan yang penting bagi pembaca, seperti mengajarkan pentingnya pendidikan, persahabatan, empati, dan rasa peduli terhadap sesama. Cerita dalam buku ini ditulis dengan sangat menyentuh dan mampu menggugah emosi pembaca. Selain itu, latar cerita yang ditulis menggambarkan kehidupan masyarakat Jepang pada masa sebelum dan sesudah perang sehingga memberikan wawasan sejarah dan budaya bagi pembaca. Adapun tokoh dalam cerita memiliki karakter dan latar belakang yang berbeda-beda sehingga membuat cerita terasa lebih hidup dan tidak membosankan.
Kekurangan Buku Dua Belas Pasang Mata
Beberapa bagian pada buku ini memiliki alur cerita yang cukup lambat karena penulis lebih banyak menggambarkan kehidupan sehari-hari para tokohnya. Selain itu, beberapa bagian cerita terasa sangat menyedihkan dan berat secara emosional, sehingga untuk sebagian pembaca merasa buku ini cukup berat untuk dibaca.
Rekomendasi Buku Dua Belas Pasang Mata
Buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh remaja maupun masyarakat umum karena bahasa yang digunakan cukup sederhana dan mudah dipahami serta ceritanya yang menyentuh hati dan mengandung nilai kehidupan, seperti empati, persahabatan, dan rasa peduli terhadap sesama. Melalui kisah Guru Oishi dan murid-muridnya, pembaca dapat melihat bagaimana pendidikan, kasih sayang, dan kepedulian seorang guru dapat memberikan pengaruh yang besar dalam kehidupan anak-anak. (ykib/irene).
Identitas Buku
Judul Buku : Dua Belas Pasang Mata (Twenty Four Eyes)
Penulis : Sakae Tsuboi
Penerjemah : Tanti Lesmana
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : 2021
Tebal buku : 248 halaman
Genre : Sastra dan Fiksi Sejarah
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kalitidu

