*Oleh Lastri Sulistiani, S.Pd.
Ada buku yang selesai dibaca lalu segera dilupakan. Namun, Cantik Itu Luka bukan termasuk di antaranya. Novel karya Eka Kurniawan ini terasa seperti sebuah cerita yang sengaja mengajak pembacanya masuk ke tempat yang tidak nyaman, tempat ketika cinta bercampur dengan kekerasan, keluarga bercampur dengan luka, dan sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk yang rapi.
Cerita berpusat pada Dewi Ayu, seorang perempuan yang hidup dalam keadaan yang jauh dari mudah. Pada masa pendudukan Jepang, ia dipaksa menjalani kehidupan sebagai pelacur. Dari kehidupan tersebut lahirlah empat anak perempuan. Tiga anaknya memiliki kecantikan yang membuat mereka dikagumi banyak orang, sedangkan anak keempat justru lahir dengan rupa yang sangat buruk. Anehnya, anak itu diberi nama “Cantik”.
Bagi saya, bagian inilah yang membuat judul novel terasa menarik. Kata “cantik” di dalam cerita tidak hanya berbicara tentang wajah. Kecantikan justru seperti sesuatu yang membawa konsekuensi. Anak-anak perempuan Dewi Ayu tidak hanya menerima pujian karena wajah mereka, tetapi juga harus menghadapi dunia yang sering memandang perempuan dari tubuh dan penampilannya.
Hal yang paling menarik adalah cara Eka Kurniawan membangun dunia ceritanya. Peristiwa yang seharusnya terasa mustahil dapat muncul begitu saja dan diceritakan dengan nada yang hampir biasa. Contohnya, novel dibuka dengan peristiwa Dewi Ayu yang bangkit dari kubur setelah meninggal selama dua puluh satu tahun.
Bagi saya, pembukaan tersebut seperti peringatan kepada pembaca, jangan membaca novel ini dengan harapan semuanya akan berjalan masuk akal. Di dalamnya ada sejarah, kehidupan keluarga, kisah cinta, kekerasan, mitos, kematian, bahkan humor yang muncul di tengah situasi yang sebenarnya menyedihkan.
Tokoh Dewi Ayu sendiri menjadi salah satu kekuatan terbesar novel ini. Ia bukan tokoh perempuan yang digambarkan lemah dan selalu membutuhkan pertolongan. Ia justru keras kepala, berani, sinis, dan memiliki cara berpikir yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Bahkan ketika melahirkan anak keempat, ia berharap anak tersebut memiliki rupa yang buruk karena ia sudah melihat sendiri bagaimana kecantikan dapat membawa persoalan bagi anak-anak perempuannya.
Selain Dewi Ayu, Rosinah juga meninggalkan kesan kuat. Meskipun ia tidak dapat berbicara, ia justru menjadi sosok yang banyak memahami keadaan Dewi Ayu. Ia merawat Si Cantik dan tetap berada di samping Dewi Ayu dalam berbagai keadaan. Hubungan keduanya menunjukkan bahwa kedekatan tidak selalu membutuhkan percakapan panjang, terkadang perhatian dan kesetiaan justru berbicara lebih keras daripada kata-kata.
Novel ini juga membawa pembaca melewati berbagai periode sejarah Indonesia. Perang dan penguasaan Jepang menjadi bagian penting dari perjalanan hidup para tokohnya. Namun, sejarah dalam novel ini tidak disajikan seperti buku pelajaran. Sejarah hadir melalui nasib manusia yang harus menjalani kehidupan di tengah kekacauan zaman. Karena itu, saya merasa bahwa membaca Cantik Itu Luka bukan hanya mengikuti kisah sebuah keluarga, tetapi juga melihat bagaimana peristiwa besar dapat meninggalkan bekas panjang pada kehidupan orang-orang biasa.
Kelebihan buku:
Kelebihan utama novel ini menurut saya terletak pada karakter tokohnya yang kuat. Setiap tokoh memiliki persoalan dan kepribadian yang membuat mereka tidak terasa seperti sekadar pelengkap cerita.
Selain itu, cerita memiliki alur yang luas dan berlapis. Hubungan antar tokoh tidak berhenti pada satu generasi. Peristiwa yang terjadi pada orang tua dapat memberikan dampak kepada anak dan bahkan keturunannya.
Bahasanya juga memiliki ciri khas. Eka Kurniawan tidak takut menggunakan kalimat yang kasar, lucu, maupun mengejutkan ketika memang dibutuhkan oleh cerita. Hasilnya adalah sebuah novel yang terasa liar, tetapi tetap memiliki arah.
Kekurangan buku:
Di sisi lain, novel ini bukan bacaan yang ringan. Banyak tokoh muncul dengan hubungan keluarga yang saling berkaitan sehingga pembaca perlu mengingat nama dan hubungan antartokoh dengan baik.
Beberapa bagian juga mengandung kekerasan dan persoalan seksual yang cukup berat. Karena itu, novel ini menurut saya lebih cocok untuk pembaca yang sudah siap menghadapi tema dewasa dan cerita yang tidak selalu nyaman.
Kesimpulan:
Menurut saya, Cantik Itu Luka merupakan novel yang tidak hanya menceritakan kehidupan sebuah keluarga, tetapi juga menggambarkan bagaimana sejarah, kekerasan, cinta, dan persoalan tentang kecantikan dapat memengaruhi kehidupan seseorang dari generasi ke generasi. Novel ini memiliki cerita yang kompleks dengan tokoh-tokoh yang kuat dan memiliki karakter yang berbeda-beda. Perpaduan antara sejarah, realisme, humor, dan unsur absurd membuat cerita terasa unik serta tidak mudah ditebak.
Meskipun cukup tebal dan memiliki banyak tokoh serta hubungan keluarga yang rumit, novel ini tetap menarik untuk diikuti. Saya merasa bahwa kekuatan terbesar novel ini terletak pada cara Eka Kurniawan menyampaikan persoalan yang berat dengan gaya bahasa yang berani, dan terkadang menghibur. Novel ini juga membuat saya berpikir bahwa kecantikan tidak selalu menjadi sesuatu yang membawa kebahagiaan. Dalam cerita ini, kecantikan justru dapat menjadi sumber masalah ketika seseorang dinilai hanya berdasarkan penampilan.
Secara keseluruhan, Cantik Itu Luka adalah novel yang meninggalkan kesan kuat dan membuat pembacanya memikirkan kembali tentang keluarga, perempuan, cinta, kekerasan, serta dampak sejarah terhadap kehidupan manusia.
Rekomendasi:
Saya merekomendasikan novel Cantik Itu Luka kepada pembaca yang menyukai karya sastra dengan cerita yang kompleks, tokoh yang kuat, serta perpaduan antara sejarah dan unsur fantasi atau absurditas. Novel ini juga cocok bagi pembaca yang ingin membaca cerita yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak untuk berpikir dan melihat suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda.Namun, novel ini kurang cocok bagi pembaca yang mencari bacaan ringan karena ceritanya cukup panjang dan mengandung tema kekerasan serta persoalan seksual yang berat. Oleh karena itu, novel ini lebih tepat dibaca oleh pembaca yang sudah siap menghadapi tema dewasa dan cerita yang cukup kompleks.
Bagi saya, Cantik Itu Luka layak dibaca karena menawarkan pengalaman membaca yang berbeda. Novel ini mungkin tidak selalu membuat pembacanya nyaman, tetapi justru dari ketidaknyamanan tersebut muncul banyak hal yang dapat direnungkan. (ykib/ani).
Identitas Buku
Judul Buku : Cantik Itu Luka
Penulis : Eka Kurniawan
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit : Mei 2004 (Cetakan Pertama)
Jumlah Halaman : 505 Halaman
Genre : Fiksi/Sastra
*Penulis resensi buku adalah guru Kampung Ilmu Padangan

