*Oleh Eka Maya Septianing, S.Pd.
Masa peralihan dari remaja menuju dewasa merupakan fase kehidupan yang penuh tantangan dan perubahan. Pada masa ini seseorang mulai dihadapkan pada berbagai keputusan penting yang berkaitan dengan pendidikan, karier, hubungan sosial, serta pembentukan identitas diri. Tidak sedikit remaja yang merasa bingung, cemas, bahkan kehilangan arah ketika menghadapi fase tersebut.
Buku Titik Menuju Dewasa karya Mulasih Tary dan Devi Ardiyanti hadir sebagai panduan bagi remaja dan dewasa awal untuk memahami proses pendewasaan secara lebih baik. Buku ini membahas berbagai aspek kehidupan yang sering dihadapi pada masa transisi menuju kedewasaan, mulai dari pengenalan diri, berbagai permasalahan yang muncul, langkah-langkah mempersiapkan masa depan, hingga pentingnya menentukan jalan hidup sendiri. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, buku ini mampu memberikan wawasan sekaligus motivasi bagi pembacanya.
Bab pertama membahas konsep Emerging Adulthood, yaitu masa transisi dari remaja menuju dewasa yang umumnya berada pada rentang usia 18–25 tahun. Penulis menjelaskan bahwa pada fase ini seseorang mulai mengeksplorasi identitas diri, menentukan tujuan hidup, membangun kemandirian, dan mempersiapkan masa depan. Adapun ciri-ciri tahap perkembangan emerging adulthood sebagai berikut:
- Identity Exploration (Pencarian Jati Diri)
Tahap ini memungkinkan seseorang untuk melakukan eksplorasi dalam hal cinta, pendidikan, pekerjaan, dan pandangan hidup. Eksplorasi diri dilakukan guna mengenal diri sendiri yang paling mendasar, bagaimana harus bersikap, hal apa saja yang belum diketahui selama ini, hingga melakukan eksperiman untuk menemukan hal baru. Contohnya dalam memandang pekerjaan, sebagai cara untuk menghasilkan uang atau memandang percintaan sebagai kesenangan semata, dan belum memiliki pandangan hidup ke depannya. Setelah melewati fase emerging adulthood, kita mulai sadar bahwa pekerjaan bukan lagi tentang cara menghasilkan uang tetapi cara lain untuk memperoleh pengetahuan, wawasan, keterampilan, dan pengalaman untuk mempersiapkan karier masa depan. Begitupun pada saat memilih pasangan, tidak hanya tentang parasnya tetapi juga memikirkan kriteria pasangan untuk hidup bersama dalam keadaan suka maupun duka, lebih dari sekadar fisik, tetapi secara kematangan berpikir, bagaimana bersikap, isi hati, isi dompet, dan segudang hal baik lainnya. Hal tersebut tidak bisa didapatkan begitu saja. Kita pun harus memantaskan diri dengan cara meningkatkan kualitas diri.
- Instability
Pada tahap ini, individu akan mengalami ketidakstabilan hidup secara akademis dan personal. Menjelang dewasa, kita menginginkan suasana baru di lingkungan baru, karena lingkungan lama sudah mulai membosankan. Kebosanan tersebut muncul karena kita melakukan hal yang sama setiap harinya tanpa didasari pemikiran terbuka, hanya berkutat pada apa yang dihadapi tanpa melihat peluang lain. Alhasil, kita menjadi manusia penunggu, bukan menyegerakan diri untuk melihat banyak hal yang terjadi di lingkungan sekitar.
- Self-focused (Fokus Diri)
Pada tahap ini, kita mulai membuat rencana dalam menjalani aktivitas sehari-hari. To do list sengaja dibuat agar diri lebih terarah dan paham apa saja yang akan dilakukan pada hari itu. Kita mulai mengeksplorasi dan menggali pemahaman lebih mengenai diri sendiri dan mulai membangun fondasi masa depan. Karena masa depan kita bukan di tangan orang lain, melainkan di tangan kita sendiri, sehingga tentukan sekarang agar tahu arah mana yang harus dilewati.
- Feeling in-between
Saat memasuki rentang usia 18-25 tahun, kita merasakan bahwa tidak lagi dianggap sebagai remaja, tetapi kita juga belum siap untuk masuk ke kelompok usia dewasa. Ketidaksiapan tersebut menjadi hal yang menakutkan manakala lingkungan sekitar juga tidak mendukung apa yang sedang kita jalani. Permasalahan, tuntutan, ketidaknyamanan, ketidakstabilan, dan kebimbangan membuat kita lebih waspada lagi untuk dikatakan sebagai dewasa. Kedewasaan tidak hanya terletak dari bagaimana seseorang berbicara, tetapi juga dari bagaimana dia bertindak dalam menghadapi berbagai hal yang menyertainya.
- Harapan
Pada tahap emerging adulthood, ada harapan yang berkembang. Banyak orang sulit berharap lantaran telah mendapati hal yang tidak menyenangkan. Padahal sampai kapan pun, hal tidak menyenangkan akan selalu ada, tetapi tidak selamanya itu menjadi buruk. Harapan yang digaungkan selama ini setidaknya dapat dijadikan sebagai fondasi ke depannya.
Bab kedua mengupas berbagai permasalahan yang sering dihadapi oleh individu pada masa dewasa awal, di antaranya: masalah internal seperti rasa cemas, kurang percaya diri, kebingungan menentukan masa depan, serta krisis identitas. Masalah dengan keluarga, perbedaan pendapat dengan orang tua, orang tua yang terlalu posesif serta senang mengatur, dan tuntutan keluarga. Masalah keuangan, kesulitan mengelola keuangan, tekanan ekonomi, dan pentingnya literasi finansial. Masalah pendidikan, tantangan akademik, pemilihan jurusan, serta tekanan dalam menyelesaikan pendidikan. Worklife, kesulitan mencari pekerjaan, adaptasi di lingkungan kerja, merasa jenuh dengan pekerjaan yang dimiliki, dan tuntutan profesionalitas. Kehidupan percintaan, hubungan interpersonal, komitmen, dan tantangan dalam membangun hubungan yang sehat. Dampak-dampak masalah, penulis menjelaskan bagaimana berbagai masalah tersebut dapat memengaruhi kesehatan mental, produktivitas, serta kualitas hidup seseorang apabila tidak ditangani dengan baik. Seperti sedih dan menyendiri, stres dan cemas berlebihan, kesepian, demotivasi (kondisi mulai kehilangan semangat dalam hidup), dan emosi tidak stabil. Bab ini memberikan gambaran yang sangat dekat dengan realitas kehidupan remaja dan dewasa awal saat ini.
Bab ketiga, siapkan diri menjadi dewasa, mulai dari eksplorasi diri mengenali potensi, minat, dan bakat yang dimiliki. Menentukan tujuan hidup, menetapkan arah hidup agar setiap usaha memiliki tujuan yang jelas. Belajar bertanggung jawab terhadap keputusan dan kebutuhan diri sendiri, mengembangkan karakter positif seperti disiplin, tanggung jawab, open-minded, mampu menerima kritik, dan empati. Buka wawasan seluas mungkin, dengan menambah pengetahuan melalui pendidikan, membaca buku, dan bergaul dengan orang yang memiliki pengalaman lebih. Mengembangkan keterampilan komunikasi, berbicara di depan umum, keterampilan di bidang tertentu, keterampilan mengelola waktu, dan belajar berkomitmen dalam segala hal. Bab ini menjadi bagian yang inspiratif karena memberikan panduan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bab terakhir menekankan pentingnya kesadaran bahwa setiap individu memiliki hak untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan hidup sesuai dengan nilai dan tujuan yang diyakininya. Kesehatan mental menjadi aspek penting yang harus dijaga agar seseorang mampu menghadapi berbagai tantangan hidup secara sehat. Penulis mengajak pembaca untuk tidak terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain karena setiap individu memiliki proses perkembangan yang berbeda. Bab ini memberikan pesan yang kuat tentang penerimaan diri, keberanian mengambil keputusan, dan pentingnya menghargai perjalanan hidup masing-masing.
Sebagai seorang guru, saya menilai buku Titik Menuju Dewasa memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan profesi yang saya jalani. Dalam proses pembelajaran, tugas seorang guru tidak hanya menyampaikan materi akademik, tetapi juga mendampingi peserta didik dalam menghadapi berbagai tantangan perkembangan diri. Dengan buku ini, dapat membantu memahami karakteristik perkembangan remaja yang sedang mencari identitas diri dan menentukan arah masa depan, berbagai permasalahan yang sering dialami remaja, seperti masalah keluarga, pendidikan, rasa percaya diri, dan tekanan sosial. Dalam praktiknya, sering menjumpai peserta didik yang mengalami kesulitan belajar akibat masalah-masalah tersebut. Buku ini dapat membantu memahami bahwa keberhasilan belajar tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan akademik, tetapi juga oleh kondisi psikologis dan lingkungan peserta didik. Dengan demikian, buku ini tidak hanya bermanfaat bagi remaja dan mahasiswa, tetapi juga bagi para pendidik karena memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses perkembangan peserta didik menuju kedewasaan.
Kelebihan buku:
- Mengangkat tema yang sangat relevan dengan kehidupan remaja dan dewasa awal
- Bahasa yang digunakan sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami
- Pembahasan disusun secara sistematis dan runtut
- Membahas berbagai permasalahan yang sering dialami dalam kehidupan nyata
- Memberikan motivasi dan solusi yang aplikatif.
Kekurangan buku:
- Beberapa pembahasan masih bersifat umum sehingga dapat dikembangkan lebih mendalam
- Solusi praktis pada beberapa permasalahan dapat diperluas dengan lebih banyak ilustrasi dan pengalaman nyata. (ykib/maya).
Identitas Buku
Judul Buku : Titik Menuju Dewasa
Penulis : Mulasih Tary dan Devi Ardiyanti
Penerbit : Checklist Media
Tahun Terbit : 2024
Jumlah Halaman : 146
Genre : Pengembangan Diri (Self-Improvement) dan Motivasi
*Penulis resensi buku adalah Kepala Kampung Ilmu Cepu

