Oleh Rita Anggraeni, S.S.,M.A.
Nur Sutan Iskandar memiliki nama asli Muhammad Nur. Layaknya lelaki Minangkabau, ia mendapat gelar Sutan Iskandar setelah menikah. Nur Sutan Iskandar merupakan sastrawan Angkatan Balai Pustaka. Setelah menamatkan sekolah rakyat pada tahun 1909, Nur Sutan Iskandar bekerja sebagai guru bantu. Pada tahun 1919, ia bekerja di Balai Pustaka sebagai korektor naskah karangan. Akhirnya ia ditunjuk sebagai Pimpinan Redaksi Balai Pustaka, kemudian menjadi Kepala Pengarang Balai Pustaka. Nur Sutan Iskandar tercatat sebagai sastrawan terproduktif di angkatannya. Dalam waktu 20 tahun, ia telah menulis lebih dari 20 judul novel. Karyanya yang terkenal antara lain, Apa Dayaku Karena Aku Perempuan (1923), Cinta yang Membawa Maut (1926), Salah Pilih (1928), Tuba Dibalas dengan Susu (1933), Neraka Dunia (1937), Pengalaman Masa Kecil (1949), Ujian Masa (1952), dan masih banyak lagi. Selain mengarang karya asli, ia juga menyadur dan menerjemahkan buku-buku karya pengarang asing, salah satunya adalah buku Abu Nawas.
Abu Nawas merupakan salah satu cerita dari Kisah Seribu Satu Malam. Cerita ini mengisahkan kecerdikan seorang Parsi bernama Abu Nawas yang mampu memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi di luar akal pikiran. Cerita Abu Nawas telah berulang kali dicetak, tetapi masih banyak kalangan yang menyukainya. Abu Nawas di kalangan masyarakat Indonesia terkenal sebagai seorang yang jenaka. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa sebenarnya Abu Nawas adalah seorang penyair Arab ulung. Abu Nawas banyak menulis karangan yang mengandung kiasan dan sindiran yang tajam dan kasar. Ia mengkritik semua kalangan tanpa ada rasa takut. Kepandaian dan keberaniannya inilah yang akhirnya mengancam jiwanya. Ia kerap kali disiksa dan dianiaya oleh orang yang merasa tersinggung oleh syairnya atau leluconnya.
Buku ini berisi 20 kisah lucu Abu Nawas bersama Harun Ar Rasyid, di antaranya adalah Abu Nawas dengan Bapaknya, Abu Nawas dengan Anak Mesir, Enam Ekor Lembu yang Pandai Berkata-Kata, Abu Nawas Menjual Sultan Harun Ar Rasyid, Abu Nawas Sakit Hendak Bersalin, Pukul Menjadi Dinar, Menteri Sultan Harun Ar Rasyid Bertelur, Tipu Dibalas dengan Tipu, Abu Nawas akan Disembelih, dan masih banyak lagi.
Judul Enam Ekor Lembu yang Pandai Berkata-Kata menceritakan tentang Sultan Harun Ar Rasyid yang memanggil Abu Nawas untuk menghadapnya. Abu Nawas terkenal sangat cerdik dan banyak akal, sehingga baginda hendak mengujinya. Baginda raja meminta Abu Nawas untuk mendatangkan enam ekor lembu yang pandai berkata-kata dan yang berjanggut dalam waktu tujuh hari. Apabila tidak bisa mendatangkan keenam binatang tersebut, ia akan dibunuh oleh pengawalnya. Meskipun permintaan baginda tidak masuk akal, tetapi Abu Nawas tetap menyanggupinya. Setelah diberi ujian oleh baginda raja, Abu Nawas pulang dan berdiam diri, tidak keluar dari rumah sekalipun.
Setelah sampai pada hari yang dijanjikan, ia baru keluar menuju ke pangkalan orang nelayan. Di tengah jalan, ia bertemu dengan orang-orang yang berjalan ke pangkalan itu dan bertanya, “Hai orang muda! Hari ini hari apa?” Setelah mendengar jawaban para nelayan, Abu Nawas menahan enam orang berjenggot yang jawabannya salah. Keesokan harinya Abu Nawas beserta keenam nelayan yang berjanggut tersebut menghadap sang baginda raja. Baginda raja heran dengan Abu Nawas dan bertanya, “Hai, Abu Nawas, apa yang engkau tunjukkan kepadaku ini?” Abu Nawas menjawab, “Ya Tuanku Syah Alam, tanyakanlah kepada mereka itu hari apakah sekarang ini.” Setelah baginda menanyai mereka, jawaban mereka berbeda-beda semua. Kemudian Abu Nawas berkata, “Jikalau mereka manusia, tahulah mereka akan nama hari itu. Apabila Tuanku tanyakan hari yang lain-lain, tentu bertambah-tambah tiada diketahuinya. Manusiakah atau binatangkah yang demikian itu? Inilah lembu yang pandai berkata-kata, serta berjanggut, ya, Tuanku.” Sultan Harun Ar Rasyid heran dengan kecerdikan Abu Nawas. Ia pun melepaskan Abu Nawas dan memberikan hadiah uang lima ribu dinar kepadanya.
Judul Abu Nawas dengan Lumpang Batu menceritakan tentang baginda raja yang hendak menipu Abu Nawas. Baginda meminta Abu Nawas untuk menjahit lumpang batu miliknya yang terbelah menjadi dua. Meskipun permintaan baginda raja mustahil untuk dilakukan, tetapi Abu Nawas tetap menyanggupinya. Sesampainya di rumah, Abu Nawas mencari batu kecil-kecil yang serupa dengan batu lumpang milik baginda. Keesokan harinya, Abu Nawas menghadap raja sambil membawa sebakul batu kecil yang dikumpulkannya. Baginda penasaran dan bertanya apa yang dibawa oleh Abu Nawas. Ia pun menjawab, “Patik mohonkan ampun ke bawah duli Syah Alam. Patik minta tolong kepada yang Dipertuan akan memintalkan patik benang daripada batu ini, akan menjahit batu lumpang Tuanku yang pecah itu. Patik sendiri tiada tahu membuat benang itu. Insya Allah jika sudah jadi benang itu, boleh patik jahit lumpang Tuanku. Akan tetapi, kalau tiada jadi, mana titah Tuanku patik junjung.” Baginda pun menjawab, “Siapa pula yang dapat membuat batu kecil-kecil ini menjadi benang?” Abu Nawas menjawab, “Jikalau lumpang batu dijahit dengan benang saja, mana bisa, melainkan batu itu harus dijahit dengan benang batu pula, baru dapat.” Mendengar jawaban cerdik Abu Nawas, baginda merasa heran dan tidak bisa berkata-kata lagi. Baginda mengakui bahwa Abu Nawas memang bukan sembarang orang, ia cerdik dan banyak akal.
Kisah selanjutnya yang menggambarkan kecerdikan Abu Nawas berjudul Abu Nawas Menjadi Raja Sesaat Saja. Kisah ini menceritakan tentang pertanyaan jebakan raja kepada Abu Nawas. Raja bertanya, “Hari ini Allah apa kerjanya, bintang di langit berapa banyaknya dan lagi di mana pertengahan bumi ini?” Abu Nawas menjawab, “Mohon ampun ke bawah duli Syah Alam! Insya Allah, sedapat-dapatnya patik beri jawabnya. Akan tetapi lebih dahulu patik mempunyai permintaan ke bawah duli Syah Alam. Jikalau Tuanku bertanyakan hal itu, padahal tiada boleh patik jawab ada sebarang tempat, maka jika duli Syah Alam berkenan, mohon baginda turun dari atas takhta kerajaan barang sesaat saja dan nanti patik duduk pada tempat Tuanku itu.” Kemudian, baginda turun dari singgasananya dan digantikan oleh Abu Nawas. Kemudian menjawab, “Adapun pada hari ini, pada waktu ini dan sekarang ini, inilah pekerjaan Allah, yaitu menurunkan baginda dari kerajaannya dan menaikkan patik yang hina ini ke tempat baginda.
Jikalau Tuanku hendak tahu banyaknya bintang di langit, baiklah patik terangkan.” Kemudian ia megambil sehelai kulit kambing, ia berkata, “Hitunglah bulu kulit kambing ini, Tuanku!” baginda menjawab, “Siapakah yang mampu menghitung bulu kambing itu?” Abu Nawas pun menjawab, “Bintang di langit itu pun demikian juga, Tuanku. Siapakah yang dapat menghitungnya, melainkan Allah yang tahu akan banyaknya itu.” Untuk pertanyaan di mana letak pertengahan dunia ini, Abu Nawas mengambil sebatang tombak dari tangan pengawal, dan dicocokkannya di hadapan raja, lalu menjawab, “Inilah Tuanku, pertengahan dunia itu, tiada salah barang sedikit pun. Jikalau Syah Alam tiada percaya, boleh Tuanku menyuruh rakyat mengukur panjangnya ke Barat dan ke Timur. Baginda menjawab, “Siapa pula yang bisa mengukurnya? “Sebab itulah maka patik tunjukkan kepada Syah Alam pertengahan dunia itu: inilah dia.”, jawab Abu Nawas. Mendengar jawaban-jawaban Abu Nawas yang cerdik ini, membuat baginda raja semakin kagum dan mengakui kecerdikan dan kebijaksanaan Abu Nawas.
Buku ini menggunakan bahasa melayu yang sulit difahami dalam sekejap, sehingga membutuhkan waktu untuk memahami ceritanya. Namun, dari segi isi ceritanya, buku ini cocok untuk anak kecil hingga dewasa karena ceritanya lucu dan menghibur. Buku ini patut dibaca karena mengajarkan kepada kita agar tidak khianat dalam melaksanakan amanah dan tugas. Selain itu, mengajarkan untuk selalu berpikir dahulu sebelum bertindak. (*/ykib)
Identitas Buku:
Judul Buku : Abu Nawas
Pengarang : Nur Sutan Iskandar
Penerbit : PT Balai Pustaka (Persero)
Tahun Terbit : 2011 (Cetakan Ketiga Lima)
Tebal Halaman: 127 halaman
ISBN : 979-407-096-3
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

