*Oleh Husnun Mahidin, S.Pd.
Buku Janji adalah novel kesekian dari Darwis atau yang dikenal dengan nama pena “Tere Liye”. Novel ini menceritakan tentang tiga sekawan bernama Hasan, Baso, dan Kaharuddin yang bersekolah di sebuah sekolah agama bersama ribuan santri lainnya.
Hasan, Baso, dan Kaharuddin adalah tiga santri yang berasal dari tiga latar belakang keluarga yang berbeda. Di sekolah, mereka terkenal dengan kenakalannya. Semua guru di sekolah itu sudah kewalahan dengan kenakalan mereka. Hampir semua kenakalan sudah mereka lakukan di sekolah itu, mulai dari bolos dari pondok, menyembunyikan barang milik murid lain, menjaili guru-guru, merusak mesin air, membuat satu pondok tidak bisa mandi selama dua hari, bertengkar dengan murid lain, dan lain sebagainya.
Hingga pada suatu hari tiga sekawan ini melakukan kesalahan yang fatal, yaitu memperlakukan tamu agung pesantren itu dengan tidak sopan. Mereka pun dipanggil oleh Buya (pemimpin sekolah tersebut) untuk diberi hukuman.
Namun sebelum memberikan hukuman, Buya menceritakan bahwa di sekolah tersebut pada 40 tahun yang lalu ketika sekolah ini masih dipimpin oleh ayahnya bahwa ada seorang santri yang nakalnya melebihi mereka. Namanya Bahar. Berkelahi dengan penduduk, diam-diam pergi ke desa terdekat menyabung ayam, minum tuak, hingga yang paling parah adalah menghilangkan nyawa salah seorang santri walaupun tidak sengaja.
Akhirnya, atas kesalahan anak tersebut Buya pun merasa gagal mendidik Bahar. Dengan berat hati dan linangan air mata, Buya mengeluarkan Bahar dari sekolah tersebut, mempersilakan Bahar pergi kemana saja ia suka.
Buya (pemimpin sekolah agama sekarang) “menghukum” tiga sekawan untuk mencari Bahar dan menyampaikan pesan ayahnya kepada Bahar. Setelah menerima bekal dari Buya, tiga sekawan pun memulai perjalanan ribuan kilo meter dan singgah di banyak tempat untuk mencari seseorang yang bernama Bahar.
Pada akhirnya tiga sekawan menemui Pak Asep, Pak Asep adalah seorang marbot di sebuah masjid yang sering dikunjungi oleh Bahar, kota ini merupakan kota terakhir bagi Bahar. Tiga sekawan pun mengira akan menemui Bahar, namun endingnya sungguh mengharukan. Di sini Bahar mempunyai warung makan bernama istrinya. “Bahar baik, suka bersedekah”, kata Pak Asep.
Begitulah kisah Bahar di novel ini, ternyata Bahar melakukan ini karena sudah ditanamkan janji kepadanya oleh Buya, sebelum Bahar terusir di sekolah agama karena kenakalannya. Memang tiga sekawan tidak bertemu murid Buya secara langsung, tetapi tiga sekawan mendengarkan cerita keseluruhannya dari Pak Asep.
Kelebihan buku:
Menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga novel ini cocok dibaca untuk segala usia. Selain mengandung hikmah dan pelajaran yang sangat menyentuh, Tere Liye juga menyelipkan humor dalam novel ini untuk menyegarkan bacaan.
Nasihat yang tersimpan dalam buku ini, penulis berusaha merangkumkan dalam beberapa kalimat, yaitu belajar menghormati tetangga yang ada di sekitar kita, melindungi orang yang sedang teraniaya, bersikap jujur dalam kondisi apa pun yang sedang kita hadapi, bersabar setiap mendapat ujian yang diberikan Tuhan kepada diri kita, dan belajar untuk rajin bersedekah kepada orang yang membutuhkan uluran bantuan dari tangan kita yang memiliki rezeki yang berlebih. Semoga pesan yang disampaikan penulis dapat diterima dan diterapkan oleh para pembacanya.
Kekurangan buku:
Penyebutan nama daerah atau kota dalam novel yang kurang spesifik, hingga pembaca menebak-nebak di mana latar cerita dalam novel ini. (ykib/husnun).
Identitas Buku
Judul : Janji
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Sabakgrip
Tahun Terbit : 2021
Jumlah Halaman : 486 Halaman
Genre : Fiksi Drama, Petualangan (Aksi), dan Slice of Life (Penggalan Kehidupan)
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Kota Bojonegoro

