*Oleh Ida Laelatur Rosidah, S.Pd.
Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu karya J.S. Khairen merupakan kisah fiksi keluarga yang menyentuh hati dan menghangatkan jiwa. Melalui novel ini, J.S. Khairen menggambarkan potret kehidupan keluarga sederhana dari Sumatra Barat yang berjuang menghadapi kerasnya realita ekonomi, namun tetap dipenuhi semangat pantang menyerah dan kasih sayang. Cerita dalam novel ini berfokus pada dua tokoh utama, Zenna yang tumbuh di lereng Gunung Singgalang dan Asrul yang berasal dari lereng Gunung Marapi, bersama adiknya, Irsal.
Di lereng Gunung Marapi, Asrul tumbuh bersama adiknya, Irsal, dan ibunya (Umi). Kehidupan keluarga Asrul terguncang setelah sang Bapak menikah lagi dan memilih tinggal bersama istri keduanya. Akibatnya, Umi, Asrul, dan Irsal harus pindah ke rumah sederhana peninggalan orang tua Umi dan berjuang hidup mandiri. Sejak usia muda, Asrul dan Irsal sudah terbiasa bekerja keras membantu Umi mencari nafkah, mulai dari berjualan kayu bakar di pasar hingga merantau sejak SMP dan membantu Bapaknya berjualan kayu manis di kota.
Setiap kali bertemu sang Bapak, Asrul kerap memperhatikan dompet kulit kusam milik Bapaknya yang selalu terselip aroma kayu manis. Meski kehidupan Bapaknya pas-pasan dan hanya sesekali memberi uang, Asrul tidak pernah memegang uang untuk dirinya sendiri karena setiap rezeki yang didapatkan selalu ia serahkan kepada Umi. Pengalaman itu menanamkan tekad kuat dalam diri Asrul untuk bekerja keras agar kelak bisa membelikan rumah yang layak untuk Umi serta mengangkat derajat keluarganya.
Sementara itu, di lereng Gunung Singgalang, Zenna lahir sebagai anak keenam dari sebelas bersaudara. Zenna terbiasa berjalan jauh menaiki dan menuruni gunung dengan sepatu rombeng lungsuran sambil membawa jagung rebus untuk dijual demi membiayai sekolah dan adik-adiknya. Sebelum meninggal dunia, sang Abak pernah berjanji akan membelikan sepatu baru untuk Zenna. Namun, takdir berkata lain Abak berpulang sebelum janji itu terwujud. Janji sepatu baru tersebut menjadi pemicu semangat Zenna untuk mandiri dan bertekad membeli sepatu baru dari hasil keringatnya sendiri.
Perjuangan gigih membawa Asrul dan Zenna bertemu di bus saat hendak mengikuti seleksi ujian masuk perguruan tinggi di Padang. Persahabatan mereka berkembang seiring perjuangan hidup di rantau. Asrul mulai meniti karier dari bawah sebagai anak magang dan wartawan di koran Harian Semangat sambil terus didampingi Irsal dalam berbagai urusan keluarga, sedangkan Zenna bekerja keras di toko sepatu sambil membiayai kuliahnya sendiri serta mengirim uang untuk keluarganya di kampung.
Setelah melalui berbagai rintangan finansial, cobaan penyakit, hingga musibah bencana alam banjir dan longsor di kampung halaman, Asrul dan Zenna akhirnya menikah. Mereka membangun kehidupan rumah tangga dari petakan kamar sederhana dekat mesin cetak koran hingga akhirnya mampu mengontrak rumah dan memboyong kedua ibu yaitu Umi dan Umak tinggal bersama.
Pengorbanan dan keteguhan hati pasangan ini berlanjut dalam membesarkan anak-anak mereka yang tumbuh dengan melihat langsung perjuangan luar biasa orang tuanya. Simbol “Dompet Ayah” dan “Sepatu Ibu” menjadi benang merah utama yang melambangkan pengorbanan tak bertepi seorang ayah dalam memikul beban keluarga serta ketangguhan seorang ibu yang tidak lelah melangkah demi masa depan anak-anaknya. Novel ini diakhiri dengan kisah emosional yang menyampaikan pesan moral mendalam tentang ketulusan, pentingnya menghargai waktu bersama orang tua, dan arti sejati dari sebuah rumah.
Kelebihan dari Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu:
- Novel ini mengandung pesan moral yang mendalam tentang kerja keras, kedisiplinan, kemandirian, kekeluargaan, serta pentingnya berbakti dan menghargai pengorbanan orang tua.
- Novel ini memiliki cerita yang menarik dan menyentuh karena menggambarkan perjuangan keluarga dalam menghadapi berbagai masalah kehidupan.
- Tokoh dalam novel terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga pembaca mudah memahami perasaan dan permasalahan yang dialami tokoh.
Kekurangan dari Novel Dompet Ayah Sepatu Ibu:
- Bahasa yang digunakan dalam novel ini sulit dipahami karena terdapat penggunaan bahasa daerah dan istilah tertentu yang tidak disertai arti pada catatan kaki.
- Alur cerita dalam novel terasa cukup cepat, terutama pada perubahan usia tokoh yang terjadi dalam waktu singkat, sehingga pembaca harus lebih teliti agar tidak bingung saat membaca. (ykib/ida).
Identitas Buku
Judul Buku : Dompet Ayah Sepatu Ibu
Penulis : J.S. Khairen (Jombang Santani Khairen)
Penerbit : PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
Tahun Terbit : 2023
Tebal Halaman : 216 halaman
Genre : Fiksi
ISBN : 9786020530222
*Penulis resensi buku adalah Wakil Kepala Kampung Ilmu Purwosari

