Bule juga Manusia : Melihat Indonesia dari Si Bule Rasa Lokal

Oleh Setia Adi Nugraha, M.Li.

Bukune, salah satu penerbit yang gemar menerbitkan cerita ringan, jenaka, namun tetap memiliki nilai kehidupan kembali menerbitkan sebuah karya milik seorang Bule nyentrik asal Australia yang merasa dia lebih Indonesia daripada orang Indonesia asli yakni Richard Miles. Penulis yang akrab disapa Richard namun lebih sering dipanggil “Bule Ngehe” ini mengemas berbagai macam pengalamannya mulai dari mengapa dia memilih bahasa Indonesia saat SMA hingga pengalaman sedihnya saat (maaf) berak di toilet tradisional ala Indonesia ini dengan bahasa yang ringan dan khas, sehingga 167 halaman dalam buku ini terasa seperti makan cemilan favorit saat nonton film, renyah dan membuat ketagihan.

Diawali saat dia masuk SD dan itulah dia pertama kali berjumpa dengan bahasa Indonesia, si Bule ini belum menyadari bahwa garis nasibnya akan membawanya berjumpa dengan banyak pengalaman dengan salah satu pelajaran bahasa asing di Australia tersebut.

Honestly, dulu gue biasa-biasa saja dengan pelajaran bahasa Indonesia. Apalagi gara-gara ada guru yang galak, gue sempat nggak suka dengan pelajaran ini,” tulis Richard di masa-masa awal dia berjumpa dengan bahasa Indonesia. Siapa sangka Tuhan memutarbalikkan semuanya, dan saat dia masuk SMA, dia kembali berjumpa dengan bahasa Indonesia dan dari situlah rasa penasaran akan Indonesia dimulai.

Dalam tulisan Richard Miles, saya terbenam dalam imajinasi saya dan terasa menonton langsung kekocakannya dalam menghadapi berbagai macam culture shock yang harus dia hadapi, apalagi di Indonesia semua orang asing pasti dipanggil “Bule”.  Salah satu hal yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah saat Richard berada di Makassar dan ingin (maaf) buang hajat. Untuk diketahui, orang Australia dibesarkan dengan cara menggunakan tisu untuk membersihkan diri setelah buang hajat, sementara di Indonesia, cebok menggunakan tangan dan air hukumnya wajib. Kekocakan dimulai saat dia harus cebok menggunakan gayung, tangan, dan air.

“Gue putus asa dan pelan-pelan mulai memakai tangan gue sebagai tisu toilet. Ini najis. Saat itu, gue pengin nangis,” ungkapnya.

Bisa dibayangkan seorang Bule yang biasa hidup cebok dengan tisu seumur hidup harus dan menggunakan gayung, air, dan tangan sebagai alat untuk “bersih-bersih”. Apalagi dia menggunakan tangan kanan yang notabene tangan yang haram untuk cebok di kalangan masyarakat Indonesia tercinta ini. Sungguh saya terpingkal-pingkal saat membayangkan Richard saat cebok dengan tangan untuk pertama kalinya seumur hidup.

Sebagai buku nonfiksi, saya cukup terhibur dan merasa oke dengan karya milik Richard ini, ditambah dia ternyata berkawan dengan Raditya Dika yang notabene seorang penulis juga. Sehingga pengalaman yang dibawakan oleh tulisan Richard terasa mengalir dan mudah membawa para pembaca menikmati kekonyolan Richard.

Mungkin bagi sebagian orang merasa, “mengapa Bule ini memakai gue sebagai pengganti aku atau saya?,” bagi saya ini bukanlah sesuatu yang mengherankan karena dia ternyata lulusan Bahasa Indonesia dan Sejarah Modern dari the University of Adelaide ditambah dia sudah wara-wiri cukup lama di Indonesia bersama teman-temannya yang asli Indonesia.

Buku ini layak dibaca bagi yang sedang dilanda kesenduan atau penasaran dengan bagaimana seorang Bule atau orang asing dalam menghadapi culture shock di negara orang. (*/ykib).

Identitas buku

Judul               : Bule juga Manusia

Penulis             : Richard Miles

Penerbit           : Bukune

Cetakan           : Kedua, Desember 2010

Tebal Buku      : 167 halaman

ISBN               : 602-8066-80-X

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *